
Selamat Membaca ~
Di sebuah ruangan yang berada dalam Mansion Hartawan ~
Rendra nampak cemas. Begitu pula dengan Andreas. Dua lelaki dengan wajah berkespresi khas dingin, sepasang mata tajam itu terlihat sangat cemas.
" Kau sudah berhasil menghubungi Anton? " tanya Rendra.
" Sudah, Tuan. " jawab Andreas.
" Andreaaas... " ucap Rendra dengan nada menggantung.
" Maaf, sudah kutelpon, Rendra. " jawab Andreas memperbaiki jawabannya tadi.
Sempat - sempatnya dia mengoreksi cara menjawabku. Gerutu Andreas, yang tentu saja dalam hati.
" Lalu? " tanya Rendra.
" Anton mengatakan sudah menemukan titik lokasinya. Sesuai dengan lokasi yang sudah dilacak oleh ahli IT kita. " jawab Andreas.
" Dua orang agen Anton juga sudah berhasil menemukan orang yang sempat menolong Karunia dan Sarah. " lanjutnya.
" Bagus. Pastikan orang itu tetap dalam jangakaun kita. " ucap Rendra.
" Baik. " sahut Andreas.
" Lalu bagaimana dengan perkembangan lainnya? " tanya Rendra.
" Agen Anton yang di sana sedang berusaha menyisir lokasi dan juga rekaman pada cctv. Mencari kemungkinan di mana Karunia dan Sarah disekap kali ini. " jawab Andreas.
Rendra terdiam. Pikirannya kalut. Ia memikirkan bagaimana keadaan Nia yang sedang mengandung. Ini semua akibat Ia kurang berhati - hati. Persaingan bisnis membuat Nia terkena imbasnya.
" Tenang, aku tau bagaimana kekhawatiranmu. Kita akan berhasil menemukan mereka. " ucap Andreas berusaha menenangkan.
" Apa ada kabar juga dari Rudi Hanggono? " tanya Rendra.
" Oh ya, Rudi Hanggono tadi baru saja meneleponku. Beliau mengatakan bahwa koleganya yang ada di sana sudah setuju untuk membantunya. " jawab Andreas.
" Bagus, sekarang tinggal bagaimana kita melumpuhkan Jason dan orang - orangnya. " ucap Rendra.
" Sudah hampir satu minggu. Sudah terlalu lama. " lanjutnya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Sementara itu, di sebuah penginapan di dekat daerah pelabuah di Kamboja ~
" Tuan, coba lihat ini! " seru Zyco.
Anton segera beranjak dan menghampiri Zyco. Ia menatap ke arah layar laptop dengan serius.
" Dua orang itu mencurigakan. Sepertinya yang sedang dibawa mereka adalah manusia. Bukan sekedar barang biasa. " ucap Zyco.
" Ya, kau benar. Terus telusuri ke mana arah orang besar itu menuju. Bisa jadi kemudian kita bisa menemukan lokasi Nyonya Karunia dan Nona Sarah. " ucap Anton.
" Baik, Tuan. " sahut Zyco. Kemudian Ia lanjut mengotak - atik laptopnya.
Anton berjalan ke arah jendela. Memperhatikan keadaan sekitar.
" Nyonya, bertahanlah. Aku tahu saat ini Anda dan teman Anda sedang mengalami kesulitan. Tapi tetaplah bertahan. " gumam Anton.
" Tuan! Ketemu! " tiba - tiba Zyco berteriak lagi.
" Cepat sekali cara kerjamu. " puji Anton kemudian berjalan menghampiri Zyco lagi.
" Tentu saja, Zyco Alfaro dong! " sahutnya membanggakan diri.
Anton memperhatikan layar laptop lagi dengan seksama. Sepertinya sudah terpikirkan taktik untuk bisa melakukan aksinya di sana.
Ia kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja, menekan sebuah bagian tertentu layar dan melakukan sebuah panggilan.
" Halo, Tuan? Kami akan segera memulai aksi. " ucapnya.
" Baik, sebaiknya Tuan menunggu dulu saja. Akan jauh lebih berbahaya jika Tuan ikut datang ke sini. " ucap Anton.
" Baik, baik Tuan. " kemudian antin mengakhiri panggilannya.
" Baik, Tuan. " sahut Zyco.
Semoga semua ini segera bisa berakhir. Nyonya Karunia, Nona Sarah. Kami akan segera menyelamatkan kalian. Batin Anton.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Suara rintihan menahan sakit menyadarkan Sarah. Ia mengerjapkan matanya perlahan, berusaha mengumpulkan kesadaran.
Aku sulit menggerakkan tangan dan kakiku. Batinnya.
" Nia? " panggilnya lirih.
" Saraaah... " sahut Nia dengan suara lemah.
" Kau kenapa? " tanya Sarah khawatir. Ia berusaha memutar tubuhnya sehingga bisa menghadap ke arah Nia.
" Perutku.. Perutku bagian bawah terasa sakit, seperti kram. " Nia terlihat meringis menahan sakit. Wajahnya semakin pucat.
" Hei! Tolong! Orang di luar! Hei! " teriak Sarah.
Tidak ada jawaban. Tidak ada yang membuka pintu.
" Hei! Manusia - manusia kejam! Tolong! " teriak Sarah lagi.
Tak lama, pintu terbuka. Seorang laki - laki dengan wajah cukup familier bagi Sarah membuka pintu kemudian masuk ke dalam.
Sarah tertegun.
" Bukankah kau... " tanya Sarah dengan nada menggantung.
" Ya, aku Kevin. " ucap Kevin menyeringai.
" Berani - benarinya kau melakukan ini pada kami?! " seru Sarah.
Kevin berjalan semakin mendekat ke arah Sarah.
Plakk!!
Kevin menampar wajah Sarah dengan kuat. Setitik darah segar keluar dari ujung bibir Sarah. Sarah meringis menahan sakit.
" Kau! Beraninya menipuku dengan mengaku sebagai Tsurayya! " ucap Kevin geram.
Ia menarik rambut Sarah ke belakang, kemudian mengusap wajah Sarah.
Plakk!!
" Kau tahu?! Gara - gara kau nyawaku hampir saja melayang! " ucap Kevin lagi.
Ia beranjak. Berjalan mengitari Sarah dan Nia yang terikat.
" Aku tidak tahu apa masalah kalian dengan Tuan Jason. Atau apa masalah pasangan kalian dengan Jason. Tapi kalian dan pasangan kalian, sudah mencari masalah dengan orang yang salah. " ucap Kevin.
Ia kemudian menarik sebuah kursi plastik dengan warna yang sudah pudar.
Nia dan Sarah tidak menanggapi. Sarah hanya menahan nyeri pada wajahnya, rasa panas masih terasa di kedua bagian pipinya, pada bagian bekas tamparan Kevin.
" Aku tidak peduli dengan masalah di antara kalian semua. Yang jelas, aku mendapat bayaran yang sangat tinggi karena pekerjaanku ini. Jadi kalian, bersikaplah menjadi gadis yang baik. Atau aku akan hajar kalian nanti. " ancam Kevin.
" Kita tinggal menunggu kedatangan Tuan Jason kemari. " ucap Kevin.
" Dan kemudian, suatu adegan menarik akan kita tayangkan. " lanjutnya dengan senyum smirk.
Kevin kemudian beranjak dan berjalan menuju arah pintu.
" Hei! Buka pengikatku! Aku harus menolong adikku! " teriak Sarah.
" Kau tidak akan mengecohku lagi, kali ini. " ucap Kevin.
Ia tetap melenggang meninggalkan Nia dan Sarah di dalam ruangan. Membiarkan keduanya dalam keadaan terikat
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍