Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part. 144 Kehilangan



Selamat Membaca ~


" Katakan bagaimana keadaan istriku dan calon anak kami! " seru Rendra yang sudah tidak dapat membendung isi pikirannya yang kalut.


Tangan kekarnya mencengkeram lengan bagian bawah sang dokter.


" Maafkan kami, Tuan. " sahut sang dokter dengan kepala tertunduk.


" Apa maksudmu?! Kenapa kau meminta maaf?! " Rendra makin mengencangkan cengkeraman tangannya.


" Tenang, Rendra. Tenanglah dulu. " ujar Andreas seraya melepaskan cengkeraman tangan Rendra dari lengan sang dokter.


Jessie dan salah satu agen yang ada di sana ikut cemas mendengar ucapan sang dokter.


" Kenapa diam! Cepat katakan! " Rendra semakin frustasi melihat dokter yang hanya menundukkan kepalanya. Tanpa melanjutkan perkataannya.


" Bagaiman keadaan pasien, dokter? " tanya Andreas lagi.


" Bayi dalam kandungan pasien tidak dapat kami selamatkan. Keadaan ibu yang dehidrasi, terlalu kekurangan gizi, dan kekerasan fisik yang diterimanya membuat bayi dalam kandungannya menyerah untuk bertahan. " akhirnya sang dokter memberi jawaban.


" Ada beberapa titik luka lebam terutama di daerah perut dan wajah ibu. " lanjut dokter.


Rendra seketika lemas mendengar jawaban dari dokter. Andreas menopang tubuhnya agar Ia tetap kuat berdiri. Sedangkan Jessie, Ia hahya bisa menutup mulutnya dengan air mata yang mengalir dari kedua ujung matanya. Jessie tahu betul, Nia sangat bahagia saat mengetahui dia sedang hamil.


" Lalu bagaimana dengan istri saya? " tanya Rendra dengan suara bergetar.


" Perdarahan yang terjadi cukup hebat dan kami sudah memberikan tiga kantong darah kepada pasien. Kami juga sudah melakukan tindakan kuretase pada pasien untuk mencegah adanya jaringan atau bagian yang tertinggal di dalam rahim. " jawab dokter.


" Kondisinya belum stabil. Sepertinya keadaan psikisnya juga terganggu. Pasien sempat mengigau tadi. Pasien berteriak seolah sedang ketakutan." imbuhnya.


Hati Rendra bagai teriris mendengar penjelasan dokter mengenai keadaan Nia. Separah apa perlakuan yang diterima olehnya sampai - sampai Nia menjadi seperti ini. Batin Nia.


" Apakah kami sudah bisa menemui pasien? " tanya Andreas.


" Untuk saat ini belum, karena pasien masih dalam pemantauan intensif kami. Nanti jika pasien sudah dipindahkan ke ruang perawatan, keluarga sudah bisa menemui. " jawab dokter.


" Baik, Dokter. Terima kasih. " sahut Andreas.


Sang dokter dan perawat yang mendampinginya kemudian pamit undur diri meninggalkan Rendra, Andreas, dan Jessie.


Andreas membantu Rendra berjalan kembali ke kursi tunggu. Tubuh Rendra terasa semakin dan semakin berat, hingga Jessie ikut membantu memapah Rendra kembali ke kursi tunggu.


" Saya akan mencari minum untuk Tuan Narendra, " pamit Jessie kepada Andreas.


Andreas membalas dengan anggukan.


" Andreas... " ucap Rendra lirih.


" Kau memerlukan sesuatu? " tanya Andreas.


" Nia.. Sangat berat yang Nia alami saat ini. " lirih Rendra.


" Iya, aku paham. Ini juga sangat berat untukmu. " sahut Andreas.


Suasana hening sesaat. Andreas dan Rendra asik dengan isi pikiran mereka masing - masing.


" Andreas, " panggil Rendra lagi.


" Hm? " sahut Andreas seraya menghadapkan wajahnya ke arah Rendra yang masih menunduk lesu.


" Kita harus bisa membuat Jason menerima balasan seadil - adilnya. " ucap Rendra.


" Tentu saja, aku jamin kali ini dia tidak akan bisa lolos dari hukuman terberat sekalipun. " sahut Andreas.


" Aku akan meminta hasil visum dan mengambi beberapa dokumentasi yang diperlukan sebagai bukti di persidangan nanti. " lanjutnya.


Kemudian keduanya terdiam lagi. Suasana kembali hening setelahnya.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Di rumah sakit kepolisian Phnom Penh, sebuah ruangan perawatan dijaga ketat oleh petugas kepolisian dan juga agen - agen Anton.


" Dia masih belum sadar? " tanya Anton pada Andra yang sedang stand by berjaga di depan ruang perawatan.


" Dia sudah sempat bangun. Tapi sepertinya dia sedang tidur lagi. " jawab Andra.


" Hei, bangun! Aku tau kau berpura - pura tidur. " ujar Anton seraya menarik sebuah kursi.


Jason masih saja menutup matanya rapat - rapat. Ya, dia memang berpura - pura tidur karena terlalu malas meladeni Anton. Dia merasa harga dirinya diinjak habis - habisan oleh Anton.


" Hei, laki - laki usia matang tapi labil! Kau ini mau pura - pura tidur, atau kubuat benar - benar tertidur dan tidak bisa bangun lagi? " ledek Anton.


Jason menggeliat malas, akhirnya Ia membuka matanya pelan - pelan dan berpura - pura menguap.


" Ada apa laki - laki usia kelewat matang? " balas ledek Jason.


" Usiaku kelewat matang, setidaknya aku tidak labil sepertimu. " ledek Anton.


" Aku mau memberimu kabar bahagia. Kau pasti tidak sabar untuk segera mengetahuinya. " ucap Anton.


" Apa itu? " tanya Jason penasaran.


" Benar kan kubilang, kau tidak akan sabar untuk segera mengetahuinya. " sahut Anton.


" Cepat katakan! " seru Jason.


" Kabar bahagia untukmu, adalah... " ucap Anton terputus.


" Apa? Jangan bertele - tele. Cepat katakan! " seru Jason. Ia berharap kabar bahagia yang dimaksud Anton adalah benar - benar kabar bahagia yang sebenarnya.


" Kau... " jawab Anton terputus dengan nada bicara yang dibuat - buat.


" Akan... "


" Mendapat.... "


" Hukuman.... "


" Seumur... "


" Hidup... "


Setelah mengatakan itu, Anton tertawa terbahak - bahak.


Jason geram saat melihat Antin tertawa terbahak - bahak.


" Bodoh! Itu bukan kabar bahagia! " seru Jason.


" Tentu saja itu adalah kabar bahagia. " sahut Anton.


" Menjadi kabar bahagia untukmu, karena kau berhasil membuatku tertawa kali ini. " lanjut Anton kemudian tertawa terbahak - bahak lagi.


" Haha, dasar bodoh! " sahut Jason sinis.


" Kau kira pemerintahku akan membiarkan itu? Mereka akan melindungi aku seperti sebelumnya. " lanjutnya.


" Hahaha, kau seyakin itu rupanya. Ayo kita bertaruh. " ledek Anton.


" Ayo! Jika aku menang, kepalamu akan kupenggal dan kujadikan aksesori untuk kubawa pulang ke Finlandia! " seru Jason.


Mendengar ucapan Jason membuat Anton tertawa terbahak - bahak hingga Ia mengeluarkan air mata di salah satu sudut matanya.


" Kau terlalu pandai berhalusinasi. " ujar Anton.


" Tapi cukup bagus untukmu. Siapa tau nanti di penjara, kau bisa membuka stage stand up comedy. " ledek Anton.


Kemudian Ia bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang perawatan Jason. Ia tertawa terbahak - bahak sampai suaranya hilang karena pintu ruangan tertutup.


Mendengar hinaan Anton, Jason mengumpat dan berteriak - teriak ke arah Anton. Hampir saja Ia bangkit dan berniat menghajar Anton, tapi ljka operasi di pundak dan kakinya membuatnya terpaksa tetap berada di atas tempat tidur.


" Kenapa Anda terlihat sangat bahagia, Tuan? " tanya Andra.


" Hahahaha, " Anton masih tertawa sembari menyeka ujung matanya yang basah. Menangis karena tertawa.


" Ternyata Jason Alexander adalah seorang komika. Dia memiliki bakat stand up comedy. " ucap Anton sambil berlalu.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍