
Selamat Membaca ~
Setelah menjalani perawatan selama lima hari, Nia sudah diijinkan untuk keluar dari rumah sakit. Rendra berencana untuk segera membawa Nia kembali ke Indonesia agar Nia bisa terus dalam pengawasan dokter.
Sesuai arahan dokter yang menangani, Nia dan Sarah bukan hanya menjalani pengobatan fisik saja. Melainkan juga ke psikiater.
Rendra sudah menyiapkan psikiater terbaik di Indonesia untuk membantu memberi terapi Nia dan Sarah. Ia juga sudah menyiapkan tim kuasa hukum terbaik untuk kasus Jason.
Rudi Hanggono juga ikut membantu Rendra selama proses persiapan penuntutan Jason. Ia tidak ingin pelaku kejahatan terhadap anak perempuan satu - satunya bisa bebas.
" Apa yang sedang kau pikirkan? " tanya Rendra kepada Nia yang terlihat sedang melamun di atas kursi roda.
Nia menoleh dan tersenyum simpul, tangannya menunjuk ke arah langit di luar. " Langitnya cerah. Bentuk awan - awannya bagus. "
" Suka? " tanya Rendra.
" Iya, aku selalu suka melihat ke arah langit dan awan. " jawab Nia.
" Aku senang kau sudah bisa tersenyum. " ucap Rendra seraya mengusap lembut pundak Nia.
Terbayang keadaan Nia saat baru diselamatkan, Rendra benar - benar merasa bersyukur saat Nia sudah mengalami banyak kemajuan. Ia sudah bisa tersenyum walau hanya senyum singkat.
" Terima kasih. " ucap Nia.
" Untuk? " tanya Rendra tidak mengerti.
Rendra memutar posisi kursi roda Nia kemudian Ia berjongkok di hadapan Nia.
" Untuk menyelamatkan aku. " jawab Nia seraya mengusap punggung tangan Rendra.
Rendra merubah posisi tangan hingga saat ini Ia sedang menggenggam tangan Nia. Mengusapnya pelan dengan tangannya, kemudian mengecupnya.
" Tidak usah berterima kasih. Itu semua adalah sebuah keharusan. " sahut Rendra.
" Seharusnya aku yang berterima kasih dan juga meminta maaf padamu. " ujar Rendra.
" Untuk? " tanya Nia.
" Kenapa kau meniru pertanyaanku tadi? " tanya Rendra seraya mengetuk pelan hidung Nia.
" Tidak boleh? " tanya Nia.
Rendra terkekeh, sepertinya Nia sudah mengarah kembali menjadi normal seperti dulu. Batin Rendra.
" Untuk... " jawab Rendra terputus.
Ia menatap lekat - lekat wajah wanita yang kemarin sempat lama Ia tidak bisa lihat secara langsung. Menatap dengan penuh rasa sayang.
" Bertahan sekuat itu. Kau adalah wanita terhebat yang aku pernah tau. " lanjutnya.
Nia tersenyum mendengar jawaban Rendra. Ia kemudian memeluk suaminya dengan erat. Merasakan kehangatan pelukan yang kemarin sangat Ia rindukan.
" Ehm. " sebuah suara deheman mendadak terdengar dari pintu ruangan.
Rendra dan Nia menoleh ke arah sumber suara, terlihat Sarah dan Andreas berdiri di sana.
" Pagi - pagi sudah membuat iri saja. " celetuk Sarah.
Sarah kemudian menghampirinya dan memeluk Nia.
" Kau ini, sudah dapat pelukan dari Rendra. Masih saja meminta pelukan dariku. apa tidak cukup? " celoteh Sarah.
Nia mencubit kecil lengan Sarah. " Kau ini. "
" Apa kalian sudah siap kembali ke Indonesia? " tanya Rendra.
" I can't wait any longer. I miss my dad so much. " jawab Sarah.
" Aku juga. Aku udah kangen masakan Bi Habsya. " sambung Nia antusias
Andreas dan Rendra tersenyum melihat keduanya, merasa bersyukur keduanya sudah kembali seperti sedia kala.
" Jadi, apa kalian akan segera menikah? " tanya Nia.
Andreas dan Sarah saling berpandangan.
" Semua itu tergantung Tuan Rudi Hanggono. " jawab Andreas dengan tenang.
Sarah menatap Andreas. Ia nampak tidak suka dengan jawaban Andreas.
" Kenapa bisa tergantung ayahku? Yang menikah kan aku. Tentu saja itu semua tergantung pada keputusanku. " timpal Sarah.
" Tapi tetap saja, keputusan orang tuamu tetap harus kau pertimbangkan. " jawab Andreas.
" Ini hidupku, aku yang menjalani. Akulah yang memutuskan apa yang akan aku jalani ke depannya. Apa yang harus aku pilih, itu adalah keputusanku. " sahut Sarah dengan nada bicara yang meninggi.
" Tapi tetap saja, kau tidak akan pernah ada di dunia ini tanpa kedua orang tuamu. " sahut Andreas.
Kini, Andreas dan Sarah saling menatap dengan wajah kesal. Rendra dan Nia hanya bisa saling berpandangan, entah apa yang harus mereka lakukan.
" Sudah sudah. Nanti saja dibicarakan lagi setelah keadaan lebih baik, dan saat kalian sudah lebih tenang. " ucap Nia.
" Andreas, bukankah Tuan Hanggono pernah mengatakan jika kau berhasil menyelamatkan Sarah dia akan mengijinkanmu memiliki ikatan yang lebih serius dengan Sarah? " tanya Rendra.
" Benarkah? " tanya Sarah berbinar.
" Ya, ayahmu oernah mengatakannya. " sahut Andreas.
" Lalu kenapa kau masih saja takut dan ragu? Atau, kau memang sudah tidak mau lagi denganku? Ada wanita lain? " Sarah bertanya dengan kecepatan tinggi.
" Tetap saja, tidak semudah itu. " sahut Andreas.
Mendengar jawaban Andreas, emosi Sarah kembali terpancing.
" Terserah kau saja! " sahut Sarah.
Sarah kemudian berjalan keluar dari ruangan perawatan Nia dengan kasar. Kakinya dihentakkan kasar saat berjalan. Ia bahkan tidak menoleh lagi.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Mulai berbahagia, itu yang dirasakan Rendra, Nia, Andreas, dan Sarah. Berbeda lagi dengan Jason.
Setelah mendengar ucapan Anton beberapa waktu lalu, entah mengapa Ia menjadi gusar. Apa mereka sudah tau rahasia terbesarnya? Tidak mungkin. Tidak ada yang tau selain dia. Dan mereka tidak mungkin senekat itu untuk mencari tahu tentang kebenaran semuanya.