
Selamat Membaca ~
Andra dan Jessie membaca alamat yang tertera pada kartu tanda pengenal itu dengan teliti. Mereka bertanya pada warga sekitar dan akhirnya menemukan rumah Bu Aisyah setelah seorang anak kecil berusia 10 tahun bersedia mengantar mereka.
" Terima kasih anak kecil, ini untukmu. " ucap Jessie kemudian menyerahkan sebungkus besar permen cokelat.
Anak kecil itu menerima permen itu kemudian pamit meninggalkan Andra dan Jessie.
" Ayo kita masuk, " ajak Jessie.
Andra mengangguk dan kemudian mereka masuk ke dalam area rumah Bu Aisyah.
" Siapa kalian? " tanya Bu Aisyah yanh sedang terududuk di ruang tamu.
" Selamat siang Bu, saya Jessie. Dan ini teman saya, Andra. " sapa Jessie.
" Ya? Ada yang bisa kubantu? " tanya Bu Aisyah.
" Kami berniat untuk menyerahkan ini. " ucap Jessie kemudian menyodorkan dompet kecil berwarna hitam kepada Bu Aisyah.
Bu Aisyah terkejut saat menerima dompet itu dari Jessie.
" Masuklah, silakan duduk. " ucap Bu Aisyah.
Jessie dan Andra kemudian masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
" Bagaimana kalian bisa menemukan dompetku? " tanya Bu Aisyah.
" Kami menemukannya di ruang telepon tempat sewa telepon umum, Bu. " jawab Andra.
Kening Bu Aisyah mengernyit. Ke mana dua orang wanita itu tadi? Batinnya.
" Benarkah? Bagaimana bisa dompetku ada di sana ya. " ucap Bu Aisyah berpura - pura tidak tahu.
" Bu, apakah Anda pernah melihat dua orang wanita ini? " tanya Andra to the point seraya menunjukkan selembar foto.
Wajah Bu Aisyah berubah ekspresi. Bagaimana bisa dia tahu tentang dua orang wanita itu?
" Jawab saja Bu, kami orang baik. Kami sedang mencari cara agar bisa menyelematkan dua orang wanit ini. " jelas Andra.
" Betul, Bu. Salah satu di antara mereka adalah istri dari pimpinan kami. Sehingga kami harus bisa segera menemukan mereka. " imbuh Jessie.
" Salah satu di antara mereka sedang mengandung, kami harus segera menyelamtkan mereka. " Jessie memasang ekspresi wajah memelas.
" Ya, aku tahu dua wanita itu. " akhirnya Bu Aisyah buka suara.
" Kapan dan di mana Anda bertemu dengan menerima mereka? " tanya Jessie.
" Salah satu dari mereka menghampiriku dan meminta minum. Dia bilang ada temannya yang sedang hamil dan sedang tidak enak badan. Kemudian aku mengajak mereka kemari untuk beristirahat. " jawab Bu Aisyah.
" Apakah ada hal aneh saat mereka kemari bersama Anda? " tanya Andra.
" Tidak. Hanya saja memang aku merasa memang ada yang aneh. Seperti ada yang mengikuti. " jawab Bu Aisyah.
" Kenapa Anda memberikan dompet aAnda kepada mereka berdua? Bukankah kalian baru pertama kali bertemu? " tanya Jessie.
" Entahlah, aku hanya merasa mereka adalah orang baik dan aku harus menolongnya. Mengingatkanku pada anakku yang sudah pulang ke Malaysia. " jawab Bu Aisyah.
" Jadi, Bu Aisyah adalah orang Malaysia? " tanya Jessie.
Andra dan Jessie menganggukkan kepala mereka bersamaan.
" Bu, bisakah kami meminta tolong? " tanya Andra.
" Apa itu, nak? Selama aku bisa, aku akan membantu. " sahut Bu Aisyah.
Kemudian Andra menjelaskan bahwa Nia dan Sarah adalah korban penculikan. Saat ini Ia dan Jessie sedang berusaha mencari dan menyelamatkan mereka berdua.
" Jadi, jika bisa. Apakah Ibu bisa membantu kami menggerakkan warga sini untuk ikut membantu mencari Nyonya kami? " tanya Andra.
" Saya yakin pihak lawan tidak akan berdaya menghadapi amukan warga lokal, ketika warga lokal tau perbuatan keji mereka. " lanjut Andra.
Bu Aisyah tampak sedang berpikir. Ia menatap foto keluarganya, nampak di situ Ia dan mendiang suaminya duduk di kursi sambil memangku seorang anak kecil berusia sekitar 2 tahun. Sedangkan di belakangnya ada sepasang muda sedang berdiri memeluk pundak Bu Aisyah dan mendiang suaminya.
" Aku akan membantu. Aku akan meminta tolong ke ketua komunitas di sini. Aku yakin, kalau hanya sekedar ke pihak keamanan, mereka juga sudah dibayar oleh pihak jahat. " ucap Bu Aisyah.
" Baik, terima kasih Bu. " sahut Andra.
" Kalau begitu, kami permisi dulu. " pamit Jessie.
Kemudian Andra dan Jessie pun berpamitan dari rumah Bu Aisyah.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Di sebuah bangunan yang tidak terpakai, masih di area pelabuhan ~
" Kau mendapatkan mereka? " tanya Kevin.
" Ya, bos. " sahut laki - laki pertama.
Dua laki - laki bertubuh kekar itu kemudian meletakkan tubuh Nia dan Sarah dengan perlahan ke atas kasur tipis.
" Ikat tangan dan kaki mereka. " perintah Kevij.
Kedua laki - laki besar itu kemudian mengikat kedua kaki dan tangan Nia dan Sarah.
" Pastikan terikat dengan erat! " perintah Kevin.
" Baik, Tuan. " sahut laki - laki itu
" Sekarang kalian keluar! Berjagalah di luar. " perintah Kevin.
" Baik, Tuan. "
Kemudian dua laki - laki bertubuh besar itu pun pergi keluar dan berjaga di luar ruangan.
Kevin mendekati Nia dan Sarah yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia menarik kepala Sarah hingga kepalanya terangkat. Berada di bawah pengaruh obat membuat Nia dan Sarah tidak dapat merasakan apa yang sedang terjadi pada mereka.
" Gara - gara kalian aku hampir saja kehilangan nyawaku. " Kevin yang geram menekan pipi Sarah.
" Aku pastikan Narendra Hartawan merasakan akibatnya! " ucap Kevin dengan senyum menyeringai.
Setelah memastikan ikatan pada kaki dan tangan cukup erat, Kevin pun leluar meninggalkan Nia dan Sarah yang masih dalam keadaan tidak sadar.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍