Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 114. Anak Perempuan



Selamat Membaca ~


Rendra dan Andreas berusaha keras mencari keberadaan Nia dan Sarah.


Kondisi Nia yang sedang mengandung pun membuat Rendra semakin khawatir. Ia tahu betul sampai usia kehamilannya yang sekarang, Nia masih mengalami morning sickness. Ia harus meminum obat anti emetiknya setiap hari. Jika Nia tidak meminum obatnya, maka Nia akan selalu mual dan muntah sepanjang hari.


" Andreas. " panggil Rendra.


Andreas kemudian mendekat, " Ada apa? "


" Aku baru ingat, aku sudah memasang aplikasi khusus di ponsel Nia. Aplikasi itu bisa melacak posisi Nia. " ucap Rendra kemudian Ia meraih ponselnya yang tergeltak di atas meja.


" Lalu, apa kau sudah memeriksanya? " tanya Andreas.


" Baru saja akan aku lakukan. " ucap Rendra.


Rendra kemudian melacak posisi Nia. Ia mengerutkan dahinya.


" Ada yang aneh? " tanya Andreas.


" Posisi terakhir Nia terlacak sekitar pukul 00.20 dini hari. " jawab Rendra.


" Ini aneh, lokasi terakhirnya terlacak di perbatasan Kota A dan Kota G. " ucap Rendra.


" Apa yang sedang Ia lakukan di situ? Tapi anehnya lagi, setelah itu lokasinya sudah tidak terlacak. " ucap Rendra.


" Apakah Ia mematikannya? " tanya Andreas.


" Atau, ponselnya mati. " sambung Rendra.


" Bukankah sebelum ke Kota I kita harus melewati Kota G terlebih dahulu? " tanya Rendra.


" Seingatku begitu. " jawab Andreas.


" Nia pergi untuk menyelamatkan Sarah! " ucap Rendra dan Andreas bersamaan.


" Selain timingnya yang tepat. Lokasi terakhir mendukung juga sebagai bukti kalau Nia akan dibawa ke Kota I. " ucap Andreas.


" Setidaknya, kita bisa menyelamatkan mereka berdua bersamaan jika begini. " ucap Rendra.


" Selamat malam, Tuan Rendra dan Tuan Andreas. " ucap seseorang yang baru saja datang bergabung bersama mereka.


" Anton, " sahut Rendra.


" Maafkan saya baru bisa bergabung. " ucap Anton.


" Tidak masalah, justru kau datang di waktu yang tepat. " sahut Rendra.


Mereka bertiga kemudian membahas rencana mereka untuk menemukan Sarah dan Nia. Jika benar kali ini ada kaitannya lagi dengan Jason Alexander, mereka akan memerkarakan sampai Ia benar - benar mendapatkan hukuman terberat.


" Saya akan segera memeriksa ke Pelabuhan Kota I. " ucap Anton.


" Apa kau tidak istirahat dulu? Kirim saja anak buahmu ke sana. " ucap Rendra.


Memang, Rendra sebetulnya ingin Nia segera ditemukan. Tapi Ia tidak boleh egois, Anton pasti lelah setelah perjalanan jauh.


" Saya sudah cukup berisitirahat dalam pesawat, Tuan. Saya tidak bisa tenang jika Nyonya tidak segera ditemukan. " ucap Anton.


" Saya akan ikut dengan Anton. " ucap Andreas.


" Jangan, kau ikut aku besok untuk menemui walikota dan jika perlu gubernur sekali pun kita temui. " ucap Rendra.


" Baik, saya akan menyiapkan segala hal yang diperlukan. " ucap Andreas.


" Ya, sekarang kalian beristirahatlah terlebih dulu. Sudah hampir tengah malam. " ucap Rendra.


" Baik, " sahut Anton dan Andreas bersamaan.


Mereka kemudian keluar dari ruang kerja Rendra.


Rendra termenung, matanya menatap jauh ke arah luar jendela.


Nia, bagaimana keadaanmu sekarang sayang? Apakah kau baik - baik saja? Bagaimana dengan kandunganmu? Apakah kau mengalami kesulitan?


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Sementara itu, di dalam sebuah kapal yang mengangkut barang ekspor ~


Sarah dan Nia duduk berdekatan. Mereka saling berpegangan tangan.


Mereka tidak tahu ke mana kapal ini akan membawa mereka pergi. Tidak ada yang bisa ditanya di sini, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan ini.


Seorang perempuan sepertinya di bawah umur, selalu mengantar makan untuk mereka saat pagi dan sore hari. Mereka hanya diberi makan dua kali dengan menu seadanya. Mereka dilarang keluar dari ruangan ini selama ada di dalam kapal.


Perempuan yang bertugas mengurumu makanan mereka juga selalu mengantarkan pakaian ganti untuk mereka, dua hari sekali.


" Apakah dia akan menjawab? Selama ini dia hanya menyerahkan piring berisi makanan kemudian keluar lagi tanpa menganggap kita ada. " jawab Sarah.


" Kita coba saja dulu. " ucap Nia.


" Boleh, nanti saat dia mengantar makanan di sore hari. Kita coba tanya padanya. " ucap Sarah.


Nia membalas dengan anggukan kepala.


" Oh ya, apakah rasanya masih parah? " tanya Sarah.


" Tidak. Aku pernah mendengar janin bisa kita ajak komunikasi. Aku selalu mengajaknya bicara, agar selalu membantuku. " jawab Nia.


" Baguslah, calon anakmu benar - benar pengertian seperti dirimu. " sahut Sarah.


" Tentu saja. Ya kan, nak? " ucap Nia seraya mengusap pelan perutnya.


" Kau sudah usg? " tanya Nia.


" Ya, aku selalu rutin memeriksakan kandunganku. " jawab Nia.


" Apakah sudah diketahui jenis kelaminnya? " tanya Sarah.


Nia menggeleng, " Dia selalu bersembunyi jika sedang diperiksa. Yang jelas, dia sehat. Itu saja sudah membuatku sangat senang."


" Aku harap, kita sudah bebas ketika kau melahirkan nanti. " ucap Sarah.


" Tentu saja. Bukankah suamiku dan ekkasihmu adalah laki - laki paling pintar? " ucap Nia.


" Ya, aku lupa kalau aku punya laki - laki itu. " jawab Sarah.


Ia menerawang, teringat wajah dingin Andreas yang selalu saja masih kaku ketika bertemu dengannya. Walau mereka sudah menjalin hubungan.


" Kau rindu padanya ya? " goda Nia.


Sarah tersenyum. " Ya, aku baru sadar. Ternyata aku memang menyukainya. Dan ya, aku memabg merindukannya. "


" Kau? " tanya Sarah balik.


" Tentu saja. Semenjak hamil, aku tidak bisa jika tidak melihat wajahnya. Atau mencium aroma tubuhnya. Sebetulnya aku sedang sangat tersiksa saat ini. Tapi tidak mungkin aku berenang di tengah lautan demi bisa bertemu suamiku. " jawab Nia.


" Hm, bucinnya orang sudah menikah memang berbeda. " goda Sarah.


" Yah, mereka bilang bawaan hamil juga. " ucap Nia.


" Oh ya, jangan sampai merwka tahu jika aku sedang mengandung. Aku tidak mau mereka justru memberiku makanan yang dapat membahayakan kandunganku. " ucap Nia.


" Iya, aku akan menjaga rahasia ini. Beruntung Perutmu tidak terlihat terlalu besar walau sudah lewat trimester pertama. " ucap Sarah.


" Ya, suatu kebetulan yang menguntungkan. " sahut Nia.


Ia mengelus lembut perutnya. Merasakan pergerakan di dalamnya.


tok tok


Ketukan terdengar di pintu. Sepertinya anak perempuan itu akan mengantarkan makanan.


Pintu terbuka, benar saja. Anak perempuan itu membawa nampan berisi makanan. Ia berjalan menuju meja yang ada di ujung ruangan.


Sarah dan Nia bergegas mendekatinya.


" Hei, siapa namamu? Bisakah kita berkenalan? " Sarah membuka pembicaraan.


Anak perempuan itu menoleh, kemudian menundukkan kepalanya lagi.


" Aku Nia, dan dia Sarah. Bisakah kita berteman? " tanya Nia.


Anak perempuan itu lagi - lagi diam dan membisu. Ia merapikan piring dalam keadaan menundukkan kepalanya.


" Kami orang baik, tenang saja. Kami hanya ingin berteman denganmu. " ucap Nia.


Anak perempuan itu menatap Nia lekat - lekat. Tatapannya sendiri menunjukkan rasa ketakutan.


Nia menangkap kode itu, Ia pun berhenti bertanya pada anak perempuan itu.


" Kenapa kau diam saja? " tanya Sarah.


Nia segera memegang tangan Sarah. Memberi kode untuk berhenti bicara.


Anak perempuan itu kemudian keluar dan menutup pintu ruangan.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍