Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 97. Hamil?



Selamat Membaca ~


- suara dering ponsel Rendra -


Rendra meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya. Keningnya mengernyit setelah membaca siapa yang sedang menelponnya.


" Tommy? Kenapa tiba - tiba Ia menelponku? " gumam Rendra, masih menatap ke arah ponselnya.


Ia masih memegang ponselnya. Menimbang - nimbang, haruskah Ia mengangkat panggilab Tommy atau tidak. Tommy sejatinya tidak bermasalah dengannya, tapi tetap saja. Bisa jadi Tommy sedang dalam misi yang diperintah oleh Jason.


Dering ponsel itu kemudian mati.


Jika kau menelpon lagi, baru akan aku angkat. Gumam Rendra.


Tidak lama, ponsel Rendra berdering lagi. Rendra membiarkan selama beberapa detik, baru kemudian Ia mengangkat panggilan Tommy.


" Halo. " ucap Rendra membuka percakapan.


" Selamat siang, Tuan Narendra. Saya Tommy, asisten Tuan Jason Alexander. " ucap Tommy dari seberang sana.


" Selamat siang. Ya, aku tau. Ada apa? " tanya Rendra to the point.


" Maaf mengganggu waktu Anda. Saya ingin bertemu dengan Anda, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda. " jawab Tommy.


" Tentang? " tanya Rendra lagi. Ia sudah memiliki firasat tidak enak terkait hal ini.


" Hanya sekedar untuk permohonan maaf dan juga terima kasih. " jawab Tommy.


Rendra terdiam sesaat. Jika sekedar itu, bertemu langsung pun tidak masalah. Tapi apakah benar, tentang itu saja?


" Baiklah. Tentukan saja waktu dan tempatnya, aku akan menemuimu. " jawab Rendra.


" Baik Tuan, terima kasih. Saya akan mengirim waktu dan tempatnya melalui pesan singkat. " jawab Tommy.


" Oke. " sahut Rendra.


" Baiklah kalau begitu, selamat siang Tuan Narendra. " ucap Tommy menutup percakapan.


" Siang. " jawab Rendra.


Kemudian panggilan terputus. Rendra masih menatap ke arah layar ponselnya. Apa yang sebetulnya Ia rencanakan, pasti ada sesuatu. Gumamnya.


" Sayang, kau di sini? " tanya Nia dari pintu private roomnya.


Rendra menoleh ke arah Nia, Ia segera berjalan menghampiri Nia. Bukan tanpa alasan, wajah Nia terlihat sangat pucat. Nia juga sedang berpegangan pada sisi pintu private room. Seperti menahan agar tubuhnya tidak jatuh.


" Sayang, kenapa kau bangun? Kau sakit? Kau terlihat pucat. " Rendra sangat khawatir melihat keadaan Nia seperti itu.


Nia tersenyum lemah dan menggeleng, " Kepalaku hanya sedikit pusing. " jawab Nia lirih.


" Sudah, ayo kembali ke tempat tidur. Aku akan memanggil dokter. " ucap Rendra.


Nia menggeleng, tangannya berpegangan pada lengan kokoh Rendra.


" Tidak usah, aku hanya butuh istirahat. Aku ingin pulang. " jawab Nia.


" Tapi kau harus tetap diperiksa. Lihat, wajahmu sangat pucat. " ucap Rendra.


Nia menggeleng lagi, " Aku hanya butuh istirahat. Tenang ya, "


Keras kepala sekali dia ini. Gerutu Rendra dalam hati.


" Ya sudah, kalau begitu kita pulang. " ucap Rendra yang hanya dibalas anggukan oleh Nia.


Rendra mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Tangan kanannya masih menahan agar tubuh Nia tidak terjatuh ke lantai. Terasa tubuh Nia menyandar dan menggelayut di tubuhnya, seperti tidak kuat menopang tubuhnya sendiri.


" Andreas, siapkan mobil. Aku akan keluar membawa Nia, " ucap Rendra.


" Baik, Tuan. " jawab Andreas dari seberang sana.


Rendra berjalan pelan sambil membopong tubuh Nia. Kepala Nia tertunduk, sesekali terdengar rintihan kesakitan dari mulutnya.


Ketika mereka hendak melangkah keluar dari studio, Nia sudah tidak sanggup menahan tubuhnya dan akhirnya ambruk juga. Beruntung, Rendra sedang memegang tubuhnya sehingga ketika Nia terjatuh Rendra dengan sigap menahannya.


Andreas membuka pintu mobil tanpa perlu diberi aba - aba. Ia membantu Rendra memposisikan Nia di dalam mobil dnegan hati - hati. Tuannya yang sangat bucin itu tentu tidak suka bagian tubuh Nia terkena tangannya.


" Ke rumah sakit terdekat. " perintah Rendra yang segera dibalas anggukan kepala oleh Andreas.


Setelah sampai di rumah sakit, mereka disambut oleh dua orang petugas dari ruang gawat darurat. Ternyata rumah sakit dengan jarak terdekat dari studio Nia adalah rumah sakit tempat dokter Silva bekerja.


" Cepat bawa masuk. " perintah dokter Silva yang nampak terburu - buru setelah mendapat panggilan telepon dari Andreas beberapa waktu lalu.


Setelah sekitar 30 menit mendapat penanganan, dokter Silva menemui Rendra yang menunggu di ruang tunggu.


" Narendra, " panggil dokter Silva.


Rendra dan Andreas beranjak dari duduknya bersamaan.


" Bagaimana keadaan istriku? " tanya Rendra cemas.


" Tenang saja, Karunia hanya kelelahan. Dia juga mengalami kekurangan cairan, sepertinya dia kurang minum akhir - akhir ini. " jawab dokter Silva.


" Aku memberinya cairan infus dengan drip multivitamin. Setelah cairan infus habis, kalian bisa membawanya pulang. " lanjut dokter Silva.


" Apakah itu bukan tanda - tanda kehamilan? " tanya Rendra.


" Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Akan lebih jelas melakukan pemeriksaan dengan test pack atau bertemu langsung dengan dokter spesialis obgyn. Tapi menurutku dia hanya kelelahan, belum ada tanda kehamilan. " jawab dokter Silva.


Nampak kekecewaan pada garis wajah Rendra.


" Bukankah kau baru saja memulai program kehamilannya? Sabarlah, semoga saja akan segera diberi ya. " ucap dokter Silva santai.


" Kalau terlalu kau pikir, nanti Tuhan tidak akan segera memberimu keturunan. " goda dokter Silva.


Begitulah cara bercanda mereka, lebih ke arah bully daripada sebuah candaan normal.


" Dasar kau. Kupotong bayaranmu sebagau dokter keluargaku, baru kau tau rasa! " ancam Rendra.


" Hahaha, bercanda. Ya sudah, aku masih harus bekerja. Selamat siang Tuan Narendra yang agung. " pamit dokter Silva sambil terkekeh.


Kemudian dokter Silva pergi meninggalkan Rendra dan Andreas yang masih berdiri di ruang tunggu.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Setelah selesai menerima perawatan, seperti yang diucapkan dokter Silva tadi, Nia bisa segera pulang. Rendra membawa Nia langsung pulang ke mansion agar Nia bisa beristirahat.


" Sayang, betul kau sudah tidak pusing? " tanya Rendra cemas.


Nia menggeleng lemah, Ia tersenyum lemah ke arah Rendra. Mengusap lembut wajah Rendra.


" Tenang sayang, aku sudah baikan. Makan masakan Bi Habsya dan beristirahat malam ini akan bisa membuatku kembali sehat. " ucap Nia menenangkan Rendra.


ia menyandarkan kepalanya ke pundak Rendra dengan tangan melingkar di pinggang Rendra.


Rendra tersenyum mendengar jawaban Nia. " Baiklah kalau begitu, " ucap Rendra.


Ia mengusap lembut kepala Nia dan mengecupnya cukup lama.


" Oh Tuhan, cobaan macam apa lagi ini. Kenapa aku harus menyaksikan adegan romantis di dalam sini. " gumam Andreas.


" Ada yang mau kau katakan, Andreas? " tanya Rendra yang mendengar sekilas gumaman Andreas.


" Tidak Tuan, saya tidak mengatakan apapun. " jawab Andreas.


" Kalau mau seperti ini, makanya segeralah menikah. " goda Rendra.


Nia memukul pelan perut Rendra.


" Sudah, jangan kau ganggu Andreas. Nanti kau akan aku adukan ke Sarah. " ucap Nia memberi peringatan.


" Kasian dia sayang, kurang belaian. " ucap Rendra sambil terkekeh.


" Hmm... Bucin. " gumam Andreas lagi.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Halo readers, mohon maaf telat up story dikarenakan proses reviewnya cukup.lama sehingga episode - episodenya tidak dapat di up secepat mungkin.


Semoga dengan begitu, tidak mengurangi semangat readers untuk menantikan episode - episode selanjutnya dari novel ini yah.


Mohon dukungannya untuk penulis, mohon memberi rate, vote, like, dan komentar. Kasih hadiah juga booollleh banget.


terima kasih banyak ❤