
Rendra menuruni tangga menuju ruang makan. Ia terheran karena Nia belum ada di meja makan.
Ia duduk dan dengan sabar menunggu Nia turun dari lantai dua. Namun yang ditunggu tidak kunjung turun. Ia mengambil ponselnya, berniat untuk mengirim pesan singkat pada Nia.
" Selamat pagi, Tuan. " sapa Bi Habsya.
" Pagi. " jawab Rendra singkat.
" Silakan dinikmati, sajian makan paginya Tuan. " ucap Bi Habsya.
Bi Habsya mengambilkan piring dan mulai mengisinya dengan nasi.
" Nia ke mana Bi? " tanya Rendra.
" Non Nia sudah berangkat pagi - pagi sekali, Tuan. " jawab Bi Habsya.
" Kenapa Bibi tidak memberitahuku? " tanya Rendra.
" Maaf Tuan, Bibi kira Non Nia sudah menyampaikan langsung. " ucap Bi Habsya.
" Apa dia terlihat baik - baik saja? " tanya Rendra.
" Sepengamatan saya, Non Nia terlihat sudah lebih baik Tuan. " jawab Bi Habsya sambil mengambilkan lauk untuk Rendra.
" Silakan makan, Tuan. " ucap Bi Habsya kemudian Ia mundur beberapa langkah. Membiarkan Rendra menikmati makan paginya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Hari ini Nia sengaja berangkat pagi - pagi karena ada pekerjaan mendadak yang diberikan Bu Ratna padaya. Tugas itu harus bisa diselesaikan hari ini juga.
Nia mengenakan kemeja berwarna putih dengan motif kotak - kotak, celana kulot berwarna charcoal, dan sepatu flat berwarna putih. Ia menggerai rambutnya seperti biasa.
Ia terlihat terburu - buru berlari ke arah lift. Ia menekan tombol naik dan menunggu dengan tidak sabar. Ia berulang kali melihat ke arah jam tangannya. Ia takut tidak bisa menyelesaikan tepat waktu.
Saat Ia sedang menunggu, tampak beberapa teman satu divisinya juga ikut menunggu lift.
" Morning Karuniaaa.. " sapa Raya.
Raya adalah pengganti Sarah di divisi Co & Creative. Raya terlihat datang bersama Nura.
" Morning too... " balas Nia ramah.
Nura terlihat tidak suka dengan Nia. Ekspresi wajahnya tidak dapat ditutupi.
" Kamu habis jatuh? " tanya Raya.
" Eh iyaa, kemarin kena jambret. " jawab Nia.
" Terus, kamu kena gebuk atau gimana? Kok sampe luka gitu? " tanya Raya lagi.
" Iya tasku kan ditarik sama penjambretnya, rerus aku ikut ketarik, akhirnya jatuh. Hehe.. " jawab Nia sambil tersenyum.
Nura terlihat memperhatikan penampilan Nia. Ada yang aneh, seharusnya jika Nia memang merayu dan merebut Tuan Narendea dari Lucy, seharusnya Nia sudah menggunakan berbagai macam barang branded. Tapi tidak dengan tampilannya.
Atau dia tidak berhasil mendapatkan Tuan Narendra? Ah, tentu saja. Mana mungkin Karunia menjadi selera Tuan Narendra. Batin Nura.
tin**g
Pintu lift terbuka.
Nia, Raya dan Nura pun masuk bersamaan ke lift. Setelah Nura turun di lantai tiga, Nia dan Raya melanjutkan ke lantai lima. Tempat divisi mereka berada.
" Nia, kau dengar kabar kabur? " tanya Raya.
" Kabar kabur.... " Nia tampak berpikir. " Tidak. " jawabnya kemudian.
" Aku dengar, Tuan Narendra bukan tunangan Lucy Oong, dan saat ini Ia sedang berkencan dengan orang lain. " ucap Raya.
Nia terdiam. " Hmmmm, aku tidak pernah mendengar berita semacam itu. "
ting
Pintu lift terbuka di lantai lima, Nia dan Raya keluar bersamaan dari lift.
" Masa kau tidak tahu? Kau benar - benar ketinggalan jaman ih! " ucap Raya.
" Hahaha, banyak hal lain yang harus aku kerjakan dan lebih penting daripada mengurusi kehidupan orang lain. " ucap Nia.
" Ada betulnya sih " ucap Raya sembari menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah, aku ke ruangan Bu Ratna dulu yah. " ucap Nia kemudian Ia berjalan menuju ruangan Bu Ratna.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Nia terus bekerja hingga tidak sempat makan siang. Ia hanya meminum kopi yang Ia pesan melalui pesanan online.
ting
Suara notifikasi pesan masuk.
Nia mengambil ponselnya, pesan dari Rendra.
Astaga, aku lupa pamit padanya tadi pagi. Batin Nia. Ia pun membuka pesan singkat dari Rendra.
Apa kau sudah makan? Kenapa tidak mengabariku kegiatanmu hari ini?
Nia pun dengan cepat membalas pesan singkat dari Rendra.
Aku tidak sempat makan, bagaimana denganmu?
maaf, aku lupa mengabarimu. Tadi pagi aku terburu - buru.
Tak lama, Rendra pun membalas pesan singkat Nia.
Aku sudah makan, tenanglah.
Tidak mau merepotkan Rendra, Nia segera membalas pesan
Jangan, aku tidak lapar. Nanti aku akan makan jika aku sudah lapar.
Rendra menyadari, Nia termasuk orang yang keras kepala. Ia tidak dengan mudah selalu menuruti permintaannya.
Baiklah, kabari aku jika kau sudah selesai. Aku merindukanmu
Nia tersenyum membaca kalimat terakhir pesan Rendra. Ia pun membalas pesan Rendra
Aku juga merindukanmu
Terasa geli, tapi memang kenyataannya Nia merindukan Rendra. Belum ada status jelas di antara mereka. Namun, sudah jelas dengan perasaan keduanya. Bahkan Rendra juga selalu mengatakan bahwa Nia adalah miliknya.
Nia tersenyum sendiri melihat runtutan pesan singkat Rendra dan dirinya.
Begitu pula Rendra yang berada di ruangannya pun ikut senyum - senyum sendiri. Andreas yang melihat Rendra tersenyum hanya bisa tersenyum simpul. Berbahagialah, ucapnya dalam hati.
" Hayoo! Kenapa kau senyum - senyuk sendiri? " ucap Raya.
Nia salah tingkah. Ia segera meletakkan ponselnya.
" Ah tidak, kamu salah lihat. " ucap Nia. Berusaha menutupi ekspresi wajahnya yang sempat sumringah tadi.
Raya mengerutkan dahi. " Ah tidak, aku yakin sekali kau tadi tersenyum sumringah. " ucapnya.
" Apa tadi itu kekasihmu? " goda Raya.
" Apa maksudmu? Kekasih apa? Bukan ah! " sahut Nia.
Nia kembali menghadap layar komputer di depannya. Pura - pura menggerakkan mouse.
" Lalu kenapa kau seperti salah tingkah? " tanya Raya dengan tatapan penuh selidik.
Nia gelagapan. " Ah, tidak! Siapa yang salah tingkah. Ada - ada aja deh. "
" Hm.. Baiklah kalau kamu tidak mau mengaku. " ucap Raya. " Kenapa kamu tidak makan siang? " tanya Raya.
" Pekerjaanku masih belum selesai. Harus selesai jam lima sore ini. " dengan cepat ekspresi Nia berubah menjadi memelas.
" Waaah, gila yah Bu Ratna. Baru kasih tugas tadi pagi tapi sudah harus beres hari ini juga. " ucap Raya.
" Yaah, inilah realita kehidupan. " ucap Nia sambil terkekeh.
" Baiklah, selamat mengerjakan. Hwaiting! " ucap Raya menyemangati Nia. Kedua tangannya mengepal seperti adegan - adengan memberi semangat di drama korea.
" Ya ya ya, terima kasih Ibu Tsurayya. " ucap Nia kemudian terbahak.
Raya pun kembali ke meja kerjanya dan Nia melanjutkan pekerjaannya.
Bekerja di divisi co & crative benar - benar menguras tenaga. Pekerjaan di divisi ini terkait research tren terbaru dan juga untuk menciptakan tren terbaru sesuai dengan image perusahaan.
Nia bekerja di perusahaan yang menaungi bidang fashion. Sudah menjadi passion Nia untuk menyalurkan ide - ide kreatifnya. Ia memiliki imajinasi yang baik tentang mode dan fashion sejak Ia masih SMA. Itulah mengapa Ia mengambil jurusan desain artistik saat Ia kuliah.
Pukul setengah lima sore, akhirnya pekerjaan Nia selesai. Ia melihat sisi mejanya yang lain. Dua gelas kosong americano sudah kosong. Biasanya Ia tidak minum kopi, tapi Ia terpaksa minum agar Ia menjadi fokus dan tidak mengantuk selama mengerjakan pekerjaannya.
Ia menyiapkan satu jilid hasil cetak pekerjaan dan juga flash disk berisi hasil pekerjaannya. Ia membawa hasil pekerjaannya itu menuju ruangan Bu Ratna.
tok tok tok
" Sore Bu, saya mau menyerahkan hasil pekerjaan saya. " ucap Nia.
Bu Ratna memberi kode agar Nia masuk ke dalam ruangannya. Nia kemudian masuk dan menutup pintu ruangan Bu Ratna. Ia berjalan membawa hasil pekerjaannya.
" Ini Bu hard copy dan soft copynya. " ucap Nia sembari menyerahkan sebuah jilidan dan flash disk.
" Baik, terima kasih Nia. Akan kukoreksi nanti. " ucap Bu Ratna.
" Baik Bu, saya pamit. " ucap Nia kemudian Ia berbalik hendak keluar dari ruangan Bu Ratna.
" Nia. " panggil Bu Ratna.
Nia menghentikan langkah dan berbalik kembali ke Bu Ratna. " Ada apa Bu? "
" Ingat pesanku. Fokuslah bekerja. Harus ingat siapa kita, kedudukan kita. Fokus bekerja saja. " ucap Bu Ratna.
Nia sebetulnya tidak memahami apa maksud ucapan Bu Ratna. Namun Ia hanya menganggukkan kepala saja, " Baik Bu. Saya pamit. "
Kemudian Nia keluar dari ruangan dan kembali ke meja kerjanya.
Tiba - tiba perutnya terasa perih. Ia baru ingat hari ini Ia juga melewatkan sarapan. Makan siang juga. Dan Ia justru meminum dua gelas amerikano.
Nia membuka lacinya dan mengambil obat maagh yang sengaja Ia simpan untuk cadangan ketika Ia terserang penyakit maagh. Ia pun meminum obat maagh itu.
ting
Sebuah pesan masuk dari Rendra
Apa kau sudah selesai? Aku menunggumu di basement
Nia tersenyum dan membalas cepat pesan Rendra
Sudah, aku ke sana.
Nia pun mengambil tas dan kemudian meninggalkan meja kerjanya dan berjalan menuju basement
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍