
Selamat Membaca ~
Masih di sebuah tempat makan sederhana bernama xx. Seorang laki - laki berudia sekitar 50 tahun lebih sedang duduk bersama dengan dua pemuda tampan. Nampaknya mereka masih membahas sesuatu yang cukup serius, nampal dari wajah tegang ketiganya.
" Lalu pesan apa saja yang Anda peroleh? Apakah anda membawa kemai uang - uang itu? " tanya Rendra tidak sabar.
Pak Abdul mengangguk dan mengekuarkan sebuah plastik kecil berisi uang yang Ia dapat dari Nia.
" Ada di sini. " jawab Pak Abdul.
" Dan ini adalah pesan yang saya catat. " ucapnya lagi seraya menyerahkan sebuah kertad catatan kecil yang sudah agak lusuh.
" Maaf, kemarin sempat kena tumpahan air. " imbuhnya.
Rendra menerima sebungkus plastik berisi uang dan juga kertas catatan dari Pak Abdul.
Ia membaca tulisan itu, kata demi kata.
*Lembaran uang pertama : Tolong hubungi nomor +62*********** dia bernama Narendra. Kumohon
Lembaran uang kedua : Katakan padanya, aku sangat butuh pertolongannya. Dia adalah suamiku.
Lembaran uang ketiga : Aku tidak tahu akan dibawa ke mana, mereka menyandera teman baikku, Sarah Valencya
Lembaran uang keempat : Aku terpaksa menuruti mereka, jika tidak mereka akan membunuh Sarah
Lembaran uang kelima : Tolong, aku harus tetap hidup. Demi janin dalam kandunganku*
Tak terasa sebuah bulir bening mengalir dari mata Rendra. Mata yang selalu menatap dingin pada orang lain, terutama pada pesaing bisnisnya. Kini mata itu mengeluarkan sebulir air mata karena kekasih hatinya dalam keadaan bahaya.
" Terima kasih sudah menghubungi dan memberi tahuku, Pak. " ucap Rendra.
" Tidak masalah Tuan, sebagai sesama manusia tugas kita adalah saling membantu. " jawab Pak Abdul.
Rendra menyerahkan sebuah amplop yang cukup tebal kepada Pak Abdul. Ia meletakkan amplop itu pada kedua tangan Pak Abdul.
" Aku tidak menerima penolakan. " ucap Rendra.
Pak Abdul pun pasrah menerima amplop itu, Ia mencium amplopnya dan bersyukur atas apa yang baru daja Ia terima.
" Terima kasih banyak, Tuan. Semoga Tuhan segera mempertemukan Anda kembali dengan istri Anda. " ucap Pak Abdul.
Rendra terharu mendengar ucapan Pak Abdul. Ia mengangguk dan tersenyum.
" Oh ya, Tuan. Saya dengar, kapal itu akan berlabuh sementara di salah satu ibukota yang ada di Asia Tenggara. Namanya sedikit sulit untuk disebutkan. " ucap Pak Abdul.
" Orang itu mengatakan, biasanya kapal milik PT. Angkasa akan mengisi bahan bakar dan mengisi ulang perbekalan makanan di kota itu. " lanjutnya.
" Kau tau apa yang harus kau lakukan Andreas. " perintah Rendra.
" Baik, Tuan. " sahut Andreas.
Ini bisa menjadi sebuah kesempatan untuk menyelamatkan Nia dan juga Sarah. Batin Rendra.
" Bagaimana jika Anda berhenti saja dari pekerjaan Anda sebagai sopir taksi? Bekerjalah padaku. Menjadi sopir pribadiku. Aku akan membayarmu dengan pantas. " ucap Rendra.
Pak Abdul terkejut dengan tawaran Rendra. Di saat seperti ini, ketika pengguna jasa taksi sudah sangat berkurang dan lebih memilih menggunakan jasa melalui aplikasi atau online, tawaran itu sangat menggiurkan bagi Pak Abdul yang sudah menuju usia senja. Yang tentu kalah dengan yang berusia lebih muda darinya.
" Baik, Tuan. Saya menerima tawaran Anda. " jawab Pak Abdul sumringah.
" Baiklah, selanjutnya Anda bisa berhubungan dengan saudaraku ini. " ucap Rendra.
" Sekarang Anda pulang saja dan beristirahat. Besok Anda sudah bisa mulai bekerja. Andreas akan menyiapkan dan menghubungi Anda. " ucap Rendra.
" Betul, Tuan. Saya akan menghubungi Anda sore ini. " sahut Andreas.
" Terima kasih, terima kasih Tuan. " sahut Pak Abdul.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
" Sarah, dia datang lagi. " Nia membangunkan Sarah yang jatuh tertidur di pundaknya.
Sarah segera bangun dan beranjak. Ia segera berjalan ke dekat meja tempat anak perempuan itu meletakkan makanan.
Anak perempuan itu masuk ke dalam membawa sebuah troli berukuran kecil. Pada bagian atas terdapat makanan, sedangkan bagian bawah terdapat sebuah tumpukan baju bersih.
Saat anak perempuan itu meletakkan piring, dengan cepat Sarah memberi kofe dengan gerakan tangannya.
*Hei, siapa namamu? Aku Sara*h.
Anak perempuan itu memperhatikan pergerakan tangan Sarah dengan seksama. Sarah menatap anak perempuan itu dengan penuh harap.
Anak perempuan itu mengedipkan mata dengan cepat beberapa kali.
Setelah memastikan keadaan aman, anak perempuan itu menjawab Sara dengan kode gerakan tangan.
Aku Rania. Maaf, terakhir kali aku bukan mengabaikanmu. Tapi aku memang tidak dapat berbicara.
Sarah : Apakah kau tau, kapal ini akan membawa kita ke mana?
Rania mengangguk dengan semangat.
Rania : Tentu aku tahu, kita akan ke Rusia.
Sarah terkejut. Ia menoleh ke arah Nia kemudian berucap tanpa bersuara, " Kapal ini akan membawa kita ke Rusia. "
Kini, giliran Nia yang teekejut.
" Kenapa kita akan ke sana? Apa salah kita? " tanya Nia, dengan suara pelan.
Sarah : Kau tau, kenapa mereka membawa kami?
Tanya Sarah kepada Rania. Rania menjawab dengan menggelengkan kepala.
Rania : Mereka tidak pernah menyinggung hal itu.
Sarah: Kapal ini adalah sebuah kapal yang besar?
Rania : Ya, kapal ini adalah kapal yang sangat besar. Kapal ini mengangkut barang - barang juga
Sarah : Apakah kapal ini berisi banyak awak kapal?
Rania : Ya, jumlahnya sangat banyak. Ada banyak penjaga juga.
Nia memegang lengan Sarah, kemudian berbisik " Jangan terlalu terbuka, siapa tahu gadis ini juga termasuk orang - orang si penculik. "
Rania sepertinya paham apa yang dibicarakan oleh Nia kepada Sarah. Dengan cepat Ia menggelengkan kepalanya dan menggerakkan tangannya.
Rania : Tenang, aku tidak memihak pada siapapun. Sebetulnya aku juga terpaksa berada di sini. Kedua orang tuaku sudah meninggal, aku tinggal dengan kakekku. Kakekku memiliki hutang pada si pemilik kapal. Dan dia memaksa kakekku untuk menyerahkanku sebagai jaminan. Merela berjanji akan mengembalikanku pada kakekki setelah mereka kembali dari Rusia.
Sarah memegang tangan Nia dan menganggukan kepalanya, seoalh memberi tanda kepada Nia agar Ia tetap tenang.
Sarah : Sungguh jahat sekali. Siapa pemilik dari kapal ini?
Rania : Aku tidak tahu jelas siapa pemiliknya. Mereka hanya menyebutnya sebagai big boss. Tapi aku tau bagaimana penampakannya.
Sarah : Lain kali, beritahu aku siapa yang kau maksud.
Rania : Tentu saja.
Sarah : Jika kapal ini memuat banyak orang, bukankah harus memastikan jumlah bahan makanan cukup untuk ke depannya?
Rania : Benar, itulah kenapa dalam waktu dua hari kapal ini akan berlabuh untuk mengisi ulang bahan bakar dan juga perbekalan.
Sarah sangat bersemangat mengetahui hal tersebut. " Ini bisa menjadi kesempatan untuk melarikan diri! " ucapnya setengah berbisik ke Nia.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍