
Setelah sarapan, Rendra meminta Nia untuk berangkat bersamanya. Awalnya Nia menolak, Ia tidak mau dianggap sebagai orang yang aji mumpung dan tidak tahu malu.
Namun Rendra memberinya pengertian, bahwa ini adalah cara termudah tapi paling ampuh untuk menghilangkan skandal kemarin.
Nia pun akhirnya menuruti ucapan Rendra. Tidak ada pilihan lain. Betul kata Rendra, ini adalah jalan termudah untuk saat ini. Batin Nia.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Rendra sengaja meminta Andreas menghentikan mobilnya tepat di pintu masuk gedung. Biasanya, Ia meminta Andreas untuk parkir di tempat parkir langsung. Karena saat ini Ia sedang membawa "misi", jadi Ia meminta Andreas parkir di depan pintu maduk lobby.
Rendra bahkan turun terlebih dahulu dan berlari membukakan pintu untuk Nia. Andreas hanya berdecih dalam hati. Sudah jelas ada maunya. Gerutunya dalam hati.
Saat ini, banyak mata yang memandang ke arah mereka. Tidak sedikit dari mereka yang tidak dapat mengontrol ekspresi wajah bahkan lebar mulut mereka yang menganga.
Rendra acuh, tetap berjalan sambil menggenggam tangan Nia. Sesekali Ia menatap Nia dengan tatapan yang dalam dan senyuman yang hangat.
Seperti sudah dibriefing dengan paripurna, Nia membalas tatapan Rendra dan senyuman yang merekah di wajahnya.
Ia dan Nia berjalan menuju lift. Andreas masih tetap setia mengekor di belakang mereka.
Setelah masuk di dalam lift, Rendra bahkan tidak melepaskan genggamannya. Ia masih menggenggam tangan Nia dengan erat. Sebetulnya Nia nerasa segan, apalagi di dalam lift juga ada Andreas.
" Kau tau harus bagaimana kan? " tiba - tiba Rendra buka suara.
Nia dan Andreas kebingungan. Siapa yang sedang diajak bicara oleh Rendra? Keduanya hanya terdiam.
Rendra kemudian menatap Nia. " Aku sedang berbicara denganmu. "
Rendra mengatup wajah Nia dengan kedua tangannya. Mendekatkan jarak antara wajahnya dengan wajah Nia.
" Aku tahu kau adalah wanita yang kuat. Kau berbeda dengan wanita lainnya. " ucap Rendra.
" Jadilah kokoh. Aku yakin, calon ibu dari anak - anakku adalah wanita yang tangguh. " ucap Rendra.
Nia terdiam mendengar ucapan Rendra. Matanya berkaca - kaca.
Apa tadi dia bilang? Calon ibu dari anak - anaknya? batin Nia. Matanya membulat menatap Rendra yang maish tetap menatapnya dalam - dalam.
ting
Pintu lift terbuka. Nia pun pamit untuk keluar terlebih dahulu.
(Apa kabar Andreas? Saksi hidup yang sedari tadi melihat Rendra menggenggam tangan Nia, ikut mendengarkan ucapan Rendra untuk Nia. Jantung aman?)
Bucin. Ucap Andreas dengan ketus, tentunya dalam hati.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Siang ini Nia ada janji makan siang bersama Sarah. Ia juga mengajak Raya untuk makan siang bersama mereka di cafe seberang kantor.
" Raya, yuk sekarang. " ajak Nia.
" Oke. " sahut Raya.
Sebelumnya, Raya juga sudah mengenal Sarah. Namun tidak terlalu dekat karena sebelumnya Sarah berada di divisi produksi, sehingga mereka jarang berinteraksi.
" Sarah! " teriak Nia sambil berlari ke arah Sarah.
Sarah beranjak dari kursinya dan menyambut Nia dengan pelukan. Padahal baru beberapa hari lalu mereka bertemu, tapi dia sudah merindukan sahabatnya yang sudah seperti adiknya ini.
" Pesanlah makan siang untuk kalian. Aku sudah pesan tadi. " ucap Sarah.
Nia dan Raya membolak - balik menu makanan dan akhirnya memutuskan menu yang akan mereka pesan.
" Jadi... Ada berita ramai apa kemarin? " tanya Sarah memancing pembicaraan.
" Bagaimana kau bisa tau? " tanya Nia.
" Well, kau lupa ya. Aku masih punya mata dan telinga di sini? " ucap Sarah.
Nia mengernyit. Siapa? Setau Nia, Sarah tidak dekat dengan orang lain selain dirinya dikantor sini.
" Sudah, ceritakan saja. Atau aku tanya Raya saja kalai kau tidak mau jujur. " ucap Sarah.
" Raya, ceritakan padaku dengan detail. " ucap Sarah.
Sebetulnya, Raya memiliki usia yang lebih tua di antara mereka bertiga. Namun, tipe pertemanan mereka adalah pertemanan dengan mengabaikan perbedaan usia. Mereka tetap dapat asik berteman walau usia mereka tidak dalam satu golongan usia.
Raya akhirnya menceritakan semua kejadian saat Nia menemaninya berbelanja hadiah untuk ulang tahun adiknya. Hingga akhirnya mereka tidak sengaja bertemu di salah satu tempat makan cepat saji.
Sarah menganggukkan kepalanya. Kemudian Ia meraih ponselnya, seperti mencari sesuatu dari ponselnya.
" Orang ini kan? " tanya Sarah seraya menyodorkan ponselnya dengan foto Jason ada di situ.
Dengan cepat Raya menganggukkan kepalanya.
" Benar, itu orangnya. " ucap Raya.
" Kau, kenapa bisa simpan foto orang itu? " tanya Nia.
" Sudah, anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa. " jawab Sarah asal.
" Ini adalah laki - laki yang kemarin sok akrab membantumu membawa tas belanja kan? " tanya Sarah.
Nia mengangguk.
" Kau juga sudah pernah bertemu dengannya? " tanya Raya.
" Iya. Beberapa hari sebelum kalian berbelanja, Nia juga menemani aku berbelanja. " jawab Sarah.
" Memang dasar tangan Nia ini rapuh, jadi beberapa tas belanja luput dari tangannya. " lanjut Sarah.
" Tiba - tiba laki - laki ini datang entah dari mana, membantu kami membawa tas belanja kami. " lanjut Sarah lagi.
" Seperti sebuah kesengajaan bagiku. " sahut Raya.
" Nah, aku pun berpikiran demikian. Makanya dengan cepat aku cari tahu tentang orang ini. " timpal Sarah.
" Berbeda dengan bocah ini, terlalu polos. Percaya - percaya saja kalau laki - laki itu adalah orang yang baik. " gerutu Sarah.
" Ya kan, kita harus selalu berprasangka baik pada orang. " sahut Nia.
" Tapi Nia, bersikap selalu waspada juga tidak ada salahnya. " sahut Raya.
" Nah kan, Raya saja setuju denganku. " sahut Sarah.
" Pokoknya mulai sekarang, kau harus menjaga jarak dengan orang itu. Apapun yang Ia lakukan untuk mendekatimu, hangan digubris. " ucap Sarah.
Tiba - tiba...
Bruk!
" Maaf Tuan, saya tidak sengaja. " ucap seorang laki - laki berusia 20 tahunan.
" Ya ya, tidak apa - apa. " sahut laki - laki yang lebih tua.
Sarah, Nia, dan Raya terkejut setelah mengetahui siapa yang barusan berbicara. Benar sekali, Jason Alexander. Bagaimana bisa dia ada di sini?
Untung saja tadi laki - laki muda itu tidak sengaja menabrak Jason. Jadi tiga gadis itu tidak kelepasan membicarakan Jason.
" Bersikap tenang. " ucap Sarah mengingatkan kedua temannya.
" Selamat siang, kebetulan sekali ya. Kita bertemu lagi. " ucap Jason seraya menghampiri tempat Nia, Sarah, dan Raya sedang duduk.
Nia tersenyum kikuk. Sarah bersikap tenang namun terlihat siap mengambil tindakan jika Jason mulai menunjukkan gelagat yang aneh. Sedangkan Raya, sama kikuknya dengan Nia.
Tanpa permisi, Jason menarik kursi dan duduk di dekat Nia. Wajah Nia memucat. Sangat kentara Ia terlihat tidak nyaman.
Laki - laki muda yang tadi tidak sengaja menabrak Jason tiba - tiba datang dan seperti sengaja menyiram Jason dengan segelas air.
" Kau buta! Dari tadi kau cari terus masalah denganku hah! " bentak Jason kepada laki - laki muda itu.
" Ah, maafkan saya Tuan. Saya tidak sengaja. " ucap laki - laki itu
" Lagipula, ini adalah akses jalan. seharusnya Anda duduk di sana. " ucap laki - laki itu sambil menunjuk ke arah meja kosong.
" Apa pedulimu! " bentak Jason.
Nia, Sarah, dan Raya sudah terlihat sangat tidak nyaman. Rasanya mereka ingin segera keluar dari cafe itu.
" Sayang, kau di sini rupanya. " tiba - tiba terdengar suara Rendra.
Benar saja, saat ini Rendra dan Andreas sudah berada tidak jauh dari posisi Jason dan laki - laki muda itu berdebat.
" Oh, Tuan Narendra? " mendadak suara Jason berubah kembali dengan volume normal.
" Wah, Tuan Jason. Kebetulan sekali. " ucap Rendra singkat.
Rendra mengalihkan pandangannya ke Nia yang masih terkejut. " Sayang, kenapa kau makan siang tidak mengajakku? "
" Siang Tuan Narendra, saya Sarah. Saya yang mengajak Nia dan Raya makan siang bersama. " ucap Sarah mengalihkan perhatian.
" Oh baiklah. Kalau begitu, mari kita makan siang bersama di sini. " ucap Rendra.
" Tuan Jason, mari bergabung makan siang dengan kami. " ucap Rendra lagi.
Jason tersenyum namun eskpresi wajahnya tidak dapat diartikan. " Tentu saja. " jawabnya.
Laki - laki muda itu tiba - tiba lenyap, hilang entah ke mana. Tapi, sebelum Ia pergi, laki - laki muda itu sempat bertukar kode mata dengan Andreas. Ya, laki - laki muda itu adalah Andra. Penjaga pribadi Nia.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Jangan lupa dukungannya yaaa ❤