Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 93. Another Dua Satu Plus



Selamat Membaca,


disarankan membaca saat tidak berada di tempat kerja 馃き


.


.


.


Rendra melepaskan ikatan tali pada bagian belakang backless gow**n yang dikenakan Nia. salah satu tangannya masuk melalui celah - celah gown dan mencari pegunungan yang tadi siang sempat Ia mainkan.


Nia berusaha menikmati permainan yang dibuat oleh Rendra walau sebetulnya dia merasa geli dan aneh di saat yang bersamaan. Tapi tidak dapat dipungkiri, Ia pun menikmati permainan Rendra.


Kepalanya menengadah, bersandar di pundak Rendra. Menikmati tiap rem#san yang dilakukan oleh Rendra. Ia menggigit bagian bawah biburnya, menahan agar des#han tidak lolos dari mulutnya.


Rendra beralih dengan memainkan puncak pegunungan, membuat Nia yang sudah berusaha menahan agar tidak mengeluarkan des#han menjadi kelepasan.


Rendra semakin intens memainkannya. Ia benar - benar merasa sudah sangat kesulitan untuj menahan tadi siang, kali ini Ia harus mendapatkan apa yang Ia inginkan.


Ia terus bermain di area pegunungan sambil menarik Nia perlahan ke arah tempat tidur. Setelah dirasa jaraknya cukup dekat, Ia memutar posisi dan menjatuhkan tubuh Nia ke atas tempat tidur sehingga saat ini posisi Nia sedang tengkurap.


Ia kemudian memutar tubuh Nia menjadi posisi terlentang. Ia membuka kaki Nia perlahan, namun tertahan oleh gaun yang Nia kenakan karena berdesain slim fit pada tubuh Nia. Akhirnya Ia pun terpaksa merobek sisi gaun sampai atas sehingga Ia bisa dengan leluasa membuka posisi kaki Nia.


Ia menciumi wajah Nia, kemudian berhenti di bibir dan memag*tnya penuh nafsu. Nia yang sudah terbawa nafsu membalas pagu*tan Rendra denga tidak kalah bernafsu. Rendra memag*t dengan tetap memainkan tangannya di puncak pegunungan milik Nia. Sesekali Nia meleng*h nikmat tiap kali Rendra sedikit memutar puncak pegunungan itu.


Puas memag*t, Rendra turun ke area leher dan menci*minya hingga puas, tangannya tetap bermain di area pegunungan milik Nia. Ia kemudian turun ke area pegunungan dan meng*lum puncak pegunungan dan tangannya telah berpindah posisi ke area bawah perut Nia.


" Sayang, kau sudah basah. " ucap Rendra taktala merasa ada yang basah di bawah sana.


Ia kemudian turun, menciumi area perut Nia dan semakin turun ke bawah. Dibukanya penutup lahan itu dan dilemparkannya ke sembarang arah.


Sekali lagi Ia tersenyum sumringah ketika melihat lahan yang siap Ia bajak terpampang di depan matanya.


" Kau siap? " tanya Rendra dengan wajah bernafsu.


Nia dengan ragu menganggukkan kepalanya. Sejujurnya Nia merasa takut akan rasa sakt yang bisa saja Ia rasakan nanti. Ia juga takut jika Ia berteriak berlebihan nantinya, bagaimana jika sampai terdengar dari luar. Batinnya.


" Bagaimana jika aku kelepasan berteriak? " tanya Nia.


" Kau bisa berteriak sepuasmu. Ruangan ini kedap suara, tidak akan terdengar dari luar. Sekeras apapun kau berteriak. " ucap Rendra.


" Baiklah, " sahut Nia.


Rendra perlahan membuka celana boxernya. Mempertontonkan pusakanya yang sudah berdiri tegak dan kokoh. Nia bahkan dibuat begidik karenanya. Bagaimana rasanya jika benda sebesar itu ditanamkan? Pasti akan robek san sangat sakit. Batinnya.


" Tenang, aku akan bermain sangat pelan. " ucap Rendra.


Nia menganggukkan kepalanya. Ini adalah saat - saat yang juga dinantikan oleh Nia. Saat di mana dia dan Rendra seutuhnya menjadi satu dan saling memiliki.


" Nikmati dulu permainanku. " bisik Rendra di telinga Nia, membuat bulu romanya berdiri seketika.


Rendra menghisap puncak pegunungan Nia lagi dengan satu tangan yang asik meremas dan memainkan puncak pegunungan lainnya, sedangkan satu tangannya menopang tubuhnya agar tidak terlalu menindih tubuh Nia.


Setelah beberapa menit, Ia turun ke bawah dan bermain dengan lahan milik Nia di bawah. Ia bermain menggunakan bibir dan juga lidahnya. Nia menger#ng merasa geli sekaligus nikmat di saat yang bersamaan. Rasanya aneh, namun membuat Nia merasa ketagihan.


Rendra segera berganti bermain dengan jarinya di area lahan milik Nia. Ia berganti meng*lum puncak pegunungan dan tetap memainkan jemarinya di sana hingga Nia mencapai puncak pelepasannya yang pertama.


Nalas Nia yang terengah - engah membuat Rendra semakin berkobar. Ia mendekatkan pusaka miliknya ke lahan perkebunan siap tanam milik Nia. Menggesek ya perlahan, membuat Nia terus menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, tangannya meremaa sisi bantal.


Dirasa cukup, Rendra pun memasukkan pusaka ke dalam liang lahan cocok tanam. Seperti terkejut, Nia hampir terbangun pada posisi duduk namun Rendea menahan agar posisi Nia tetap terlentang.


" Sss.... Ssakkkiit... " lirih Nia dengan mata terpejam.


" Tahan sebentar sayang " ucap Rendra sembari menatap wajah Nia yang sedang menahan sakit.


Bukannya mengehentikan aksinya saat melihat wajah kesakitan Nia, Ia justru tetap memasukkan pusaka miliknya ke dalam lubanh tanaman.


" Ss... Ssakkkit... Sakkit... " lirih Nia terus menerus.


" Rileks sayang, " ucap Rendra sambil tetap fokus memasukkan. Ia bersiap memberikan hentakan terakhir untuk membobol gawang milik Nia.


" Aaa.... " teriak Nia ketika pertahanan terkahirnya berhasil dibobol oleh Rendra.


Air matanya mengalir dari sudut mata. Rasanya sangat sakit, batinnya. Ia mulai sesenggukan dan menatap sendu wajah Rendra.


" Tahan sayang sakitnya hanya sebentar. Tahan. " ucap Rendra.


Ia mengecup kening dan hidung Nia. Kemudian Ia mulai menggerakkan tubuhnya, maju dan mundur perlahan.


Perlahan suara sesenggukan Nia menghilang, tergantikan oleh leng*han keduanya yang semakin lama semakin kencang.


Melihat Nia semakin menikmati permainan, Rendra mempercepat gerakannya. Menimbulkan suara khas insan yang sedang berc^nta.


" Sayang aku mau kencing lagi. " lirih Nia dengan mata terpejam menikmati gerakan Rendra. Tangannya meremas bantal, keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Begitu pula dengan Rendra.


" Bersamaan sayang, tahan. " ucap Rendra sambil tetap memandang wajah Nia yang terlihat kesakitan namun menikmati permainan.


" Sebentar lagi sayang, sebentar lagi. " ucap Rendra dengan napas terengah.


Nia terus meleng*h, menikmati permainan Rendra. Memang benar, sakit hanya saat awal saja. Selebihnya kenikmatan saja yang dapat Ia rasakan.


" Ssekarang sayang, " ucap Rendra sedikit mengerang.


Akhirnya, keduanya mencapai puncak bersamaan. Merasa saling terpuaskan dengan permainannya, melepaskan seluruh hasrat yang sudah tertahan sejak lama.


Setelah puas saling melepaskan, Rendra melepaskan dirinya. Ia melihat ada cairan berwarna merah mengalir di dekat liang permainannya tadi. Tanpa sadar, Ia tersenyum saat melihatnya.


Ia kemudian menghempas tubuhnya ke samping Nia dengan keringat yang bercucuran. Ia pun mendekap dan memeluk tubuh Nia. Mereka pun tertidur dalam keadaan masih saling berpelukan.


Malam itu, adegan panas hanya berlangsung sekali namun tentu saja tidak akan bisa mereka lupakan seumur hidup mereka.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Oke, lunas sudah up episode dua satu plusnya 馃槄


Karena sudah di up, jangan lupa jempol - jempolnya yah readers2 ku tersayaaang...


Jangan lupa beri rate, vote, like, dan komentar yah