Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 94. Bulan Madu



Selamat Membaca ~


Rendra dan Nia masih terlelap ketika matahari sudah masuk melalui celah - celah gordyn. Adegan panas semalam benar - benar menguras tenaga mereka hingga membuat mereka tidur sangat lelap.


Nia bangun terlebih dahulu daripada Rendra. Ia menatap Rendra yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia terbayang adegan panas semalam antar dirinya dengan Rendra.


Ia merasa inti tubuhnya sangat nyeri dan perih. Namun setiap sensasi nyeri yang timbul, justru mengingatkannya pada kenikmatan yang Ia rasakan semalam. Di mana Ia pun berulang kali meleng*h menikmati pacuan Rendra semalam.


Aku sudah menjadi seorang istri seutuhnya, batinnya.


Jari lentiknya menepikan rambut yang menutup wajah Rendra. Menyentuh dan menyisir lembut alis Rendra, turun ke daerah pipi. Ia kembali tersenyum menatap wajah tampan suaminya. Teringat bagaimana semalam suaminya tetlihat berkali - kali lipat lebih tampan saat "bermain" bersamanya.


Rendra yang merasa wajahnya mendapat sentuhan pun terbangun, Ia membuka matanya perlahan dan melihat Nia di depannya sedang tersenyum menatap dirinya.


" Sayang, kau sudah bangun? " tanyanya dengan suara berat dan serak.


Sangat seksi, gumam Nia.


Ia kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Rendra.


" Jangan memancingku sayang, apakah kau tidak tahu junior selalu berdiri tegak di pagi hari? " ucap Rendra, masih dengan suara berat dan seraknya.


Nia menarik jarinya yang sedari tadi masih menempel pada wajah Rendra. Namun Rendra menarik tangan Nia dengan cepat, dan mengarahkannya ke junior miliknya yang memang sudah mengeras dan tegak.


Mata Nia membulat, benar - benar sudah sangat keras. Pekiknya dalam hati.


Tanpa meminta persetujuan, Rendra segera menindih tubuh Nia. Wajahnya yang masih menggambarkan wajah seseorang bangun tidur terlihat sangat tampan, membuat Nia lagi - lagi terpana.


" Junior ingin bermain ke dalam sangkar. " bisik Rendra di telinga Nia.


Sekali lagi mereka bermain hingga mencapai puncak kenikmatan yang tidak dapat digambarkan berkali - kali.


Seluruh bagian tubuh ramping Nia secara keseluruhan menjadi candu bagi Rendra. Bahkan sudah tidak terhitung berapa tanda kepemilikin pada tubuh Nia. Bukan hanya di leher, bahkan di dada, perut, bahkan dekat area sel#ngkangnya pun dipenuhi tanda kepemilikan.


Setelah melakukan olahraga pagi hingga mencapai kepuasan, Rendra membaringkan tubuhnya di samping Nia. Ia menarik Nia dan mendekapnya dengan erat. Ia menciumi puncak kening Nia berulang kali, tanda sangat menyayangi istrinya itu.


" Masih sangat sakit? " tanya Rendra.


Nia mengangguk dalam pelukan Rendra.


" Maafkan aku, karena memberi rasa nyeri itu. Tapi bukankah kau jadi ketagihan? " tanya Rendra dengan nada jahil.


Nia memukul pelan dada suaminya. Memang tidak dapat dipungkiri, walau terasa sakit Nia sangat menikmatinya.


Setelah cukup beristirahat, Nia ingin membersihkan dirinya. Tubuhnya begitu penuh dengan peluh kenikmatan sejak semalam.


" Aw! " pekiknya membangunkan Rendra.


Ia merapatkan posisi kakinya dan membungkuk Menahan rasa nyeri dan perih pada bagian intinya.


Melihat Nia kesakitan, Rendra segera bangkit dan berniat membantu Nia menuju kamar mandi.


" Apakah sangat sakit? " tanya Rendra sembari berusaha memegang tubuh Nia yang sedikit membungkuk.


Nia mengangguk sebagai tanda jawaban. Rendra mengangkat wajah Nia dan mendapati ada bulir bening keluar dari ujung matanya.


Merasa bersalah, Rendra segera membopong tubuh Nia dan membantunya ke kamar mandi.


Rendra mengisi bath up dengan air hangat. Setelah dirasa cukup terisi, Ia membantu Nia masuk ke dalamnya dengan perlahan. Wajah Nia yang meringis menahan sakit membuat Rendra merasa bersalah.


Ia membantu Nia menggosok tubuh Nia dalam diam. Terlihat beberapa bekas tanda kepemilikan berwarna merah bahkan kebiruan pada kulit Nia. Kulitnya yang berwarna putih menunjukkan bekas tanda itu dengan sangat jelas. Ia mengecup perlahan salah satu tanda kepemilikan miliknya dan mengusapnya perlahan.


Setelah selesai membantu membersihkan tubuh Nia, Rendra pun melanjutkan dengan membersihkan tubuhnya. Masih dengan Nia yang masih berada dalam bath up.


Setelah keduanya selesai, Rendra membantu Nia lagi untuk keluar dari bath up. Membantu Nia mengeringkan tubuh dan rambutnya.


Dan, permasalahan timbul lagi saat pemilihan pakaian. Pakaian yang masih cukup normal dikenakan adalah dress selutut dengan model off shoulder. Tidak ada pilihan lain, Nia memilih menggunakannya daripads menggunakan backless gown di siang hari.


Namun tanda kepemilikan di leher dan area pundaknya terlihat jelas. Ia menjadi putus asa. Akhirnya, Ia memutuskan menutupi tanda kepemilikan itu dengan concealer.


" Cukup tertutupi, daripada tidak sama sekali. " gumamnya.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Siang itu Nia dan Rendra melanjutkan kegiatan bulan madu dengan menikmati pantai - pantai yang ada di Nusa Penida. Atuh Beach menjadi destinasi pertama mereka.


Nia yang selama ini jarang bisa bermain di pantai merasa kegirangan. Ia merasa sangat senang dan bersemangat ketika telah sampai di pantai. Walau dia berjalan masih sedikit tertatih karena rasa nyeri yang muncul di area intinya.


Mereka akan berada di Nusa Penida selama dua hari, untuk kemudian melanjutkan ke Pantai Pulau Cinta di Gorontalo.


Sebetulnya Rendra sudah mengajak Nia untuk berlibur ke Daerah Eropa, namun Nia lebih ingin menikmati keindahan alam yang ada di Indonesia. Mengalah pada kemauan sang istri akhirnya bulan madu kali ini mereka akan berkeliling di beberapa titik tempat wisata yang ada di Indonesia. Bahkan Raja Ampat pun sudah masuk ke dalam daftar destinasi bulan madu mereka.


Setelah menikmati Atuh Beach hingga sore hari, mereka kembali ke resort. Mengistirahatjan sejenak tubuh mereka sebelum melanjutkan perjalanan mereka esok hari.


Daaan, tentu saja. Rendra tetap melanjutkan aksinya. Bermain kuda pacu bersama Nia, mengajari Nia berbagai gaya agar dapat merasakan sensasi berbeda setiap kali mereka bermain.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍