Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
part 11. Laporan Terus



Nia menyusun beberapa lembar berkas di mejanya dengan nafas berat. Hari ini dia sangat lelah karena mondar - mandir ke ruangan produjsi, desain, dan ruangan divisinya sendiri. Rendra benar - benar membuatnya pusing.


Setelah sebelumnya laporan yanh sudah disampaikan oleh Nia ditolak, Rendra meminta Nia melaporkan berbagai macam perkembangan lagi hari ini.


" Nia! Ayo makan siang! " ajak Sarah.


Nia mengangkat lembaran - lembaran laporannya dengan ekspresi wajah memelas tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Sarah hanya menggelengkan kepala.


" Memangnya Tuan Rendra tidak mau makan siang? " tanya Sarah. " Ini kan jam makan siang. "


Nia menghela napasnya, entah untuk keberapa kalinya dalam hari ini. " Entah, "


" Kau bilang padanya, minta bonus karena sudah mengambil paksa jam makan siangmu. " ucap Sarah.


Nia hanya tersenyum sambil memasukkan lembaran - lembaran itu ke dalam map holder berwarna biru muda.


" Kau makanlah dulu, aku ke ruangan Tuan Rendra sekarang. " ucap Nia.


" Mau kubawakan sesuatu? Cokelat? Sandwich? Kopi? Matcha? " Sarah menawarkan pengganjal perut untuk Nia.


Nia tertawa. " Tidak usah, merepotkanmu. "jawab Nia.


Nia pergi meninggalkan ruangannya menuju ke ruangan CEO di lantai tertinggi gedung itempat Ia bekerja.


kurruyuukk


Suara perutnya mulai beradu. Ia yang hanya sendirian di lift tersipu malu. Karena suasana sangat sepi, suara perutnya terdengar sangat nyaring.


Please yah, nanti di dalam sana jangan bersuara. Bikin malu aja. Gerutu Nia.


ting


Pintu lift terbuka. Ia berjalan cepat menuju ruangan Rendra. Sebetulnya Ia merasa heran, kenapa setiap menjelaskan laporan perkembangan Ia harus ke ruangan Rendra secara langsung. Kenapa tidak di ruang rapat atau ruangan lain. Sedangkan tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan Rendra, apalagi staff biasa seperti dia.


Setelah dipersilakan masuk oleh Anna, sekretaris Rendra, Nia pun berjalan mendekati pintu ruangan Rendra dan mengetuk pintu.


tok tok tok


Nia membuka pintu dan mendapati Rendra yang sedang serius membaca kertas - kertas di mejanya. Ia hanya mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan kancing atas terbuka. Tanpa dasi, tanpa jasnya. Lengan bajunya digulung hingga batas siku.


Kulitnya yang bersih didukung dengan alis tebalnya yang berwarna hitam membuat wajahnya terlihat sangat tampan. Tulang rahangnya yang terlihat tegas juga membuatnya terlihat semakin tampan.


Tidak ada Andreas di dalam ruangan. Hanya ada Nia dan Rendra.


Nia mematung di depan pintu. Ia tak berkedip melihat ke arah Rendra. Sepertinya Rendra mash tidak sadar jika Nia sudah ada di dalam ruangannya.


Ganteng banget. Ucap Nia dalam hati.


" Apa kau hanya akan berdiri di sana seperti patung tidak bernyawa? " ucap Rendra memecah keheningan.


Nia salah tingkah dan berjalan ke arah Rendra.


" Maaf Tuan, saya sempat ragu untuk menyampaikan laporan saya karena Tuan terlihat sibuk. " ucap Nia salah tingkah.


" Sampaikan laporanmu sekarang. " perintah Rendra dengan dingin.


Nia mengangguk kemudian menyampaikan laporan perkembangan yang telah Ia kerjakan sedari kemarin. Rendra mendengarkan sambil tetap terfokus pada kertas - kertas yang Ia pegang.


Setelah Nia selesai menyampaikan laporannya, Rendra masih terdiam dan fokus membaca kertas - kertas yang terlihat menumpuk di mejanya. Nia tidak berani bersuara lagi karena Rendra benar - benar terlihat fokus, menakutkan, dingin, tapi tampan. duh ilah gimana sih


kurruyuuukkk


Mata Nia membulat dan Ia menutup mulutnya dengan tangannya. Rendra mengangkat kepalanya menatap ke arah Nia.


" Kau lapar? " tanya Rendra sambil menatap ke arah Nia.


Wajah Nia merona, malu. Jelas malu. Bagaimana bisa perutnya tidak bisa diajak kompromi di saat seperti ini. Ia memang belum makan dari pagi.


" Kau bisu? " tanya Rendra lagi dengan dingin.


" Kau belum makan siang? " tanya Rendra lagi.


Bagaimana aku mau makan sedangkan kau memintaku segera ke sini melaporkan segala macam perkembangan. Sat set sat set. Gerutu Nia dalam hati.


" Belum sempat Tuan. " jawab Nia.


Rendra menegakkan duduknya. Merapikan kertas yang sedari tadi Ia baca dengan serius. Ia menatap lurus dan tajam ke arah Nia. Membuat Nia semakin salah tingkah.


" Kau duduk di kursi sana. " perintah Rendra dengan eskpresi wajah yang tidak bisa diartikan.


Nia menurut, Ia melangkah ke arah kursi yang dimaksud Rendra dan duduk di situ. Ia tidak tahu apa lagi yang akan diperintahkan oleh atasannya yang sepertinya terbuat dari es kutub selatan itu.


Rendra mengambil ponselnya, Ia mencari sebuah nomor dan menelponnya.


" Andreas, pesankan makanan untukku. 2 porsi. Makanan cepat saji saja. Ada manusia kelaparan di sini. " ucap Rendra. " Waktumu 15 menit. " imbuhnya.


Mendengar kata manusia kelaparan membuat Nia merasa tidak enak hati. Lagi - lagi dia merutuki perutnya yang tidak bisa diajak bekerja sama.


15 menit kemudian makanan datang. Makanan cepat saji yang diminta oleh Rendra.


" Ini pesanan Anda, Tuan. " ucap Andreas sambil meletakkan makanan itu di atas meja.


" Oke. Kau boleh keluar. " perintah Rendra.


Andreas mengangguk kemudian keluar dsri ruangan Rendra. Wajah Andreas tetap tanpa ekspresi seperti biasanya.


Rendra melangkah ke kursi tempat Nia duduk. Ia membuka bungkusan plastik itu kemudian Ia terhenti.


" Kau mau makan dengan dilayani CEO mu? " tanya Rendra membuat Nia salah tingkah lagi.


" Mmm.. mmaaf Tuan. " dengan cepat Nia meraih kantong plastik itu dan membuka bungkusan makanan itu dan menyerahkannya pada Rendra.


" Liat apa kau? Makan itu! " perintah Rendra sambil menunjuk ke bungkusan plastik lainnya.


" Ss... Saya makan di luar ruangan saja Tuan, saya tidak mau membuat Tuan jadi tidak nyaman. " ucap Nia.


" Makan di sini! " perintah Rendra.


Akhirnya Nia membuka bungkusan plastik itu dan membuka kemasan pembungkus makanan.


" Makanlah bersamaku, " ucap Rendra lirih namun masih bisa didengar oleh Nia.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Setelah drama laporan dan makan siang tadi, akhirnya Nia bisa agak santai sore ini. Ia berniat jalan - jalan sebentar sebelum pulang. Tiba - tiba ponselnya berbunyi. Notif pesan masuk. Nia pun membuka notif tersebut dan wajahnya seketika berubah masam lagi.


Sore Nona Nia, Tuan Narendra berpesan agar anda menyerahkan lagi laporan Selasa depan.


Pesan itu dikirim oleh Anna, sekretaris Rendra. Nia menghela napasnya. Bahkan hari ini adalah hari Jumat. Seharusnya Ia bisa bersantai tanap memikirkan beban pekerjaan untuk sementara.


Nia membalas pesan singkat Anna dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia berjalan ke arah halte bus kota dan duduk di kursi tunggu halte. Tak lama, sebuah bus kota datang dan Nia berjalan menaiki bus kota itu.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Mau liat lagi visual Den Bagus Narendra? Monggo, kita kasiiih



...Ganteng dingin gimana gitu...


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Mohon dukungannya terus ya untuk penulis, sebetulnya aku masih kurang PD dengan tulisanku sendiri. Apalagi bisa menukisnya benar - benar di waktu senggang nih...


Vote, Like, dan komen yaaah...


Terima kasiih 馃檹馃徎