
Selamat Membaca ~
Rendra mencoba membuka pintu kamar mandi, namun terkunci. Perasaannya tidak enak, akhirnya Ia membuka pintu dengan paksa. Ia mendobraknya sekuat tenaga sampai berhasil Ia buka.
Benar saja, Nia tergeletak tak sadarkan diri di dekat bath up.
Ia bergegas menghampiri Nia dan mengangkat kepala Nia, mencoba memanggil namanya berulang kali.
" Nia, sayang... Sayang... " ucap Rendra seraya menepuk pelan pipi Nia.
Tidak ada respon. Rendra segera menggendong tubuh Nia dan membawanya ke tempat tidur.
Ia menepuk pelan lagi pipi Nia, berharap Nia bisa sadar dari pingsannya.
" Sayang, sayang... Sayang.... " Ia mencoba berulang kali menyadarkan Nia tapi tetap tidak berhasil.
Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang, " Cepat kemari! Nia pingsan! "
Setelah mendapat jawaban dari orang yang Ia telpon, Rendra menghampiri Nia lagi. Digenggamnya tangan Nia yang terasa dingin. Ia tetap berusaha membangunkan Nia dengan mengusap wajah dan memanggil namanya berulang - ulang.
Setelah sekitar 15 menit, dokter Silva datang bersama dengan seorang perawat.
" Kenapa kau lama sekali?! " seru Rendra yang sudah sangat panik.
" Sabarlah, jarak rumah sakit tempatku bekerja dan mansionmu ini tidak dekat. " omel dokter Silva.
" Cepat periksa Nia. Aku khawatir kepalanya terkena sisi pinggir bath up. " perintah Rendra.
Dokter Silva segera memeriksa Nia. Saat meraba denyut nadi pada pergelangan tangan kanan Nia, Ia mengernyitkan dahinya. Seperti ada sesuatu yang tidak biasa.
" Kapan terakhir kali istrimu datang bulan? " tanya dokter Silva.
" Hmm, entahlah. Mungkin bulan lalu, setauku siklus Nia memang selalu tidak tepat waktu. " jawab Rendra.
" Wah, kau bahkan menghapalkan siklus Nia? " tanya dokter Silva tidak percaya.
" Sudahlah! Bagaimana keadaan istriku? " tanya Rendra tidak sabaran.
" Apakah akhir - akhir ini dia sakit? Misal, mual muntah, lemas, dan lainnya? " tanya dokter Silva, Ia berusaha memeriksa denyut nadi Nia sekali lagi.
" Ia muntah - muntah tadi pagi. Makanan yang Ia makan selalu keluar lagi. " jawab Rendra.
" Oh begitu... " sahut dokter Silva seraya mengangguk - anggukkan kepalanya.
" Ada apa dengan dia? " tanya Rendra lagi, tidak sabar.
" Jika dugaanku benar, maka selamat. Sepertinya Ia sedang mengandung Rendra junior. " jawab dokter Silva sambil tersenyum.
Rendra yang tadinya sangat cemas, kini wajahnya berubah menjadi sumringah. Kerja kerasnya menggempur Nia hampir tiap hari tidak sia - sia.
" Eits, jangan senang dulu. Kau harus membawa Nia ke dokter spesialis obgyn. Kau harus memastikan dulu, dan lakukan pemeriksaan USG. Itu untuk memastikan, apakah Ia hamil di dalam atau luar kandungan. " ucap dokter Silva.
" Tentu saja, aku akan segera membawanya ke dokter spesialis. Bahkan, jika perlu setiap hari. " sahut Rendra bersemangat.
" Hei bodoh! Untuk apa kau bawa dia ke dokter obgyn setiap hari? Memangnya kau kira dia sedang kenapa? " ucap dokter Silva dengan mata tajam.
" Iya iya, aku hanya bercanda. Aku hanya merasa senang, akhirnya akan ada juniorku. " ucap Rendra senang.
Dokter Silva tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepala.
" Ya sudah, kalau begitu aku pulang. Jangan lupa extra fee untukku dan asistenku karena kau sangat berbahagia hari ini. " ucap dokter Silva lalu mengambil tas kerjanya.
" Kalau begitu, aku akan kembali ke rumah sakit. Akan aku bookingkan jadwal dengan dokter spesialis obgyn terbaik di rumah sakitku. Bawa Nia ke rumah sakit segera. " ucap dokter Silva.
" Tentu saja. " sahut Rendra.
Kemudian dokter Silva dan asistennya pun keluar dari mansion Hartawan
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Di sebuah rumah sakit, di ruang periksa dokter spesialis obgyn ~
" Iyak, bisa kita lihat ya. Itu adalah bakal calon bayi anda. Berukuran 0,5 cm. Kehamilannya aman, berada dalam kandungan. " ucap dokter Maya, dokter spesialis obgyn.
Air mata terharu mengalir dari ujung mata Nia. Rasa haru juga menyelimuti perasaan Rendra. Ia akan menjadi seorang ayah.
" Berdasarkan ukuran janin, dan HPHT Anda, perkiraan usia kehamilan Anda adalah 6 minggu. " ucap dokter Maya.
" Iya Dok, " sahut Nia sumringah.
" Baik, silakan Anda merapikan pakaian. Saya akan menjelaskan lebih lanjut di situ. " ucao dokter Maya seraya menunjuk ke meja kerjanya.
" Baik dok, " sahut Nia.
Setelah merapikan pakaiannya, Nia dan Rendra menerima penjelasan lengkap dari dokter Maya.
" Untuk calon ayah, keinginan untuk olahraga malamnya dikurangi dulu. Bermain aman dulu ya. " ucap dokter Maya.
" Wah dokter, lalu saya harus bagaimana jika saya ingin berolahraga? " tanya Rendra usil yang langsung mendapat cubitan dari Nia.
Dokter Maya terkekh mendengar pertanyaan Rendra. " Tentu saja boleh,. Yanh menjadi catatan, jangan melakukannya pada posisi yang tidak aman dan membuat istri Anda tidak nyaman. Dan, jangan melakukan pelepasan di dalam ya. Hal itu dapat menyebabkan kontraksi. " jelas dokter Maya.
" Baiklah Dok, " sahut Rendra dengan nada sedikit kecewa.
" Ini saya resepkan vitamin dan suplemen. Ada penguat kandungan juga, jadi tolong diminum teratur ya. " ucap dokter Maya seraya menyerahkan selembar kertas resep kepada Nia.
" Iya Dok, terima kasih. " jawab Rendra dan Nia bersamaan.
Kemudian mereka pamit dari ruang prsktek dokter Maya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Di dalam mobil, masih berada di area parkir rumah sakit ~
" Sayaaaang, " panggil Nia dengan terisak.
" Hei, sini aku peluk. " ucap Rendra kemudian menarik tubuh Nia ke dalam pelukannya.
" Terima kasih sudah membuatku menjadi seorang ayah. " ucap Rendra.
Nia tidak menjawab, hanya terdengar suara terisak dalam pelukannya.
" Aku berjanji, aku akan selalu menjagamu dan anak kita. " ucap Rendra kemudian mengecup puncak kepala Nia.
Nia menganggukkan kepalanya, masih dalam pelukan Rendra.
" Aku sangat mencintaimu. " ucap Rendra seraya mempererat pelukannya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Penulis up 2 episode yah untuk hari ini, terima kasih untuk dukungannya 馃