
Sepulang triple A (Anton, Andra, dan Andreas), Rendra masih duduk termenung di kursi ruang kerjanya. Kepalanya menghadap ke langit - langit. Matanya menerawang, pikirannya melayang. Mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
Ya, kejadian beberapa tahun lalu. Sebuah kejadian yang membuat Rendra terluka. Saat di mana Ia harus kehilangan ayahnya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
flashback on
Saat itu, pertengahan Bulan Juli. Beberapa tahun yang lalu.
Saat itu harusnya sudah bukan musim penghujan turun, namun saat itu entah kenapa hujan turun sangat deras.
Senior Hartawan, ayah dari King Narendra Hartawan. Ia sedang dalam perjalanan pulang dari perencanaan final kawasan berwawasan lingkungan di daerah O.
Senior Hartawan, terkenal sebagai orang yang sangat peduli dengan lingkungan dan sesama. Walau Ia memiliki kerajaan bisnis yang tidak perlu diragukan lagi, Ia tidak segan untuk terjun langsung ke lapangan guna membantu permasalah yang ada di lingkungan masyarakat.
Sopirnya saat itu, Doni, adalah sopir yang baru saja direkrut karena sopir Senior memasuki masa pensiun karena usianya telah lanjut. Walau masih sopir "anyaran", Doni sudah hapal semua wilayah Kota A dan selalu tepat waktu dalam mengantar jemput Senior.
" Tuan. Di luar hujan sangat deras. Apakah Tuan yakin kita akan pulang? " tanya Doni.
" Ya, kita pulang saja. Aku janji pada istriku untuk pulang malam ini. " jawab Senior.
" Baik Tuan, tapi saya tidak berani jalan kencang ya Tuan. Lampu penerangan jalan kalah dengan derasnya hujan. " ucap Doni.
" Iya, utamakan keselamatan saja. " sahut Senior dari kursi penumpang.
Senior sedang asik melihat foto anaknya yang baru saja berhasil memasuki universitas bergengsi di eropa. Ia merasa sangat bangga pada putra satu - satunya itu. Walau hidup selalu diberi kecukupan dan calon pewaris kerajaan bisnis miliknya, anaknya itu selalu rendah hati dan tidak pernah memanfaatkan nama belakangnya untuk hal - hal yang tidak baik. Anaknya tidak pernah manja.
Tiba - tiba...
ckiiiittttt
Mobil yang Ia tumpangi berhenti mendadak.
" Ada apa Doni? " tanya Senior.
" Ada orang tiba - tiba berdiri di tengah jalan begitu Tuan. Hampir saja saya tabrak. " jawab Doni.
" Jangan turun. Abaikan saja. Bisa jadi itu adalah orang yang bermaksud tidak baik. " ucap Senior.
" Baik Tuan. " sahut Doni.
Doni kemudian berniat menghindari orang yang sedang berdiri di tengah jalan itu. Ia mengarahkan mobil ke sisi lain jalanan namun orang itu justru mengikuti gerakan mobil yang sedang dikemudikan oleh Doni.
Sekali lagi, Doni injak rem mendadak.
" Ada apa? " tanya Senior lagi.
" Orang ini tetap menghalangi jalan kita, Tuan. " ucap Doni.
Orang ini benar - benar memiliki niat jahat sepertinya. Gumam Senior.
" Tetap hindari dia. Ayo kita pergi saja. " ucap Senior.
Tiba - tiba..
Brakk!!!
Sebuah mobil menabrak mobil Senior dari belakang.
" Waspada Doni, sepertinya mereka memang mengincar kita. " ucap Senior.
" Baik Tuan. " sahut Doni.
Doni pun mensiasati agar tetap dapat mengarahkan mobil menghindari orang - orang yang berniat jahat itu.
Ia memacu mobil dengan kecepatan tinggi walau hujan masih turun dengan deras. Ia menyalakan lampu jarak jauh agar tetap dapat melihat jalanan dengan baik.
Sesekali Ia melihat ke arah spion dalam mobil, mobil yang menabrak dari belakang itu masih mengejar mereka.
" Selamat malam Kantor Polisi? Saya Senior Hartawan. Saya sedang dikejar. Sebuah mobil mengejar kami. Tadi dia sudah menabrak mobil saya dari belakang. " ucap Senior melalui ponselnya.
" Halo... Halo.... "
" Doni. Tidak ada sinyal di sini. Naikkan kecepatannya, kita cari daerah ramai pemukiman. Setidaknya mereka tidak akan macam - macam di tengah keramaian. " ucap Senior.
" Baik Tuan, " sahut Doni.
Baru saja Doni akan menginjak gas lebih dalam, sebuah suara ledakan terdengar dari sisi kanan mobil. Mobil yang Ia kendarai mengalami pecah ban.
Ia berusaha mengontrol mobil yang sedang Ia kendarai. Namun karena Ia sedang dalam kecepatan tinggi dan jalanan sedang licin akibat turun hujan, Ia kesulitan mengontrol jalannya mobil itu.
Sampai akhirnya, mobil itu terlempar dan terbalik di jalanan. Karena tidak mengenakan sabuk pengaman, Doni pun terlempar keluar dari mobil. Sedangkan Senior yang berada di kursi penumpang, sedang terjepit di dalam mobil.
Sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Terlihat beberapa orang turun dari mobil itu.
Doni tidak mengenali siapa orang - orang itu. Ia berusaha bangkit namun kesulitan. Sepertinya ada bagian tubuhnya yang patah.
Walau hujan masih turun dengan deras, Ia masih bisa melihat dengan jelas berkat lampu jalan yang menyala di dekatnya.
Ia melihat seorang laki - laki tinggi besar mengenakan jaket panjang berwarna hitam mendekat ke arah Senior.
" Jangan... Jangan... Kau sentuh Tuan Senior... " ucapnya susah payah.
Dadanya terasa nyeri dan sesak. Ia berusaha merayap mendekati mobil. Namun tiba - tiba salah seorang dari mereka menahannya. Orang itu menginjak tubuh Doni dengan salah satu kakinya. Mengarahkan senjata laras panjang ke arah kepala Doni, membuat Donu tidak berkutik.
" Kau diam saja di sana, pecundang. " ucap laki - laki bertubuh tinggi besar itu.
" Senior Hartawan. Masih hidup kau rupanya. " ucapnya seraya mendekatkan wajahnya ke arah wajah Senior.
" Sepertinya kau tersiksa. " lanjutnya. " Mari kupercepat saja. "
Laki - laki itu mendekatkan kedua tangannya ke arah leher Senior. Ia mencekik leher Senior kuat - kuat.
" Jangan kau sentuh dia!! " teriak Doni
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat di kepala Doni. Namun Ia masih sadar, hanya saja kepalanya terasa sangat sakit.
Setelah mencekik leher Senior beberapa saat, akhirnya Senior Hartawan pun meninggal.
Laki - laki itu memastikan bahwa Senior sudah tidak bernyawa.
" Dia sudah mati. " ucapnya.
Kemudian Ia tertawa terbahak - bahak. Seperti sedanh menikmati hasil perbuatannya tadi.
" Tuan Thomas, lalu bagaimana dengan yang satu ini? " tanya pria yang sedang menginjak tubuh Doni.
" Bodoh kau! Kenapa kau sebut nama Tuan Thomas?! " seru pria yang satunya lagi.
" Mm...Maafkan saya Tuan. " sahut pria tadi ketakutan.
" Tidak masalah. Tak lama lagi dia akan menyusul Senior Hartawan. Apalagi di jalanan sepi dan hujan deras seperti ini. Tidak akan ada yang menolongnya. " ucap laki - laki bertubuh tinggi besar, yang bernama Thomas itu.
Thomas berjalan mendekati Doni, kemudian Ia berjongkok. Ia menarik kepala Doni sehingga kini Doni dapat melihat wajahnya.
" Seperti yang kau dengar. Namaku Thomas, Thomas Alfredo. Looser! " ucap Thomas kemudian memukul kepala Doni.
Doni pun pingsan setelah mendapat pukulan cukup keras di kepalanya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Cerita flashback masih akan berlanjut di part selanjutnya yaaa