
Selamat Membaca ~
Nia yang tadinya sudah mengantuk seketika kehilangan rasa ingin tidur. Ia sangat terkejut saat melihat pesan singkat yang dikirimkan oleh nomor asing itu.
Ia melihat sarah terikat di sebuah kursi. Mulutnya ditutup dengan ikatan kain tebal berwarna putih, Ia juga sedang menangis.
Sarahku yang kuat, Ia sampai menangis. Ia pasti sangat ketakutan. Apa yang sedang terjadi?
Nia segera menelepon nomor asing itu. Namun, telelponnya tidak kunjung diangkat walau panggilannya tersambung.
Ia mulai cemas, Ia meremas ponselnya. Ia melihat ke arah jam dinding berukuran besar di dinding kamarnya. Sudah jam 10 malam.
Apakah aku telepon Rendra dan Andreas saja? Batin Nia sambil menggigit - gigit ujung jarinya.
Saat Ia mulai membuka kontak di ponsel dan akan menelepon Rendra, nomor asing itu melakukan panggilan video.
Ia segera menjawab panggilan video itu tanpa berpikir panjang.
" Ya? " ucap Nia membuka pembicaraan.
" Kau mencari ini? " terdengar suara berat seorang pria dari seberang sana.
Panggilan video diarahkan ke Sarah yang sedang menangis.
" Sarah! Sarah! " teriak Nia.
Terdengar tangisan Sarah semakin kencang. Sepertinya Ia sedang mengatakan sesuatu namun tidak terdengar jelas karena mulutnya sedang ditutup dengab kain.
" Katakan apa maumu! " seru Nia.
Hatinya sakit melihat Sarah, sahabat yang sudah Ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu menangis dan mendapat perlakuan seperti itu.
Bukannya menjawab, laki - laki itu justru tertawa terbahak - bahak. Ia kemudian mengalihkan panggilan video menggunakan kamera depan.
Laki - laki itu menarik rambut Sarah ke belakang dengan kuat hingga terdengar pekikan tertahan dari Sarah.
" Lepaskan dia! " teriak Nia.
" Kau mau dia selamat? " tanya laki - laki itu.
" Katakan apa maumu! " seru Nia.
Pikirannya kalut, Ia yang terbiasa tenang menjadi sangat emosi ketika melihat Sarah dalam kondisi seperti itu.
" Cepat katakan apa maumu! " bentak Nia.
" Kalau kau mau dia selamat. Datanglah dengan membawa uang tunai sejumlah 1 milyar kemari! " perintah laki - laki bertopeng itu.
Sarah berteriak. Ia menggelengkan kepalanya kuat - kuat, seperti melarang Nia untuk datang kepadanya.
Laki - laki bertopeng itu kemudian menampar pipi Sarah dengan kuat hingga Ia tidak sadarkan diri.
" Apa yang kau lakukan! " teriak Nia histeris setelah melihat Sarah pingsan.
" Jangan kau sentuh dia! " teriaknya lagi.
" Datanglah kemari tanpa pengawalan. Datang seorang diri! " perintah laki - laki bertopeng itu.
" Bawa juga uang itu bersamamu! " perintahnya lagi.
" Bagaimana aku tau aku harus datang ke mana? " tanya Nia.
" Kau akan mendapat telepon dalam waktu 60 menit. Bersiaplah. " jawab laki - laki itu.
" Tapi ingat, sampai kau kedapatan mengajak ataupun memberi tahu orang lain, wanita ini akan menemui ajalnya segera. " ancam laki - laki itu seraya menarik kepala Sarah yang sudah tidak sadarkan diri ke arah belakang.
" Seharusnya kau tau, sangat mudah bagiku untuk melakukan penyadapan pada ponselmu! " ancamnya lagi.
Hati Nia teriris, itu benar - benar Sarah. Ada bekas merah lebam pada pipi dan pelipisnya. Bahkan di ujung bibirnya juga terdapat darah yang sudah mulai mengering. Terlihat pantulan sinar pada wajah Sarah yang basah akibat air mata.
" Aku akan mematuhi semua perintahmu. Asalkan kau tidak sakiti dia lagi! " ucap Nia geram.
Laki - laki itu tertawa terbahak - bahak.
" Bagus, wanita pintar. Sekarang bersiaplah! Dalam waktu 60 menit lagi kau akan segera mendapat intruksi pertamamu. " ucap laki - laki itu kemudian memutus panggilan video.
Nia menangis tersedu - sedu mendapati hal yang baru saja terjadi padanya. Apa yang harus kulakukan? Jika aku beri tahu Rendra ataupun Andreas, nyawa Sarah bisa saja berada dalam bahaya.
Andra dan Jessie juga masih berada di Finlandia. Apa yang aku harus lakukan.
Nia menangis sambil mengusap perutnya.
Ia berjalan sambil sesenggukan ke arah balkon, Ia memperhatikan keadaan mansion. Sepertinya semua penjaga masih bersiaga. Bagaimana caranya aku keluar? Mereka pasti curiga dan akan melarangku keluar.
Ia terduduk lemas di pintu balkonnya. Ia menunduk dan merangkul kakinya.
Sarah, Sarah, Sarah ... Lirih Nia sambil menangis.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Setelah sekitar 20 menit, akhirnya Nia memutuskan untuk bersiap. Ia berganti pakaian dengan pakaian hangat. Ia menyempatkan untuk meminum penguat kandungan dan vitamin yang sudah diresepkan oleh dokter Maria.
Ia memastikan ponselnya dalam keadaan baterai penuh untuk terus bisa menerima intruksi dari si penculik. Ia juga membawa pisau cutter lipat berukuran sangat kecil dan menyelipkan pada bagian bawah sepatunya.
Ia juga membawa sebotol semprotan merica untuk berjaga - jaga. Tak lupa, Ia membawa uang sesuai perintah dari si penculik.
Beruntung, Rendra selalu menyimpan persediaan uang tunai di dalam brankas pribadi miliknya.
" Sayang, maafkan aku. Ini demi menyelamatkan Sarah. Kau pasti memakluminya. " ucap Nia pelan.
Ia melihat ke arah ponselnya, ada pesan masuk dari Rendra.
Rendra \= sayang, apa kau sudah tidur? Jika kau sudah tidur, selamat tidur sayangku. Aku sangat mencintaimu.
Tak terasa bulir bening mengalir dari ujung matanya.
Apakah aku nanti bisa kembali dalam keadaan hidup dan memelukmu lagi, Rendraku?
Apakah aku bisa melihatmu lagi?
Nia sesenggukan sambil melihat ke arah ponselnya. Ia mengetikkan balasan dengan air mata yang masih saja terus mengalir dari ujung netranya.
Nia \= aku sangat mencintaimu. aku ingin terus memelukmu jika sudah waktunya nanti.
Rendra \= sabar ya, lusa aku sudah pulang. peluklah suamimu ini sesukamu.
Nia menangis tersedu membaca pesan singkat terakhir dari Rendra. Apakah aku masih bisa kembali dalam keadaan hidup jika seperti ini?
Ponselnya berdering, nomor asing sedang memanggilnya.
Ia segera menghapus air matanya dan menerima panggilan itu.
" Katakan padaku. " ucap Nia saat ponselnya terhubung.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Halo, maafkan. Kemarin sepertinya sedikit lama di bagian review sehingga proses up episode terhambat.
Terus dukung penulis yah, dengan cara memberi rate, vote, like, dan komentar yaaaah.
Yuk jempolnya, biar penulis semangat terus buat up 馃