
Sudah beberapa hari sejak kedatangan awal Jason dan tommy ke Kantor Utama Hartawan Group. Jason terus berusaha menjalin komunikasi dengan Narendra.
Melihat kesungguhannya, Rendra mulai memikirkan kemungkinan menjalin kerjasama dengan perusahaan Jason.
Namun, Ia tetap meminta Andreas mengawasi pergerakan Jason dan perputaran kinerja perusahaan Jason. Rendra Tidak akan mengambil resiko yang sudah jelas nyata nampak mengingat Ia ragu dengan kapabilitas perusahaan Jason.
Rendra yakin Jason memiliki pendukung lain. Entah semacam perusahaan lain atau bisnis lain.
tok tok tok
Andreas kemudian masuk ke dalam ruangan Rendra. Mendapati Rendra sedang serius membaca berkas, Andreas pun tidak berani mengganggu dan berniat kembali keluar dari ruangan.
" Mau ke mana kau? " tanya Rendra.
" Maaf Tuan, saya melihat Anda sedang sibuk. Saya tidak berani mengganggu Anda. " jawab Andreas.
Rendra menatap tajam ke arah Andreas tanpa mengatakan apapun.
Andreas menghela napasnya, Ia pun urung keluar dari ruangan dan menutup kembali pintu ruangan.
" Kenapa kau menghela napasmu seperti itu? " tanya Rendra.
" Saya hanya memastikan setiap partikel oksigen masuk dengan benar ke tiap - tiap pembuluh darah yang menyalurkan darah dan oksigen ke otak saya. " jawab Andreas dengan asal.
Rendra kembali menatap Andreas dengan tajam.
" Apa yang mau kau sampaikan tadi? " tanya Rendra.
Andreas menyerahkan sebuah i-pad ke Rendra.
" Berdasarkan penelusuran terhadap penggusuran dan pembukaan lahan di daerah O, ternyata penggusuran itu mendapat dukungan sepenuhnya dari walikota. " ucal Andreas.
Rendra menatap layar i-pad yang Ia pegang dan membaca tiap detail kalimat di situ.
" Lalu? " tanya Rendra.
" Itulah mengapa pihak pemerintah daerah tidak memberi sanksi tegas kepada penggusur walau daerah O merupakan daerah yang memang dipusatkan untuk pelestarian lingkungan. " jawab Andreas.
" Namun saya yakini, ada orang lain yang bergerak di belakang walikota. " lanjut Andreas.
" Maksudmu? " tanya Rendra.
" Setelah saya cari tahu, saya temukan bahwa walikota bukan merupakan orang dengan latar belakang bisnis seperti ini. Seluruh anggota keluarganya terikat dengan dunia politik, dan tidak melebarkan usaha dalam bidang industri. " jawab Andreas.
" Saya mendapat infornasi bahwa penggusuran dimaksudkan untuk membuka lahan industri khusus bahan kimia. " lanjut Andreas.
" Dan itu bukan watak walikota. " ucap Andreas lagi.
" Menurutmu, siapa yang ada di balik senua ini? " tanya Rendra.
" Saya sedang menyelidiki lebih lanjut. " jawab Andreas.
" Salah satu mata - mata kita menemukan bahwa walikota sering mengunjungi Private Night Bar di pusat kota dan pinggiran kota. " lanjut Andreas.
" Selidiki lebih lanjut. " perintah Rendra.
" Baik. " jawab Andreas.
" Tapi ingat, bermain aman. Jangan sampai kau turun tangan sendiri. " ucap Rendra.
Bagi Rendra, Andreas adalah satu - satunya keluarga yang Ia punya. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Andreas menjaga Rendra seperti menjaga adik kandungnya sendiri.
Andreas mengangguk kemudian Ia keluar dari ruangan Rendra.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Nia hari ini ada janji temu dengan Sarah. Mereka akan melepas rindu setelah berbulan - bulan tidak bertemu.
Nia sudah meminta ijin ke Rendra untuk tidak pulang malam ini. Ia ingin menginap di tempat Sarah malam ini. Menghabiskan malam saling bergosip seperti yang sebelum - sebelumnya Ia lakukan bersama dengan Sarah.
" Niaa!! " teriak Sarah dari dalam mobilnya.
Nia melambaikan tangannya ke arah Sarah. Ia berjalan cepat ke arah mobil Sarah yang saat ini terparkir di seberang kantor.
Setelah masuk ke mobil, Nia memeluk Sarah. Fia sangat merindukan Sarah. Ia tahu Sarah sangat sibuk karena memegang posisi penting di perusahaan milik orang tuanya.
" Temani aku shopping. Sudah lama sekali aku tidak berbelanja. Rasanya sudah harus aku hamburkan uangku. " ucap Sarah.
Nia terbahak mendengar celoteh Sarah.
" Oke, siap nona presdir. " sahut Nia.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Setelah puas berbelanja dan menikmati makan malam, Nia dan Sarah bersiap untuk pulang ke apartemen Sarah.
Bruk
Salah satu tas belanja yang dibawa Nia terjatuh. Terlalu banyak tas belanja membuat tangan kecil Nia tidak dapat membawa semua tas belanja.
Ketika Nia hendak meraih tas belanja yang jatuh, seseorang mengambil dan menyerahkan tas belanja yang jatuh itu kepada Nia.
" Apa kalian perlu bantuan untuk membawa barang belanjaan kalian? " tanya laki - laki itu dengan sopan.
Sarah yang berjalan terlebih dahulu akhirnya berbalik menghampiri Nia yang sedang berdiri berhadapan dengan Jason.
" Nia, apa kau mengenalnya? " tanya Sarah berbisik ke telinga Nia.
Nia mengangguk.
" Sarah, ini adalah Tuan Jason. " ucap Nia mengenalkan Jason kepada Sarah.
Jason mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sarah.
Sarah tidak membalas uluran tangan itu beralasan tangannya yang penuh dengan tas belanjaannya.
Jason pun akhirnya menarik uluran tangannya.
" Apa yang sedang kaublakukan di sini, Karunia? " tanya Jason.
" Ah, aku bertemu dengan temanku dan kami berbelanja. " jawab Nia.
Jason mengangguk - anggukkan kepalanya.
" Anda sendiri, apakah sedang ada urusan di sekitar sini? " tanya Nia.
" Aku hanya kebetulan lewat sini dan melihatmu dari kejauhan. " jawab Jason.
" Oh begitu. " sahut Nia.
Suasana canggung terasa di antara mereka. Sarah yang peka segera mengajak Nia untuk berpamitan.
" Nia, ayo kita pulang. Sudah malam. " ajak Sarah.
" Kami pamit Tuan Jason. " pamit Nia.
" Iya, pulanglah. Hati - hati di jalan. " ucap Jason.
Nia dan Sarah pun akhirnya berpamitan
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Di apartemen Sarah ~
" Siapa laki - laki asing itu tadi Nia? " tanya Sarah.
Nia yang baru saja selesai mandi sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kemudian Ia duduk di kursi kecil di samling tempat tidur.
" Namanya Tuan Jason. Jason Alexander, jika aku tidak salah ingat. " jawab Nia.
" Bagaimana bisa kau mengenalnya? " tanya Sarah.
" Hm.. Kami tidak sengaja bertemu saat aku dsn Raya makan siang di warteg. " jawab Nia.
" Warteg? " tanya Sarah.
" Iya. Kenapa? " tanha Nia.
" Aneh jika orang seperti dia berkeliaran di tempat sepeeti warteg. " jawab Sarah.
" Maksudku, coba kau lihat style nya. " lanjut Sarah.
" Dia tampak seperti om - om kaya raya yang tidak akan mau ke tempat seperti warteg. Terlihat seperti om - om yang suka merayu wanita. " ucap Sarah.
" Dari mana kau tau? " tanya Nia.
" Kau tau? Tiba - tiba kau berubah menjadi sok tau begini aku menjadi agak takut. Hahaha. " goda Nia.
" Enak saja. Intuisi. Insting. Firasat. Firasatku tajam. " sahut Sarah.
" Entahlah, aku hanya merasa ada yang tidak beres dengan laki - laki itu. " ucap Sarah.
" Berhati - hatulah dengan orang itu. Jaga jarak. Jangan terlalu welcome. " nasihat Sarah. Wajah dan nada bicaranya terdengar serius.
Melihat Sarah seperti sangat bersungguh - sungguh dalam menasehatinya, Nia merasa Ia benar - benar perlu waspada dan menuruti nasehat Sarah.
Memang, sedari awal Nia merasa ada yang janggal dengan Jason. Tapi Ia tidak tau apa, Ia hanya merasa orang itu aneh dan tiba - tiba suka mendekatinya dan juga Raya.
" Ayo ceritakan padaku, bagaimana sensasi ciuman pertamamu. " goda Sarah.
Nia melempar handuk basah yang tadi melingkar di rambutnya ke arah muka Sarah.
" Tidak usah malu, adik kecil. Ayo cerita sama kakak. " goda Sarah lagi.
Akhirnya malam itu mereka habiskan dengan bercerita. Nia menceritakan tentang Rendra. Dan Sarah menceritakan tentang pekerjaan dan tentang orang tuanya sudah memintanya untuk segera menikah.
Problematika wanita dewasa 馃ゲ
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
......Nia (kiri) dan Sarah (kanan) ......