
Selamat Membaca ~
“ Thomas Alfredo tidak ditemukan, Tuan! “ lapor anak buah Sean dengan napas terengah – engah.
Sean, Ben, Rendra, dan Andreas pun saling pandang.
Di saat yang sama, di kompleks pertokoan milik Nia ~
Beberapa tukang renovasi sedang menyelesaikan pekerjaan mereka. Sementara Nia dibantu Andra dan Jessie sedang membereskan perlatan di lantai dua studio. Andra dan Jessie sudah diperingatkan untuk tidak meninggalkan Nia walau hanya sedetik. Jadi mereka tetap menempel pada Nia ke mana pun Nia pergi.
“ CCTV sudah terpasang semua kan? “ tanya Nia sambil mengamati buku notes yang berisi chek list to do.
“ Sudah Nona, “ jawab Andra seraya beranjak dari duduknya.
“ Apakah sudah bisa merekam dan mengawasi? “ tanya Nia lagi.
“ Sudah Nona, bahkan Nona bisa mengaksesnya dari ponsel Nona. “ jawab Andra lagi.
“ Benarkah? Bagaimana caranya? “ tanya Nia antusias.
“ Mari saya ajarkan Nona, “ ucap Jessie.
Jessie paham bahwa Rendra tidak menolerir Andra mendekati Nia apapun alasannya. Yah, mengingat hasil pantauan cctv ini juga bisa diakses Rendra langsung dari ponselnya.
Jessie menunjukkan langkah – langkah untuk mengetahui pemantauan hasil cctv melalui ponsel kepada Nia. Sementara Andra berjalan mendekati arah jendela, mengawasi keadaan sekitar. Baru saja Ia mendapat pesan red code dari Anton sehingga Ia meningkatkan kewaspadaannya.
Tiba – tiba terdengar keributan di lantai satu karena salah seorang pegawai wanita berteriak. Sontak Nia menuju lantai satu diikuti oleh Jessie dan Andra.
Betapa terkejutnya Nia karena saat ini ada seseorang yang berusaha menyandera karyawannya. Ia tidak mengenali laki – laki bertubuh berisi itu. Kenapa dia bisa lolos masuk?
Nia yang baru saja turun dari lantai dua berusaha menenangkan pelaku agar kemudian Ia mau melepas karyawan yang sedang Ia sandera.
“ Tenang, kita bisa bicarakan ini baik – baik. “ ucap Nia.
Nia berjalan mendekat ke arah si penyandera, berusaha menenangkan. Baru berjalan beberapa langkah dari tangga, seseorang muncul dari balik pot hias berukuran besar dan segera menangkapnya. Thomas Alfredo! Dia ada di sini!
Andra dan Jessie seketika panik. Bagaimana tidak, Thomas Alfredo tidak hanya menangkap dan menahan tubuh Nia dengan tangannya, tapi juga mengarahkan pisau ke arah leher Nia. Salah bergerak sedikit saja, bisa – bisa kulit leher Nia tergores. Nyawa mereka juga bisa melayang. Membayangkan amarah Rendra yang akan mereka hadapi saja sudah membuat mereka ketakutan.
Andra berusaha mendekat ke arah Thomas Alfredo dengan diam – diam, namun ternyata Thomas tetap bisa mengawasi pergerakannya.
“ Diam di sana kau! Satu sentimeter saja kau berpindah, kusayat leher gadis ini! “ ancam Thomas sambil menarik kepala Nia hingga posisi kepala Nia menjadi ke atas.
Sontak Andra terdiam membeku. Bagaimana ini, Tuan Anton sudah memberikan kode dan aku tetap lalai. Sudah cukup sekali aku melakukan kesalahan kemarin, tidak dengan kali ini! Gumam Andra.
“ Apa yang baru saja kau katakan?! “ tanya Thomas dengan nada membentak.
“ Tidak ada. “ sahut Andra singkat, tatapan matanya masih mengarah kepada Thomas yang masih saja mengarahkan mata pisau di leher Nia.
Jessie berusaha membaca situasi, berapa jumlah orang yang ada di dalam ruangan ini. Berapa orang lagi yang kira – kira adalah anak buah Jason yang sedang menyamar. Saat ini Thomas sedang menyandera Nia, ada dua orang lagi yang membawa senjata di dekatnya.
Thomas berjalan mundur menuju pintu keluar dengan tangannya yang masih menahan tubuh Nia. Pisau pun masih mengarah ke leher Nia. Dua orang anak buahnya pun mengikutinya perlahan.
Nia tetap berusaha tenang, matanya terpejam. Jantungnya terasa berdetak dengan sangat cepat. Ia bisa merasakan panasnya udara yang keluar dari mulut Jason di tengkuknya. Rasa takut perlahan menyelimuti dirinya, hingga tak terasa setetes bulir bening meluncur dari ujung matanya.
Thomas dan dua orang anak buahnya sudah hampir berhasil keluar melalui pintu depan studio milik Nia. Jessie dengan sengaja menjatuhkan sebuah vas bunga hingga menimbulkan suara gaduh dan berhasil mengalihkan perhatian Thomas dan kedua anak buahnya.
Ketika dua anak buahnya mulai lengah, salah seorang agen yang menyamar menjadi tukang renovasi segera menyerang salah satu anak buah Thomas.
Melihat adanya kesempatan, Andra segera berlari membantu agen untuk melumpuhkan anak buah Thomas yang lain. Terdengar riuh teriakan dari karyawan – karyawan Nia.
Thomas yang merasa terdesak semakin memperkuat cengkeramannya pada Nia. Nia mulai sulit bernapas, ia terbatuk – batuk karena cengkeraman Thomas menekan area lehernya.
“ Menyingkir kalian semua! Jika tidak, akan aku goreskan pisau tajam ini ke leher wanita ini. “ gertak Thomas sambil mengangkat pisau yang Ia pegang.
“ Tenang, tenang. Sebut saja apa maumu. Akan kami kabulkan. “ ucap Andra berusaha menenangkan.
Thomas nampak diam sejenak untuk berpikir, kemudian Ia memindahkan posisi pisau ke leher Nia lagi.
“ Beri aku jalan keluar, aku akan bawa gadis ini pergi bersamaku! Setidaknya kalian masih bisa melihatnya hidup, bukan?! “ gertak Thomas lagi.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Sementara itu, beberapa saat sebelumnya di tempat lain ~
“ Tuan, Positif. “ ucap Anton.
Andreas dan Rendra saling bertatapan, kemudian Rendra menganggukkan kepalanya.
Andreas segera melakukan panggilan ke seseorang menggunakan ponselnya, “ Bawa ke sini! “ perintah Andreas.
Tidak lama, sebuah helikopter datang dan turun di area tanah lapang dekat dengan tempat peresmian industri bahan kimia milik Jason. Rendra, Andreas, dan Anton segera menaiki helikopter itu.
“ Cepat! Waktu kita tidak banyak! “ perintah Andreas,
“ Baik Tuan, “ sahut pilot helikopter.
Helikopter itu segera mengudara dan dengan kecepatan tinggi menuju tempat di mana Nia berada saat ini.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Nia mulai menangis, rasa takut sudah berhasil menyelimuti dirinya. Tetes demi tetes air mata lolos dari matanya, tidak dapat Ia tahan.
Andra akhirnya menyetujui permintaan Thomas untuk memberinya akses keluar agar bisa membawa Nia pergi bersamanya
" Baiklah, bawa mobil berwarna silver di depan situ. kunci sudah terpasang di dalamnya. " ucap Andra.
" Dengan catatan, tidak boleh ada goresan sedikitpun pada Nona Karunia. " lanjutnya.
Tanpa menjawab, Thomas berjalan ke arah mobil berwarna silver yang dimaksud Andra. Ia menyeret Nia dengan kasar.
Di saat yang tepat, sebelum Thomas berhasil masuk ke dalam mobil. Helikopter yang membawa Rendra, Andreas, dan Anton tiba.
Melihat itu, Thomas semakin mencengkeram Nia lagi. Saat ini pisau itu benar - benar berjarak tidak sampai 5 sentimeter dari leher Nia.
Rendra turun dari helikopter, disusul Andreas dan Anton. Bahkan Anton segera mengarahkan sebuah senjata api dan diarahkan ke arah Thomas.
" Coba saja! Akan kubunuh gadis ini di depan kalian semua! Akan kubawa dia mati bersamaku! " ancam Thomas dengan kilatan mata penuh amarah.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Halo readers tersayang, jangan lupa dukung penulis dengan cara memberi rate, vote, like, dan komentar.
Mau kasih hadiah juga boleh banget.
Apapun bentuk dukunganmu, sangat berarti untuk penulis ❤