
Nia merapikan meja kerjanya bersiap pulang kerja. Ia bernapas lega semua pekerjaannya selesai dan dia bisa pulang tanpa membawa PR.
" Apakah kau yakin akan berangkat sendiri? Aku bisa mengantarmu dulu. " kata Sarah
" Ngga papa kok. Aku berangkat sendiri saja, toh rumah sakitnya tidak terlalu jauh. Kau juga harus ke rumah orang tuamu. " jawab Nia.
" Kau yakin? " tanya Sarah lagi, memastikan.
" Iya, sangat yakin. " sahut Nia lagi, " Salam yah ke kedua orang tuamu. Maafkan aku tidak bisa ikut ke rumah orang tuamu. " lanjutnya.
" Oke, hubungi aku kalau ada apa - apa. Kode apartemen kau sudah hapal kan? " tanya Sarah lagi.
" Iyaa iyaa udah hapal. " sahut Nia gemas, " Cepat sana berangkat. "
" Yasudah, aku pergi dulu. Daaah... " kemudian Sarah melangkah pergi meninggalkan Nia.
Hari ini adalah jadwal Nia untuk kontrol luka lanjutan. Sarah sudah membuatkan janji temu dengan dokter Ardian. Dokter sekaligus teman Sarah.
Setelah memastikan semua rapi dan tidak ada yang tertinggal, Nia berjalan keluar ruangan divisinya. Ia berjalan ke arah lift dan mengedarkan pandangan ke sekelililing. Sudah sangat sepi, batin Nia.
Ia melihat ke arah jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 17.00. Pantas sudah sepi, batinnya lagi.
"ting" pintu lift terbuka
Ada Rendra dan andreas di dalam lift. Nia menganggukan kepala kemudian masuk ke dalam lift. Ia berusaha merapikan poni rambutnya supaya menutupi jahitan di pelipisnya.
Rendra memperhatikan gerak gerik Nia. Apakah luka itu masih sakit? Ingin sekali Rendra bertanya, tetapi Ia hanya terdiam sambil memandang pantulan bayangan Nia pada dinding lift.
" ting " pintu lift terbuka.
Nia berjalan keluar dari lift. Ia berjalan ke arah halte. Sedangkan Rendra dan Andreas berjalan ke arah lobi.
" Andreas, mau ke mana dia? " tanya Rendra.
" Saya tidak tahu, apakah anda ingin saya bertanya kepadanya? " tanya Andreas.
" Tidak perlu. " jawab Rendra singkat, " Bagaimana bisa kau tidak tahu dia mau ke mana. " Rendra berdecih.
Andreas menghela napas perlahan, " Maaf Tuan. "
Bagaimana aku harus selalu tahu urudan orang - orang di bumi ini, batin Andreas.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
- Di dalam mobil Rendra -
" Kau sudah dapat kabar tentang dia? " tanya Rendra.
" Tentang Karunia? " tanya Andreas balik.
" Siapa lagi? " Rendra berbalik tanya dengan nada ketus.
Lagi - lagi Andreas menghela napas perlahan, berusaha agar Rendra tidak mendengar helaan napasnya.
" Gelang itu memang seperti milik Tuan, jadi saya yakin dia adalah orang yang menolong Tuan dalam kecelakaan saat itu. Bukan Lucy yang menyelamatkan Tuan. " Jelas Andreas.
" Hmm, sudah kuduga. Tidak mungkin Lucy yang menyelmatkanku. " Rendra bergumam. " Lalu luka - luka Nia? "
" Karunia mendapat luka itu akibat perbuatan preman - preman yang dikirim oleh rentenir tempat Ia meminjam uang, Tuan. " jelas Andreas.
Rendra menggertakkan giginya kesal. " Apa yang terjadi? " tanyanya dengan penuh amarah.
" Karunia sempat terlambat untuk melakukan pembayaran, dan ternyata rentenir itu menerapkan bunga yang sangat tinggi sehingga selama ini yang dibayar Karunia hanya bunganya saja. " jelas Rendra lagi, " Mobil dan rumah Karunia beserta seluruh isinya disita oleh rentenir itu. "
" Kurang ajar. Kau cari siapa rentenir itu. Kita selesaikan segera urusan ini. " Rendra semakin emosi dan membuka kancing atas bajunya.
" Maaf Tuan, bukannya saya tidak mau atau melarang Tuan berbuat baik. Jika Tuan melakukan itu, apakah Karunia tidak akan curiga? Apakah Karunia akan menerimanya? Sedangkan Ia tidak terlalu mengenal Tuan, " cegah Andreas. " Belum lagi, bisa - bisa Karunia semakin ketakutan. "
" Baiklah, di mana dia tinggal sekarang? " tanya Rendra lagi.
" Sumber saya menyebutkan dia sednag menumpang di apartemen temannya. Sesama staff Co & Creative. Sarah Valencya. " jawab Andreas.
" Apa dia orang baik? " tanya Rendra lagi.
" Sumber saya yang lain menyebutkan Sarah selalu membantu permasalahan Karunia. Bahkan Sarah ikut membantu menanggung biaya pemakaman dan proses pemakaman kedua orang tua Nia. " jawab Andreas lagi.
Rendra menghela napas. Ia menatap ke arah luar mobil, menatap ke arah langit. Ia terdiam sejenak. " Tolong tetap kau awasi Nia diam - diam. Jika Ia mendapat masalah, bantulah dia dari belakang. Jangan sampai ketahuan. " pinta Rendra.
" Baik Tuan, " jawab Andreas patuh.
Rendra termenung lagi. Awalnya, Ia hanya berusaha mencari tahu tentang gelang itu. Penasaran apakah gadis itu adalah orang yang menyelamatkannya atau bukan. Kemudian Ia mendapati Nia memiliki beberapa luka. Ia pun mulai merasa simpati kepadanya. Dan sekarang, rasa penasaran, dan rasa simpati itu, berubah menjadi rasa peduli dan khawatir. Rasa ingin balas budi atas permintaan almarhumah ibunya, dan rasa ingin balas budi karena telah menyelamatkannya.
Rendra menghela napas lagi. Ia tetap menatap ke arah langit dan hanya terdiam. Sekali lagi Ia menghela napasnya. Lebih berat. Andreas melirik dari spion dalam mobil. Tak ingin mengganggu sepupunya yang sepertinya sedang terfokus memikirkan sesuatu, Andreas hanya diam tanpa berani bertanya kepada Rendra.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
- Di Rumah Sakit -
Nia duduk di ruang tunggu pasien. Dia menyedot susu strawberrynya dalam - dalam. Sebetulnya dia merasa lapar karena tadi melewatkan jam makan siang. Dia melirik jam tangannya lagi, waktu menunjukkan pukul 18.15. Sudah waktunya untuk makan malam.
" Pasien Karunia Orchida, silakan masuk. " panggil seorang perawat.
" Baik sus, terima kasih. " sahut Nia kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Nia berjalan masuk ke dslam ruangan dokter Ardian.
" Malam Nia, silakan duduk. " sambut dokter Ardian.
" Malam dokter, terima kasih. " kemudian Nia duduk di kursi yang telah disediakan.
" Bagaimana perasaanmu? " tanya dokter Ardian.
" Ha? Gimana dok? " tanya Nia balik.
" Bagaimana perasaanmu sekarang? " tsnya dokter Ardian lagi.
" Oh, baik - baik saja dok. " jawab Nia sedikit bingung.
Ardian tersenyum setelah mendengar jawaban Nia, kemudian Ia mendekati Nia. " Ayo coba kita lihat luka di pelipismu. " ucapnya setelah mencuci tangannya dengan handrub.
Pemeriksaan luka Nia sebetulnya hanya butuh waktu 5 menit saja, tapi Ardian sengaja memperlama dengan mengajak Nia mengobrol terus.
" Apa rencanamu setelah ini? Apa kau sudah makan malam? " tanya Ardian setelah menyelesaikan pemeriksaan Nia.
" Sudah dok, mau langsung pulang aja bentsr lagi " jawab Nia.
Tapi... Rupanya, tubuhnya sedang tidak bisa bekerja sama. Perutnya berbunyi nyaring, seolah menepis ucapan si pemilik lambung. Nia menunduk malu.
Ardian tersenyum, " Yuk makan malam bareng. Shiftku sudah selesai, aku juga lapar. " ajak Ardian. Kesempatan nih, batin Ardian.
Kepalang malu, Nia tersenyum asam dan mengangguk. " Boleh dok, hayuk. Hehe. "
" Tunggu sebentar ya, aku siap - siap dulu. Kamu bisa tunggu di luar. " ucap Ardian.
Nia menurut, kemudian Ia keluar dan menunggu Ardian di kursi tunggu pasien. Tidak sampai 5 menit Ardian sudah keluar dan mereka berjalan bersama menuju area parkir rumah sakit.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Mungkin ada yang penasaran, Ardian kalo dari depan mukanya gimana siih? Nih aku kasih deeh
...dokter Ardian ketika lagi muka serius...