
Di sebuah ruang perawatan rumah sakit ~
Doni tersadar. Penglihatannya masih buram. Ia berusaha mengenali tempat di mana Ia berada saat ini.
Ia menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit. Sepertinya, kepalanya sedang diperban. Batinnya.
Seorang perawat tiba - tiba masuk ke dalam ruangan perawatannya.
" Anda sudah sadar? " tanyanya. " Diam dan tenanglah dulu di sini Tuan, saya akan memanggil dokter. "
Kemudian perawat itu keluar ruangan perawatan. Tak lama, Ia kembali bersama seorang dokter dan seorang rekan perawatnya.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter dan perawat itu kemudian pamit undur diri.
Doni berusaha mengingat apa yang terjadi padanya dan juga Senior Hartawan. Ia bisa mengingat semuanya dengan jelas. Ia harus menghubungi keluarga Senior Hartawan.
Tak lama, seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan dan remaja laki - laki berusia sekitar 18 tahun datang.
" Anda sudah sadar? " tanya wanita itu.
" Nyo... Nyonya.. " ucap Doni lirih.
Wanita itu adalah Renata Hartawan, istri Senior Hartawan. Sedangkan remaja laki - laki itu adalah King Narendra Hartawan, anak dari Senior Hartawan.
" Jangan dipaksa dulu. Tetap berbaring. " ucap Renata sambil menahan posisi Doni agar Ia tetap berbaring.
Doni pun menurut, Ia tetap berbaring. Kepalanya masih terasa sedikit pening.
" Nyonya, maafkan saya. " ucap Doni dengan mata berkaca - kaca.
" Tuan Senior sangat baik pada saya, sudah menganggap saya seperti keluarga. " ucap Doni lagi.
" Sudah sudah, tidak apa - apa. Sudah menjadi takdir beliau. " jawab Renata menenangkan.
" Paman, tapi bisakah paman menolong kami? " tanya Rendra.
" Apa yang bisa saya bantu, Tuan Muda? " tanya Doni sambil menyeka air matanya.
" Tolong bantu kami, Paman adalah saksi kunci dalam kejadian ini. " ucap Rendra.
" Hanya Paman yang bisa membantu kami, karena kamera cctv di area itu mengalami kerusakan saat kejadian. " lanjutnya.
" Baik. Saya bersedia membantu. " ucap Doni.
" Terima kasih, terima kasih. " ucap Renata berlinang air mata.
" Baiklah. Jika begitu, sebaiknya paman berisrirahat lagi saja. " ucap Rendra.
" Aku akan meminta Andreas untuk menambah penjaga di depan. Paman akan aman selama di sini. " ucap Rendra.
" Baik, Tuan Muda. " sahut Doni.
Singkat cerita, saat itu Rendra dan ibunya mengajukan tuntutan kepada beberapa pihak terkait kematian Senior Hartawan.
Mereka meyakini bahwa Senior Hartawan dibunuh terkait penutupan paksa rencana pembangunan industri bahan kimia Angkasa Group.
Selain itu, sikap Senior Hartawan sebagai seorang aktivis lingkungan dan mengecam pihak - pihak yang ikut mendukung berdirinya industri bahan kimia juga dinilai menjadi salah satu motif terjadinya pembunuhan itu.
Berbekal keterangan yang diberikan oleh Doni, Rendra dan Renata menyewa beberapa pengacara terbaik untuk memperkarakan Thomas Alfredo.
Tak lupa, Rendra juga merekam semua keterangan dari Doni sebagai bukti tambahan jika diperlukan. Ia dibantu oleh beberapa pengacara benar - benar telah siap untuk memperkarakan Thomas Alfredo dan juga dalang di balik semua ini.
Ia yakin, Thomas Alfredo tidak bergerak sendiri. Ada orang yang memerintahkan dia untuk melakukan tindakan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak terasa, hari yang dinanti - nanti telah tiba. Thomas Alfredo yang telah ditangkap di kediamannya beberapa saat lalu akan menjalani persidangan pekan depan.
Siang ini, Rendra hendak menjenguk Doni di rumah sakit. Ia juga ingin memastikan keadaan Doni baik dan aman selama masa persiapan persidangan.
Ditemani Andreas, Ia berangkat menuju ke rumah sakit.
" Andreas, kenapa tiba - tiba perasaanku tidak enak ya? " ucap Rendra.
" Apa Anda sedang sakit? " tanya Andreas.
" Tidak, aku merasa baik - baik saja. Hanya saja, firasatku.... " ucap Rendra terputus.
" Tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Jika perlu, kita periksakan kesehatan Anda sekalian. " ucap Andreas.
Rendra terdiam. Ia tidak menjawab. Entah kenapa perasaannya sedang tidak enak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Ia mengingat - ingat semua persiapan untuk persidangan. Ia merasa sudah menyiapkannya dengan sangat baik. Seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Rendra dan Andreas tiba di runah sakit tempat Doni dirawat.
Terlihat beberapa mobil polisi sedang terparkir di dekat rumah sakit. Orang - orang berseragam polisi juga terlihat berlalu lalang di rumah sakit.
" Tenang. Tenanglah. " sahut Andreas sembari memarkirkan mobil di tempat parkir khusus pengunjung rumah sakit.
Setelah mobil berhenti, Rendra segera keluar dan berlari menuju lobby rumah sakit. Ia melihat salah seorang pengawal yang ditugaskan berjaga di depan ruang perawatan Doni sedang berbicara dengan seorang polisi.
" Ada apa ini? " tanya Rendra pada pengawal itu.
Pengawal itu menundukkan kepalanya.
" Selamat siang, saya petugas kepolisian Kota A. " ucap polisi yang tadi sedang berbicara dengan pengawal itu.
" Iya, selamat siang. " jawab Rendra.
" Apakah Anda Narendra Hartawan? " tanya polisi itu.
" Iya, saya. Ada apa Pak? " tanya Rendra.
" Anda adalah penjamin dari pasien Doni Suherman? " tanya polisi itu.
" Iya betul. Ada apa Pak? " tanya Rendra tidak sabar.
" Kami ingin menyampaikan, pasien atas nama Doni Suherman telah dinyatakan meninggal oleh dokter. " ucap polisi itu.
Rendra terkejut. Bagaimana mungkin. Bagaimana ini. Pengadilan sebentar lagi. Saksi kunciku hanya Paman Doni.
" Maafkan kami Tuan, sebelumnya ada orang yang masuk mengaku sebagai perawat yang akan memberikan obat. Setelah Ia keluar, kami mendengar suara seperti benda terjatuh. Saat kami periksa, Doni sudah jatuh di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. " ucap pengawal itu.
Rendra merasa tubuhnya oleng.
Andreas yang baru saja tiba langsung menyanggah tubuh Rendra.
" Lalu, di mana perawat itu? " tanya Andreas.
" Dia menghilang Tuan. Setelah dicari melalui cctv pun tidak dapat ditemukan. " jawab pengawal itu.
" Dokter mengatakan, penyebab pasien Doni meninggal adalah serangan jantung. " ucap polisi.
Seperti dunianya runtuh sekali lagi, Rendra merasa benar - benar hancur.
" Rekaman. Rekaman itu Andreas. " ucap Rendra.
Andreas mengangguk. Ia segera menghubungi seseorang dengan ponselnya.
Tak lama, Andreas kembali dengan wajah pucat.
" Ada apa? " tanya Rendra.
" Rekaman itu hilang Tuan. Ada orang yang mengambilnya dari ruangan Anda. " jawab Andreas.
Rendra merasa tubuhnya makin lemas. Kenapa ketika kemenangan sudah di depan mata, semuanya menjadi seperti ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari di mana pengadilan itu dilaksanakan telah tiba. Seluruh tim pengacara Rendra tetap optimis dengan hasilnya nanti. Rendra dan Renata harap - harap cemas dengan hasil pengadilan hari ini.
Namun hasil yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan ekspektasi. Pengadilan dimenangkan oleh pihak Thomas Alfredo.
Selain bukti yang diberikan untuk menjeratnya tidak kuat, ternyata Thomas adalah orang dengan suaka hukum dan politik khusus. Ia berada dalam jaminan perlindungan Tiongkok.
Thomas Alfredo tertawa puas penuh kemenangan. Dengan begitu, Ia dibebaskan dari segala tuduhan dan kematian Senior Hartawan dinyatakan tidak ada kaitannya dengan Thomas Alfredo.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
flashback off
Rendra berjalan gontai menuju kamar Nia. Ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Kemudian Ia masuk dan menutup kembali pintu kamar Nia.
Ia mendekat ke arah tempat kasur. Dilihatnya Nia yang sedang terlelap. Terlihat begitu nyenyak. Tiba - tiba perasaan Rendra terasa lebih tenang saat melihat wajah Nia.
Rendra kemudian duduk di kasur, Ia mengusap lembut kepala Nia. Nia menggeliat, tapi tetap dalam keadaan tertidur.
" Aku telah kehilangan ayahku karena dia. Aku tidak akan membiarkan Ia mendekatimu. Aku tidak akan membiarkan dia atau siapapun mengambilmu dariku. Kau adalah milikku. " gumam Rendra.
Kemudian Rendra membaringkan tubuhnya di samping Nia. Ia tarik tubuh Nia ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan cukup erat.
Ia mengusap - usap punggung Nia dengan lembut. Nia pun membalas pelukan Rendra. Nia memeluk Rendra dengan erat.
Malam itu dihabiskan Rendra dengan tidur bersama di kamar Nia. Memeluk Nia benar - benar membuatnya merasa nyaman dan tenang.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
yuk yuk, dukung dukung penulis.
komen yang banyaak, like yang banyaak...
biar semangat buat up dan up 🤭