
Selamat Membaca ~
Dua SUV hitam yang membawa Anton dan timnya sudah berjarak semakin dekat dengan lokasi sasaran. Mereka bertugas untuk mempelajari situasi dan mengatur strategi di tempat sembari menunggu tim 2 datang bersama Rendra dan Andreas.
Setelah menunggu sekitar 50 menit, SUV hitam ketiga sampai di tujuan. Rendra dan tim kedua bergabung dengan tim Anton yang sudah bersiap.
" Anda sudah sampai, Tuan? " sapa Anton seraya mendekat ke arah Rendra.
" Hm, " sahut Rendra.
Rendra sedang sibuk mengenakan rompi anti peluru ke tubuhnya. Begitu pula dengan Andreas. Keduanya memang bisa menembak, namun hanya sebatas kelas kursus menembak saja.
Setelah memasang rompi, Rendra dan Andreas memilih senjata yang cocok untuk mereka berdua. Bukan hanya senjata api yang mereka pilih, mereka juga memilih beberaoa senjata tajam lainnya.
" Sudah kau pastikan aman? " tanya Andreas.
" Sudah kami periksa, namun tidak semuanya aman. " jawab Anton.
" Ada sekelompok preman lokal di dekat sini, mereka nampak berbahaya dan membawa senjata. Berjumlah sekitar 7 orang. " lanjutnya.
" Saya sudah menugaskan 5 orang untuk melumpuhkan mereka. "
" Ada sekelompok lain lagi tapi hanya terlihat 3 orang, saya sudah menugaskan 2 orang agen. "
" Bagus. Jadi tersisa berapa orang? " tanya Rendra.
" Delapan orang agen, Tuan. Berjumlah sepuluh orang termasuk Tuan Andreas dan Anda. " jawab Rendra.
" Lebih sedikit dari jumlah mereka yang di dalam. " ucap Andreas.
" Tidak masalah. Kuantitas tidak selalu menjamin kualitas. " sahut Rendra.
" Ada benarnya juga. " sahut Andreas setuju.
" Ayo kita mulai. " ucap Rendra.
" Baik, Tuan. " sahut Anton setelah menganggukkan kepalanya.
" Ayo ayo, segera standby di posisi masing - masing! " ucap Anton.
Semua agen yang ada segera beranjak dan merapikan perlengkapan mereka bersamaan.
" Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan, dan selalu diberi kemudahan dan dalam lindunganNya. " ucap Anton lagi.
" Amiin. " sahut semua agen bersamaan.
" Kenapa mendadak menjadi haru biru sendu begini. " gumam Andra.
" Sstt! Diam saja. " sahut Jessie gemas.
" Ayo kita mulai! "
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Di saat yang sama, di dalam bangunan berdinding kayu di tepi danau ~
Tommy sedang gelisah. Ia berjalan mondar mandir sambil memperhatikan ke arah luar rumah.
Tidak ada apa - apa. Semua tampak tenang, seperti tidak terjadi apa - apa. Gumam Tommy.
" Sedang apa Kau di sini? " tanya Kevin yang tiba - tiba muncul dari ruangan tempatnya tadi tidur.
Ia meninggalkan Kevin yang sepertinya masih setengah mengantuk.
Apa mereka akan melakukannya malam ini? Perkataanku tadi di telepon sudah cukup jelas kan? Gumam Tommy lagi.
" Sebenarnya Kau ini sedang apa sih? Sedari tadi aku perhatikan, kau mondar - mandir terus. Kau juga mengomel sendiri. " ucap Kevin yang tiba - tiba sudah berada tepat di belakang Tommy.
" Tidak usah mengurus aku! " hardik Tommy.
Kenapa sih dia dari tadi mengikutiku terus. Gerutu Tommy.
" Hei hei. Kenapa kau mengomel sendiri swperti wanita tua yang sudah penuh keriput? " Jason tiba - tiba muncul di belakang Tommy.
" Tuan? Kenapa Anda di sini? Apa Anda sudah selesai? " tanya Tommy tergagap.
" Kenapa kau terkejut seperti itu? Seperti sedang melihat hantu saja! " sahut Jason.
Kemudian Jason berjalan ke sebuah kursi tua yang ada di dekat jendela. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan membakar ujungnya dengan api dan menghisapnya dalam - dalam.
Tommy hanya dian dan menatap Jason.
Apa dia sadar aku telah melakukan sesuatu tadi? Kenapa Kevin dan Dia tiba - tiba ke sini. Batin Tommy.
" Wanita yang kau siapkan untukku tadi kurang sesuai untukku. Baru tiga ronde dia sudah minta istirahat. " gerutu Jason.
Dasar maniak, batin Tommy.
" Lain kali, cari yang lebih muda dan berpengalaman. Yang bisa melayaniku setidak 10 ronde. " ucap Jason kemudian menghisap rokoknya lagi.
" Baik, Tuan. Maafkan saya. " sahut Tommy.
Klotakk!!!
" Suara apa itu? " tanya Jason.
" Hmm.. Mungkin ada hewan liar yang melempar biji atau batu. " jawab Tommy asal.
Klotakk!!!
" Hewan liar kepalamu! Cepat suruh orang untuk memeriksa keluar! " perintah Jason.
" Baik, Tuan. " sahut Tommy.
Baru saja Tommy akan beranjak mencari orang, seseorang sudah berteriak dari arah luar bangunan.
" Tuan! Kita diserang!!! " teriaknya.
Jason mendadak panik. Ia membuang puntung rokoknya sembarangan dan beranjak.
" Suruh semua orang berkumpul! Bawa mereka ke tempat di mana Karunia dan Sarah kita sekap! " perintah Jason.
" Baik, Tuan. " sahut Tommy.
Ternyata mereka menangkap sinyalku. Mereka langsung melakukannya malam ini juga. Batin Tommy
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Halo readers, maafkan yaah semalam penulis ketiduran 馃槄
Maklumlah penulis juga manusia yang memiliki rasa kantuk yang suka datang mendadak dan tidak bisa ditolak.