Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 38. Peneguran



Di dalam ruangan khusus rapat Divisi Co & Creative ~


Suasana terasa mencekam.


Rendra menduduki kursi pimpinan rapat. Andreas dengan setia duduk di belakangnya. Ia bersiap menikmati pertunjukan yang seru. Kemarahan lainnya dari seorang King Narendra Hartawan.


Selain Rendra dan Andreas, di dalam ruangan itu saat ini sudah hadir Bu Ratna, Nia, dan staff wanita bernama Marsela atau Lala.


Ketiga wanita itu diam di dalam ruangan rapat. Bahkan Nia yang sebetulnya adalah kekasih Rendra pun hanya terdiam. Namun tetap berusaha terlihat tenang.


Berbeda dengan Lala, suasana sejuk AC dalam ruangan tidak berpengaruh padanya. Ia terus mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak.


Sedangkan Bu Ratna terlihat berusaha tenang.


" Apa masih lama? " tanya Rendra.


" Sebentar lagi Tuan. Kepala bagian HRD sedang menuju kemari. " jawab Andreas.


Mendengar kepala bagian HRD disebut, Lala semakin ketakutan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Lala adalah keponakan dari Kepala Bagian HRD. Ia juga mendapat bantuan oleh pamannya untuk bisa masuk di kantor utama Hartawan Group.


Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki cepat menuju ruang rapat.


tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu ruang rapat.


Rendra memberi kode agar orang itu segera masuk ke dalam ruang rapat. Kemudian orang itu pun masuk bergabung dengan mereka di dalam ruang rapat.


" Selamat datang Tuan Handoko, silakan duduk. " ucap Rendra.


Terdengar ramah dan sopan, namun wajah Rendra yang terlihat dingin membuat siapapun mendengar ucapannya seperti sebuah ancaman yang dapat membahayakan nyawa.


" Terima kasih Tuan Narendra " jawab Tuan Handoko, kepala bagian HRD yang bertugas di kantor utama Hartawan Group.


Tuan Handoko segera duduk di kursi rapat. Berhadapan dengan keponakannya, Lala. Tuan Handoko memperhatikan ekspresi wajah Lala, kenapa Ia terlihat sangat pucat? Masalah apa lagi yang dia buat kali ini? Batinnya.


Rendra masih bungkam. Begitu pula dengan Andreas. Diamnya dua laki - laki kutub es ini benar - benar terasa sangat mengintimadasi siapapun yang sedang berada di dalam ruangan itu. Bahkan, termasuk Nia.


Rendra mengetuk - ngetuk meja dengan ujung jari telunjuknya. Menimbulkan suara ketukan yang justru membuat suasana semakin menakutkan di dalam ruang rapat.


Rendra sengaja masih bungkam. Ia ingin tahu, siapakah yang akan berani untuk bersuara pertama kali. Andreas dengan tenang masih duduk dengan tegap dengan pandangan dingin lurus ke depan.


" Maaf Tuan, " tiba - tiba terdengar sebuah suara. Suara itu berasal dari Nia.


Seluruh pandangan orang - orang yang berada di ruang rapat kini tertuju padanya, tidak terkecuali Rendra.


Terlihat Bu Ratna membulatkan matanya menatap tidak percaya ke arah Nia. Bagaimana dia bisa berani bersuara di saat seperti ini, sedangkan dia hanyalah seorang staff biasa. Batinnya.


" Ya? " jawab Rendra singkat.


Percayalah, sangat sulit bagi Rendra saat ini untuk menahan agar dirinya tidak tersenyum ketika menatap wajah Nia. Bahkan Ia kesulitan untuk menjaga intonasi suaranya.


" Maaf Tuan. Sebetulnya, ada apa kami dipanggil ke dalam ruangan rapat ini? " tanya Nia takut - takut.


Walaupun Rendra adalah kekasihnya, di tempat kerja Rendra tetaplah pimpinan tertinggi. Ia juga harus bisa profesional.


" Menurutmu? " tanya Rendra balik dengan suara dalam.


deg


Tiba - tiba jantung Nia semakin berdetak kencang. Begitu pula yang lainnya.


" Maaf Tuan. Maafkan staff saya. " tiba - tiba Bu Ratna membuka suara.


" Maaf Tuan, dia masih termasuk staff baru. Ia baru bekerja di sini selama satu tahun. " lanjut Bu Ratna. " Jadi maaf kalau staff biasa ini berani membuka suara di depan Anda. "


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Ratna membuat Rendra mulai merasa geram.


Staff baru? Staff biasa? Berani membuka suara?


" Maksud Anda? " Rendra berbalik tanya ke Bu Ratna. Dengan wajah dan intonasi yang mengintimidasi.


" Maksud saya, maafkan staff saya. Dia hanya staff baru dan tergolong rendah, namun berani bicara di depan Anda. " jawab Bu Ratna.


Bu Ratna menyadari ada perubahan nada bicara Rendra tadi. Sesungguynya Ia pun merasa takut dengan apa yang baru saja Ia ucapkan.


" Memang ada atuean kalau staff baru tidak boleh bicara padaku? " tanya Rendra.


Semua terdiam. Tidak ada yang menjawab.


" Ada aturan di sini staff rendah dan tinggi? " kali ini volume Rendra sedioit lebih tinggi dari sebelumnya.


" Siapa yang membuat aturan itu? " Rendra bertanya lagi.


Kali ini wajahnya menghadap kepada Tuan Handoko. " Tuan Handoko! "


" Ya... Tuan? " jawab Tuan Handoko sedikit takut.


" Jawab! Apa ada aturan pembagian golongan staff rendah dan tinggi? " tanya Rendra.


" **... Tidak ada Tuan. " jawab Tuan Handoko. Keringat mulai mengalir di tengkuk lehernya.


" Lalu ada aturan staff baru tidak boleh bicara kepadaku? " tanya Rendra lagi.


" **... Tidaj ada Tuan. " jawab Tuan Handoko lagi.


Suasana semakin menakutkan. Bu Ratna menyadari Ia salah bicara tadi. Bukannya menenangkan Rendra, tetapi justeu memancing kemarahan Rendra.


" Mm.. Maaf Tuan. Maksud saya, tidak seharusnya staff saya berani memulai pembicaraan dalam forum ini. " jawab Bu Ratna takut - takut.


" Lalu staff seperti apa yang berhak berbicara dalam forum ini? " tanya Rendra.


" Jangan - jangan bagimu, aku pun tidak pantas berbicara di sini? " tanya Rendra lagi, dengan nada sinis.


" Bu... Bukan begitu Tuan. Maafkan saya. " ucap Bu Ratna lagi.


Rendra menghela napasnya berat. Ia merasa kesal.


" Keributan apa itu tadi? " tanya Rendra.


Hening. Tidak ada yang menjawab.


" Jadi kalau begini diam? " tanya Rendra lagi.


" Maaf Tuan, mohon ijin untuk menjawab. " jawab Bu Ratna.


" Tadi itu hanya sebuah kesalahpahaman antar staff saja Tuan. Tidak ada masalah besar. " lanjut Bu Ratna.


" Tidak ada masalah besar. " Rendra mengulangi jawaban Bu Ratna.


Ruangan kembali hening.


" Lalu tentang menggunakan wajah dan tubuh untuk merayuku? Halu? Wanita murahan? " tanya Rendra.


Lala menunduk. Ia meremas tangannya kuat - kuat. Tuan Handoko yang melihat sikap keponakannya segera sadar, masalah yang ada saat ini adalah akibat keponakannnya.


" Hei Kau! Jawab. " ucap Rendra.


Ia mengarahkan pandangannya ke Lala. Dengan tatapan tajam.


" Maaf Tuan. Maaf. " jawab Lala dengan suara bergetar.


" Aku tidak butuh permintaan maafmu. " jawab Rendra.


" Maafkan saya Tuan Narendra, saya hanya kesal sesaat. Saya khilaf. " ucap Lala sambil menunduk.


" Kesal sesaat... Khilaf... " Rendra mengulang kembali jawaban Lala.


" Tuan Handoko. " Rendra tiba - tiba menghadap ke arah Tuan Handoko yang sedari tadi menatap keponakannya dengan kesal.


" I... Iya Tuan? " sahut Tuan Handoko.


" Apa kriteria Anda dalam menerima pegawai? Anda adalah ketua HRD kan? " tanya Rendra.


Wajah Tuan Handoko terlihat gugup.


" Sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan Tuan. Sesuai dengan penempatan divisi yang membutuhkan. " jawab Tuan Handoko.


" Hm... " Sahut Rendra sambil menganggukkan kepalanya.


" Bagaimana dengan attitude? " tanya Rendra.


" Apa Anda tidak pernah mencantumkan bahwa pegawai kita harus memiliki good attitude, etos kerja yang baik? " tanya Rendra lagi.


" Tentu saya cantumkan Tuan. " jawab Tuan Handoko, kali ini dengan lebih percaya diri.


" Lalu ada apa dengan attitude keponakan Anda? " tanya Rendra membuat wajah Tuan Handoko seketika menjadi pucat.


" Apa karena dia adalah keponakan Anda? Jadi Anda mengurangi beberapa poin penilaian kriterianya? " tanya Rendra.


Rendra kemudian memberi kode kepada Andreas yang sedari tadi duduk dengan tenang di belakang Rendra.


" Marsela Oliver. Lulusan universitas terbaik di negara ini. Memiliki riwayat pekerjaan kurang baik. Sempat masuk sel sementara karena membuat keributan di sebuah pub. Setelah lulus kuliah membuat keributan dan merusak fasilitas umum. " Andreas membaca kalimat demi kalimat yang tampak di layar ponselnya membuat seisi ruangan, kecuali Rendra, terkejut.


" Dirumorkan pernah melakukan aborsi bayi hasil hubungan gelapnya dengan atasan di tempat kerja sebelumnya. " lanjut Andreas.


" Rekan kerjanya di sini sering mengeluhkan sikap kasar dan semaunya selama bekerja sama dalam tim dengannya. " lanjut Andreas lagi.


plok plok plok


Rendra bertepuk tangan disertai ekspresi wajah yang sangat sinis.


" Baik. Dan hari ini keponakan Anda membuktikan dua hal, Tuan Handoko. " ucap Rendra.


Redra mengangkat telunjuknya, " Pertama, berita tentang sikapnya yang kurang baik. Etos kerja yang kurang baik terbukti sempurna hari ini. "


" Kedua, dia membuktikan bahwa kali ini Anda sudah membuat keputusan yang salah. " Rendra mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


" Untuk Marsela Oliver. Terima kasih sudah ikut menyumbangkan ide dan tenaga di Hartawan Group. Kerja sama kita cukup sampai di sini. " ucap Rendra.


" Untuk Tuan Handoko, Anda saya mutasi ke kantor cabang di daerah B mengingat Anda sudah mengabdi selama 15 tahun di sini. " lanjut Rendra.


" Untuk Bu Ratna, Anda saya beri SP 1. Anda kurang bijak dalam mengambil sikap dan berlaku pada bawahan Anda. " Rendra melanjutkan ucapannya.


Rendra pun beranjak dari duduknya. Tuan Handoko segera menghampiri Rendra dan bersujud di depan Rendra mengharap rasa kasihan dari Rendra. Namun Rendra mengabaikannya.


Rendra menarik tangan Nia dan memberi kode agar Nia mengikutinya. Kemudian mereka berdua dan Andreas pergi meninggalkan ruang rapat