Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 31. Kekhawatiran Rendra



Jam menunjukkan pukul 20.00 ketika dokter Silva datang bersama satu orang asistennya. Sepertinya seorang perawat.


Dengan sigap dokter Silva segera menangani Nia. Ia menyuntikkan sebuah obat melalui selang infus yang sudah terpasang pada tubuh Nia.


Setelah memastikan Nia sudah dalam kondisi stabil, dokter Silva dan asistennya keluar dari kamar Nia. Rendra yang sedari tadi setia mendampingi Nia saat sedang dalam perawatan juga ikut keluar.


" Bagaimana keadaannya? " tanya Rendra terlihat khawatir.


Dokter Silva tersenyum simpul, " Jadi kita bicara di mana? "


" Ah ya aku lupa, ayo ke lantai satu. " ajak Rendra.


Setelah sampai di ruang santai, Rendra mempersilakan dokter Silva dan asistennya untuk duduk.


" Silakan. " ucap Rendra.


Tak lama, seorang ART datang menyajikan minuman untuk mereka.


" Jadi, bagaimana? " tanya Rendra, tidak sabaran.


" Setidaknya biarkan aku meminum tehku. " ucap dokter Silva kemudian meminum tehnya.


Rendra tidak bereaksi. Ia hanya terus menatap ke arah dokter Silva. Tidak sabar menunggu jawaban atas kondisi Nia.


" Dia tidak apa - apa. Hanya shock saja, " ucap dokter Silva. " Seperti saat terakhir kali aku mengobatinya. "


" Tapi aku heran. " ucap dok ter Silva lagi.


Rendra mengernyit. Apa kira - kira yang akan diucapkan oleh Silva ya? Batinnya.


" Kenapa tiap kali bersamamu, Nia selalu berakhir dengan kondisi shock? " tanya dokter Silva. " Kau apakan saja dia? " tanyanya lagi.


" Kau kira apa yang akan kulakukan padanya? " tanya Rendra.


" Entahlah, hanya saja aku heran. Kenapa tiap bersamamu, dia selalu pingsan kemudian dalam keadaan shock. " ucap dokter Silva.


" Sepertinya energimu buruk. " lanjut dokter Silva.


" Kemudian kau akan menggila dan menanyaiku tanpa jeda. Seprti sebelumnya. " ucap dokter Silva lagi.


Rendra memicingkan matanya. Seperti sebuah kesia - siaan mendengarkan dokter satu ini bicara.


" Ada apa sebetulnya? " tanya dokter Silva.


" Intinya, bagaimana dengan Nia? Apa dia akan baik - baik saja? " tanya Rendea lagi memastikan.


" Kau tenanglah, sudah kuberi infus dan vitamin. Selain itu aku berikan obat injeksi untuk lambungnya. Sepertinya lambungnya juga sedang bermasalah. " ucap dokter Silva.


Kemudian dokter Silva kembali menyeruput teh hangatnya.


" Lambung bermasalah? " tanya Rendra.


Dokter Silva meletakkan kembali cangkir teh yang Ia pegang. " Ya, sepertinya. "


" Kenapa sepertinya? Sebenarnya kau ini dokter atau apa? Kenapa tidak pasti? " tanya Rendra tidak sabar.


" Tadi dia mengernyit ketika aku menekan ulu hatinya dan perut bagian kirinya. " jawab dokter Silva, masih tenang.


" Untuk lebih jelasnya kita tunggu dia bangun. Jadi dia bisa langsung menyampaikan apa yang dia rasakan. Bagian mana yang sakit. " lanjut dokter Silva.


" Baiklah kalau begitu. Lalu jika infusnya habis bagaimana? " tanya Rendra lagi.


" Jika nanti malam dia terbangun karena perutnya terasa sakit bagaimana? Apakah kau beri obat cadangan di sini? " tanya Rendra.


" Coba lihat, dia bicara seperti kereta api yang tidak mau berhenti. " ucap dokter Silva dengan nada kesal yang dibuat - buat.


" Sudah, kau jawab saja. " Rendra benar - benar tidak sabar.


" Obat injeksi untuk keluhan lambungnya sudah kuberikan. Besok pagi waktunya diberi lagi. " lanjut dokter Silva.


" Tapi kalau nanti malam dia terbangun karena sakit perut bagaimana? " Rendra masih memburu dokter Silva dengan pertanyaan yang sama.


" Tuan King Narendra Hartawan yang terhormat, sudah kubilang obat injeksi sudah kuberikan. Obat ini bukan jenis obat yang bisa diberikan seenaknya. " jawab dokter Silva.


" Lama - lama kau yang aku suntik dengan obat penenang supaya kau diam! " keluh dokter Silva.


Mereka berdua adalah sahabat dekat sejak jaman sekolah, sehingga dokter Silva bisa dengan santai menghina Rendra. Si manusia dingin seperti kutub, julukannya sejak jaman sekolah.


" Sudah ah, aku mau pulang. Kau harus membayarku dan asistenku dengan ekstra. " ucap dokter Silva santai, kemudian Ia beranjak dari sofa dan berjalan diikuti oleh asistennya.


Rendra mengikuti dokter Silva berjalan ke arah pintu. " Tenang saja, segera kutransfer ke rekeningmu. " ucapnya.


" Oke. Ini yang aku suka, happy to work with you. Kabari jika Nia kenapa - kenapa. " ucap dokter Silva lagi kemudian Ia berjalan ke arah mobilnya terparkir.


Sepulang dokter Silva, Rendra berjalan ke arah kamar Nia.


" Andreas, " panggilnya saat Ia melihat Andreas sedang duduk di depan kamar Nia.


" Ya, Rendra. " sahut Andreas.


" Pulanglah. " ucap Rendra.


" Apa Anda tidak akan beristirahat? " tanya Andreas.


" Aku akan menemani Nia malam ini. " ucap Rendra. " Kau pulanglah. "


" Jika ada kabar terbaru mengenai pelaku penyerangan segera kabari aku. Tetap selidiki dengan rapi. " perintah Rendra.


" Baik. " jawab Andreas.


Rendra berjalan ke arah kamar Nia. Ia membuka perlahan pintu kamar Nia. Ia tidak mau mengganggu Nia yang sedang terlelap.


Hatinya terasa nyeri melihat Nia yang sedang tertidur, mengingat apa yang terjadi hari ini.


Masih teringat bagaimana Nia tadi menangis dalam pelukannya. Bagaimana keringat dingin itu mengalir deras di tubuh Nia. Bagaimana wajah pias Nia juga masih terbayang jelas dalam ingatannya.


Ia mendekati tempat tidur, menarik kursi agar lebih dekat ke arah tempat tidur. Ia duduk di kursi dan menatap Nia yang sedang terlelap. Ia memijit dahinya pelan. Ia tak habis pikir kenapa Nia juga harus terkena dampak semuanya.


Rendra masih menatap Nia lekat - lekat. Nia benar - benar terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya. Wajahnya yang terlelap pun terlihat sangat damai dan teduh.


Rendra meraih tangan Nia yang terpasang selang infus.


" Apakah ini sakit? " ucapnya pelan sambil mengusap ujung selang infus yang menancap di tangannya.


" Maaf aku membuatmu terlibat dalam masalah seperti ini. " ucapnya lagi sambil mencium tangan Nia.


" Maaf, maafkan aku Karuniaku... " Rendra menggenggam tangan Nia. Kemudian Ia mencium tangan Nia sekali lagi.


Tampak bulir bening di ujung mata Nia. Hati Rendra terasa sakit.


Ia mengambil tissue dan mengusap lembut ujung mata Nia. Kemudian Ia mengusap lembut kepala Nia. Rambut Nia yang lembut nampak berkilau terkena pantulan sinar bulan malam ini.


Bulu mata Nia yang lentik, hidung yang mancung, dan kulit yang bersih menggoda Rendra untuk membelai wajah Nia.


Tidak. Tidak boleh. Tahan. Belum boleh. Batin Rendra.


Malam ini Rendra menghabiskan malamnya dengan mengamati wajah Nia yang sedang tertidur. Hingga akhirnya Ia pun jatuh tertidur di kursi.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Maaf teman - teman readers, akhir - akhir ini penulis bener - bener lagi overload pekerjaan di kantor nih.


Kebetulan penulis adalah nakes yang bekerja di fasilitas kesehatan umum, jadi akhir - akhir ini sibuk banget banyak kegiatan. Maafkan yah 馃檹馃徎