
Nia bekerja seperti biasanya. Sebetulnya, Ia pun mulai merasa aneh dengan lingkungan kerjanya. Sikap dan perlakuan teman - teman kerjanya juga aneh. Sepertinya ada yang sedang mereka sembunyikan.
Aku akan coba mencari tahu. Gumam Nia.
Nia melihat beberapa teman kerjanya sedang mengobrol di meja Raya. Ia berjalan menghampiri meja Raya untuk mencoba membaur bersama dengan yang lain.
" Hei! Seru nih! Lagi ngobrolin apa sih? " tanya Nia sambil bersikap ramah pada teman kerjanya.
Teman - teman kerjanya nampak salah tingkah ketika Nia datang. Kecuali Raya.
" Ngga ada nih Nia. Ngobrolin drama korea terbaru aja. Biasa lah, fans drama korea. " jawab Raya.
" Ada drama baru? Apa judulnya? Pemainnya siapa? " tanya Nia terlihat antusias. Kadang - kadang Nia juga suka melepas penat dengan cara menonton drama korea dari ponselnya.
Mira dan Lala terlihat diam tak menjawab. Ekspresi wajah Lala sepertinya terganggu ketika ada Nia di dekatnya. Nia merasa, namun Ia berusaha mengabaikannya.
" Apa ya? Apa tadi judulnya? " tanya Raya pada Mira.
Mira diam, tidak menjawab. Ia melemparkan pandangan ke arah Lala.
" Apa ya tadi judulnya? " tanya Raya, kali ini mengarah ke Lala.
Lala terlihat berekspresi aneh. Seperti menahan kesal.
" Duh, tiba - tiba lupa. " jawab Lala.
" Eh kok tiba - tiba kerasa panas yah di sini? AC nya nggak nyala apa ya? " tanya Lala.
" Masa sih? " tanya Nia.
" Iya ah, masa sih. Dingin begini. " sahut Raya.
" Iya, tiba - tiba kerasa panas gitu hawanya. " sahut Lala.
Mira hanya terdiam. Sepertinya Ia mengerti apa yang dimaksud oleh Lala. Namun Ia tidak ingin terlibat.
" Kalau panas, kenapa kau pake cardigan? " tanya Nia sambil menunjuk ke arah cardigan berwarna coklat nude yang sedang dipakai Lala.
Ekspresi wajah Lala nampak terlihat semakin kesal.
" Ya kalo aku bilang panas ya panas. " sahutnya ketus.
" Ayo Mira. Kita cari minuman dingin. " Lala menarik tangan Mira pergi dari meja Raya.
Nia dan Raya hanya menatap ke arah dua temannya yang pergi menjauh. Ada seperti sedikit rasa sesak di hati Nia. Tapi Ia berusaha mengabaikannya.
" Kenapa sih dia? Tadi padahal lagi ngobrol seru. " ucap Raya.
Nia menoleh ke arah Raya, mengangkat kedua bahunya bersamaan.
" Raya, mau cari makan siang nggak? Aku lapar. " ucap Nia.
" Yah, sayang sekali. Aku bawa bekal makan Nia, lagi pula aku ada deadline nih. " ucap Raya dengan wajah menyesal.
" Yah, yaudah deh. Aku beli makan siang sendiri. " ucap Nia.
" Maafin yah. " ucap Raya.
" Santuy, aku caww yah. " ucap Nia kemudian Ia pergi keluar dari ruang divisi Co & Creative.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Nia berjalan menuju cafe sebrang perusahaan tempat dia sering membeli makan siang. Tak disengaja, Ia bertemu dengan Mira dan Lala. Nia berlari kecil berniat untuk berjalan beraama kedua temannya itu. Namun langkahnya terhenti mendadak, ketika..
" Kesel banget sama Nia. Bisa gitu yah, kayak ngga ada apa - apa. " omel Lala.
" Kenapa sih? Bisa jadi kan dia memang tidak tahu apa yang terjadi. " sahut Mira.
" Ih, sok suci bener. Kulit mukanya setebal apa coba. " ucap Lala.
" Satu perusahaan sudah tahu dia itu perempuan penggoda. Perayu ulung. " ucap Lala lagi.
" Sst! Kalau ada yang dengar bagaimana. " ucap Mira.
" Biar saja, lebih bagus lagi kalau dia dengar langsung! " ucap Lala.
Nia terdiam mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Lala. Sepertinya satu topik dengan obrolan Yudit dan Nura beberapa waktu lalu.
" Nih ya, sekarang. Muka spesifikasi gitu, tapi latar belakang keluarganya gimana? Ya jelas lah dia merayu Tuan Narendraku yang tampan untuk memperbaiki nasibnya. " ucap Lala lagi.
" Merebut tunangan orang lain, menggunakan tubuh dan wajahnya untuk merayu. Cih, padahal wajah spesifikasi hanya begitu saja. " lanjut Lala.
" Spesifikasi bagaimana? " tanya Mira.
" Menurutku dia cantik dan menarik. " lanjut Mira.
" Iya cantik, dan dia tahu bagaimana memanfaatkan wajah cantiknya. " sahut Lala.
Mira dan Lala spontan menoleh bersamaan ke arah Nia yang sedang memungut ponselnya yang terjatuh.
Keduanya nampak salah tingkah. Jangan - jangan selama ini dia sudah di belakang kita dan mendengar semuanya? Mira dan Lala saling bertatapan dan seolah berkomunikasi lewat tatapan mereka.
" Hei, tadinya aku mau ikut kalian beli minuman dan sekalian cari makan. " ucap Nia setelah memungut ponselnya yang terjatuh.
Lala dan Mira hanya diam. Tidak merespon.
" Tapi ternyata aku tidak jadi lapar. " ucap Nia tersenyum garing.
" Aku mau ke minimarket aja. Daaah... " pamit Nia.
Kemudian Nia berlari meninggalkan Mira dan Lala yang maish terdiam.
Ia berlari ke arah minimarket di ujung jalan. Ia menggenggam ponselnya erat - erat. Bukan karena takut ponselnya akan jatuh, tapi karena Ia merasa sakit hati.
Setelah tiba di minimarket, Ia masuk ke minimarket. Ia berjalan ke arah lemari pendingin minuman. Ia mengambil sebotol air mineral dingin kemudian mengambil sebungkus sosis siap makan.
Ia hilang selera makan, tapi mengingat pesan dokter Silva, Ia harus tetap mengisi perutnya walau hanya sedikit.
Setelah membayar, Ia keluar dari minimarket dan duduk di kursi yang disediakan di depan mini market. Ia membuka botol minuman. Meminumnya pelan sambil berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Namun ternyata, jatuh juga.
Jadi, ini yang dimaksud Nura dan Yudit beberapa waktu lalu? Jangan - jangan, yang dimaksud Bu Ratna juga adalah hal ini? Batin Nia.
Ia mengusap air mata menggunakan punggung tangannya. Ia mengambil sosis siap makan yang Ia beli. Membukanya dengan sembarangan dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Ia menggigit sosis itu sambip berusaha menahan tangisnya. Ia mengunyah sosis siap makan itu dengan susah payah. Lagi - lagi, jika bukan karena pesan dokter Silva untuk selalu mengisi perutnya walau hanya dengan sedikit makanan, Ia tidak akan makan sosis ini dengan susah payah.
ting
Sebuah notif pesan masuk muncul di ponsel Nia. Ia meraih ponselnya dari meja dan melihat siapa yang mengirim pesan. Ternyata Rendra.
Kau sedang apa?
Nia dengan cepat membalas.
*Makan siang, kau sudah makan?
ting*
Nampaknya Rendra dengan cepat membalas pesan Nia.
Nanti. Nia, ada yang harus aku kerjakan di denpasar dan lombok. Aku akan ke sana selama beberapa hari. Jaga dirimu baik - baik, makan teratur. Aku akan mengawasimu dari jauh. Janhan takut
Nia terhenyak. Rendra akan meninggalkannya untuk urusan pekerjaan selama beberapa hari. Sebetulnya Nia ingin menceritakan apa yang Ia alami kepasa Rendra.
Bagaimana gambaran sepasang kekasih, Nia juga ingin berbagi cerita kepada Rendra. Namun nampaknya Rendra sedang sangat sibuk. Nia pun berpikir bahwa Ia tidak boleh membuat Rendra terbebani olehnya.
Kenapa tidak membalas? Kau marah?
Pesan singkat dari Rendra kembali masuk di ruang obrolan ponsel Nia.
Aku tidak marah. Aku mengerti. Kau juga, jaga dirimu baik - baik. Aku menunggumu pulang. Kabari aku jika sudah sampai.
Rendra tersenyum sumringah saat pesan terakhir Nia masuk ke ponselnya. Sekarang, sudah ada yang selalu menunggu kabarku. Menunggu kehadiranku. Batin Rendra.
Pasti. Aku sangat menyayangimu.
Rendra mengirim pesan itu kepada Nia.
Aku juga sangat menyayangimu ❤
Rendra semakin sumringah saat membaca pesan dari Nia. Ia bahkan memanggil Andreas dan memamerkan isi pesan singkat Nia padanya.
" Andreas! Coba kau baca pesan Nia padaku! " Rendea dengan girang memamerkan isi pesan singkat Nia pada Andreas.
Andreas memicingkan matanya berusaha membaca pesan singkat yang dimaksud oleh Rendra.
" Saya ikut senang untuk Anda. " ucap Andreas.
Usia sudah 27 tahun, gelar Ph.D, ahli dalam dunia bisnis, terkenal sebagai manusia es, tapi sekarang seperti anak TK berusia lima tahun. Cih! Batin Andreas.
Tanpa Rendra ketahui, di sebelah sana Nia semakin merasa tidak mood untuk menjalani harinya. Sosis siap makan yang baru Ia makan segigit benar - benar sudah tidak menggiurkan lagi.
Aku harus makan. Kasihan lambungku. Ucap Nia dalam hati.
Kemudian Ia melahap lagi sosis siap makan itu. Sesekali Ia sesenggukan dan menyeka air mata dengan ujung - ujung jarinya.
(Makan sambil nangis emang nyesek, apalagi kalau nangisnya nggak bersuara. Lebih - lebih nyeseknya 🙃)
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Kira - kira bagaimana ya keadaan Nia selama ditinggal Rendra? Duh kasian banget, udah mah lagi dibully sama temen kerjanya. Lingkungan kerja lagi nggak bagus nih. Kasian Niaaaa