
Selamat Membaca ~
" Kita berangkat malam ini. " ucap Rendra mendadak.
Andreas terkejut mendengar ucapan Rendra. Awalnya Rendra menyetujui jika mereka tidak akan ikut berangkat ke Kamboja, demi keamanan Rendra dan Nia.
" Kenapa tiba - tiba? " tanya Andreas.
" Perasaanku sangat tidak enak. " ucap Rendra.
" Kita harus berangkat. " lanjutnya.
" Tapi... " sahut Andreas terputus.
" Tidak ada tapi. Kita harus berangkat. " ucap Rendra seraya beranjak dari duduknya.
" Aku mengerti kekhawatiranmu. Jika itu maumu baiklah. " sahut Andreas.
" Katakan pada Anton untuk menunggu kita. " pinta Rendra.
" Baik, " sahut Andreas.
Andreas kemudian mengambil ponsel di saku celananya kemudian menelepon Anton, menyampaikan perintah Rendra.
" Aku sudah menyampaikan pada Anton. Dia ingin kita membawa lebih banyak anak buahnya. " ucap Andreas.
" Baiklah, atur saja. " ucap Rendra.
Kemudian Rendra berjalan menuju balkon. Pandangannya kosong, entah apa yang sedang Ia pikirkan. Siapapun yang melihatnya pasti menyadari. Laki - laki dingin dan terkesan angkuh itu nyatanya sangat terpuruk saat istrinya tidak ada di sisinya.
Andreas menatap saudaranya itu. Punggung yang selalu tegap, kini terasa kehilangan kekokohannya. Wajah yang biasa terlihat dingin namun cerah itu selalu terlihat murung.
Aku yakinkan, kita akan kembali ke Indonesia bersama istrimu. Dan juga kekasihku. Janji Andreas dalam hati.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Terdengar suara rintihan menahan sakit dari dalam sebuah ruangan. Tubuh Nia dipenuhi dengan keringat dingin. Sarah berusaha menempelkan keningnya pada kening Nia. Ia terkejut, Nia sedang demam.
" Nia... Nia.... " panggil Sarah.
Nia hanya menjawab denhan lirikan mata saja.
" Nia, kau demam.... Bagaimana ini... " Sarah menahan tangisnya.
Nia tidak mejawab. Wajahnya nampak sedang menahan sakit. Keringat membasahi wajah dan tubuhnya, sehingga membuat seluruh pakaiannya basah.
" Hei yang di luar! Tolong! Buka! " teriak Sarah.
Ia terus berteriak walau tidak ada tanda - tanda akan dibukanya pintu tempat mereka disekap.
Waktu sepertinya menunjukkan hampir malam, angin dingin mulai merasuk ke dalam ruangan. Nia yang memang sudah demam sejak sampai di sini sepertinya merasa kedinginan. Tubuhnya bergetar karena menahan rasa dingin.
Sarah merapatkan posisi tubuhnya pada Nia Berusaha memberi rasa nyaman dalam segala keterbatasan. Kedua tangan dan kaki mereka terikat. Tidak ada hal yang bisa Sarah perbuat untuk meringankan rasa sakit Nia.
Sarah hanya bisa menangis meratapi nasibnya dan juga Nia saat ini. Sepertinya, jika ini sudah selesai, akan meninggalkan trauma mendalam pada dirinya dan juga Nia.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Setelah melalui perjalanan udara sekitar 4 jam, jet pribadi milik Hartawan Grup tiba di Phnom Penh.
Kedatangan Rendra dan timnya sangat dirahasiakan. Mereka sudah menghubungi pihak bandara untuk membantu merahasiakan kedatangan mereka. Sama seperti Anton dan agennya, kedatangan Rendra dan timnya tetap dilaporkan sebagai kedatangan wisatawan.
Mobil yang membawa Rendra dan timnya melaju ke sebuah rumah mewah yang berada di pinggiran kota. Sengaja dipilih lokasi yang jauh dari pelabuhan karena titik terakhir posisi Nia dan Sarah terlacak berada di pinggiran kota.
Anton sudah stand by untuk menyambut kedatangan Rendra malam ini. Agen lainnya pun juga sudah stand by bersamanya.
" Selamat datang, Tuan. " sambut Anton saat Rendra baru saja turun dari mobilnya.
" Anda nampak... " ucap Anton menggantung. Ia memperhatikan Rendra dari atas ke bawah.
" Sedikit kacau. Sedikit. " lanjutnya.
Memang jika dilihat, Rendra yang terbiasa tampil rapi. Wajahnya yang bersih dan segar saat ini terlihat murung, jambang yang tidak terawat mulai nampak jelas di wajahnya. Kantung matanya pun nampak sangat hitam.
Rendra hanya menatap Anton tanpa merespon ucapan Anton.
" Namun tetap tampan, sangat pas untuk misi penyelamatan kali ini. " celetuk Anton
Rendra tidak merespon. Tubuh dan pikirannya terlalu lelah untuk menanggapi celoteh Anton.
Rendra langsung menuju ke ruang tengah, tempat agen lainnya sedang menunggunya. Rasa lelah dan penat Ia abaikan demi misi penyelamatan istrinya.
Anton yang baru bergabung langsung menjelaskan tentang strategi penyelamatan yang akan mereka lakukan.
Saat ini Anton sedang memasang sebuah kertas berukuran besar. Nampaknya kertas itu adalah sebuah blue print dari tempat di mana Nia dan Sarah disekap.
Mereka yakin, Sarah dan Nia akan dijaga sangat ketat mengingat sebelumnya mereka berhasil melarikan diri. Dan tentu saja, Jason tidak mau kecolongan lagi.
" Pastikan semuanya dalam keadaan aman dan siap. Keselamatan kalian juga yang utama. " ucap Rendra.
" Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Aku dan agen - agenku adalah orang yang sangat terlatih. Kami akan menyelamatkan Nyonya Karunia dan Nona Sarah dalam keadaan selamat dan aman. " ucap Anton.
Rendra membalas dengan anggukan.
Andreas menepuk pelan bahu Rendra, " Bersemangatlah. Kita akan segera bertemu dengan Karunia dan juga Sarah. "
Rendra tersenyum, terlihat sangat tampan walau dengan senyum yang dipaksa. " Terima kasih, saudaraku. Padahal kau juga orang yang sedang mengalami kesedihan saat ini. Tapi kau selalu bisa membantuku nerasa tenang. "
" Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, saudaraku. " sahut Andreas dengan tersenyum.
Pemandangan yang sungguh sangat jarang dilihat. Dua laki - laki yang berasal dari kutub itu saling tersenyum dan saling memberi semangat.
" Coba kau lihat, Tuan Narendra dan Tuan Andreas terlihat sangat tampan dan gagah. " celetuk Jessie di telinga Andra.
Andra menjitak pelan kening Jessie. " Kembalikan kesadaranmu! Mereka berdua sudah memiliki pawang masing - masing. "
" Ya kan aku hanya bilang mereka tampan dan gagah, bukan berarti aku ingin bisa bersama dengan mereka. " gerutu Jessie.
" Terlalu banyak menonton telenovela memang kau ini. " bisik Andra di telinga Jessie.
" Sst. Berisik. " sahut Jessie kesal.
" Kita akan mulai besok saat fajar. Persiapkan diri kalian. " ucap Anton.
" Tantangan dan bahaya yang akan kita temui tidak main - main. Lawan kita adalah orang nekat yang sangat berbahaya. " Anton memperingatkan lagi agen - agennya.
" Baik, Tuan. " sahut semua agen.
" Sekarang beristirahatlah. " ucap Anton lagi.
Kemudian seluruh agen bubar san beristirahat di ruangannya masing - masing.
" Besok kita akan melanjutkan pertemuan denan duta besar Indonesia yang ada di sini.Beliau akan memfasilitasi kita agar kita bisa bertemu dengan pemerintah. " ucap Andreas.
Rendra mengangguk dengan wajah lesu.
" Beristirahat dan rapikan dirimu. Kita harus memberi kesan terbaik untuk besok. " ucap Andreas, lagi.
Sekali lagi, Rendra hanya menjawab dengan anggukan singkat sebelum Ia masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Jempol mana jempol? Jempolnya dong, bunga kopi juga boleh bangettt