
Selamat Membaca ~
Nia dan Sarah masih membeku di dalam ruangan setelah kepergian anak perempuan itu. Rasa penasaran menyelimuti keduanya. Kenapa anak perempuan itu seperti sedang ketakutan? Apakah dia juga sedang berada dalam masalah?
" Kenapa kau tadi menahanku? " tanya Sarah.
" Kau tidak lihat tadi? Ia memberi kode bahwa dia sendiri juga sedang dalam bahaya. " jawab Nia.
" Kita harus mencari cara lain untuk bisa berkomunikasi dengannya. " lanjutnya.
" Hm, jika saja dia bisa bahasa isyarat. Aku cukup pandai menggunakan bahasa isyarat. " sahut Sarah.
Nia terdiam. Apa jangan - jangan anak itu memang tidak bisa berbicara juga?
" Kita bisa mencobanya lagi besok. " timpal Nia.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
" Selamat siang, Tuan. " sebuah sapaan yang membuyarkan lamunan Jason.
" Ada apa, Tommy? " sahut Jason malas.
" Kemungkinan besok malam kita akan berlabuh sementara di Phnom Penh. Kita akan mengisi perbekalan di sana. " ucap Tommy.
" Hmm.. " sahut Jason malas.
" Berapa lama kita akan berlabuh di sana? " tanya Jason.
" Kita akan berlabuh sekitar 3 hari, Tuan. " jawab Tommy.
" Kenapa lama sekali? " sahut Jason dengan nada meninggi.
" Mereka bilang, mereka harus menyiapkan perbekalan dalam jumlah cukup karena perjalanan kita selanjutnya akan memakan waktu lebih lama. " jawab Tommy.
" Selain itu, akan ada badaj laut di sekitar Vietnam. Sangat berbahaya jika kita melanjutkan pelayaran ke sana. " lanjut Tommy.
" Ya sudah, lakukan saja sesuka kalian! " ucap Jason.
" Carikan aku wanita penghibur selama 3 hari itu! Aku tidak mau waktu luangku sia - sia. " perintah Jason.
" Baik, Tuan. " jawab Tommy. Kemudian Ia pergi meninggalkan ruangan Jason.
Tidak ada ruginya juga. Aku bisa bersenang - senang dulu selama di sana nanti. Gumam Jason.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Sementara itu, di markas Anton ~
" Bagaimana perkembangannya? " tanya Anton kepada anak buahnya.
" Pihak pelabuhan tidak dapat memberi informasi dengan jelas Tuan. Pada hari sekirar jam 1pagi ada tiga pemberangkatan kapal besar dengan tujuan berbeda. Sedangkan sekitar jam 2 pagi ada 2 pemberangkatan lainnya. " jawab anak buah Anton.
" Apa tidak ada yang menunjukkan spesifik lagi? Seperti dengan membawa orang - orang mencurigakan? " tanya Anton.
" Tidak, Tuan. Mereka hanya memantau dari pintu masuk saja. Tidak sampai ke bagian pemberangkatan. " jawab anak buahnya.
" Ya sudah, kau kembalilah ke posmu! Berisap jika aku memanggilmu mendadak. " perintah Anton, kemudian anak buahnya itu kelusr dari ruangannya.
" Bagaimana Anton? Ada perkembangan? " tanya Rendra yang baru saja tiba bersama Andreas.
" Tidak bisa dilacak, Tuan. Pada saat itu terlalu banyak pemberangkatan dengan tujuan yang berbeda - beda. " jawab Anton lesu.
Rendra menghela napasnya. Tamlak kekecewaan pada wajahnya, begitu pula dengan Andreas.
Tiba - tiba ponsel Rendra bergetar. Ada sebuah nomor asing yang meneleponnya, namun zia enggan mengangkatnya.
Tak lama, telepon itu mati. Namun, nomor asing itu kemudian menelepon lagi.
Andreas yang menyadari hal itu pun mendeksti Rendra, " Kenapa Anda tidak mengangkatnya, Tuan? " tanyanya.
" Aku malas. Di saat seperti ini justru ada telepon dari nomor asing seperti ini. " jawab Rendra malas.
Andai saja yang menelepon adalah Nia, Ia pasti akan segera mengangkatnya.
Tapi tiba - tiba Ia teringat, bisa saja Nia yang menelepon menggunakan nomor asing.
Dengan cepat Ia mengangkat panggilan itu. Berharap Nia lah yang meneleponnya.
" Halo? " ucap Rendra.
" Halo. " terdengar suara berat laki - laki dewasa di seberang sana.
Rendra merasa sedikit kecewa, ternyata bukan Nia yang meneleponnya.
" Apa benar ini Tuan Narendra? " tanya orang itu.
Hah? Dari mana orang ini tahu namaku? Rendra mengalihkan mode telepon menjadi loudspeaker. Ia juga memberi kode pada Andreas dan Anton untuk tetap tenang untuk ikut mendengarkan.
" Ya, Anda siapa? " tanya Rendra.
" Saya Abdul, Tuan. " jawab Pak Abdul.
" Dari mana Anda tau nomor dan nama saya? " tanya Rendra.
" Begini Tuan, saya adalah seorang sopir taksi. Bisakah kita bertemu? Saya takut saya sedang diawasi. " ucap Pak Abdul.
" Kenapa saya harus menemui Anda? " tanya Rendra.
" Anda harus mau menemui saya. Ini terkait keselamatan seorang wanita yang kemarin sempat bertemu dengan saya. " jawab Pak Abdul.
" Seorang wanita? Apa kaitannya dengan saya? " tanya Rendra.
" Karena saya mendapat nomor dan nama Anda dari dia. " jawab Pak Abdul.
Rendra, Andreas, dan Anton saling tatap.
Anton dan Andreas memberi respon anggukan pada Rendra. Meminta Rendra untuj menyetujui ajakan untuk bertemu dengan Pak Abdul.
" Baiklah, mari kita bertemu. Tentukan saja tempat dan waktunya. " ucap Rendra.
" Lebih cepat lebih baik, Tuan. Saya khawatir nyawanya sedang berada dalam bahaya. " ucap Pak Abdul.
" Kalau begitu, temui aku di xx satu jam lagi. " ucap Rendra.
" Baiklah, kebetulan saya sedang tidak jauh dari tempat itu. " ucap Pak Abdul.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍