Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 14. Apa yang Terjadi?



Setelah menghabiskan sarapan, Nia beranjak dari duduknya dan mengambil mangkok Rendra yang sudah kosong terlebih dahulu. Kemudian Ia duduk kembali di dekat Rendra. Mereka saling membisu.


" Apa kau terkejut? " Rendra membuka percakapan.


Nia menatap Rendra tanpa berkata apapun. Sebetulnya Ia ingin bertanya, apa yang sedang terjadi sampai Rendra mengalami luka seperti itu. Kenapa Ia bisa pergi ke sini, bukan ke tempat lain. Kenapa Ia bisa tahu di mana kontrakan Nia. Kenapa orang melukainya sampai seperti itu. Dan masih banyak kenapa kenapa lainnya.


" Sepertinya kau memang sangat terkejut. " Rendra terkekeh.


" Kenapa..... " Nia memberanikan diri untuk membuka suara.


" Kurasa seseorang benar - benar merasa kalah saing denganku. " potong Rendra. Lagi - lagi Ia terkekeh.


" Kau jangan terlalu terkejut, kehidupan bisnis di sini sangat kejam. Memiliki banyak harta dan kuasa belum tentu membuat dirimu aman. Bisa saja nyawamu terancam setiap harinya. " sambung Rendra.


Nia masih terdiam. Ia hanya menatap Rendra, masih tidak mengerti. Seolah mengetahui bahwa Nia masih belum paham, Rendra tersenyum dan mengusap kepala Nia. Membuat Nia semakin terkejut.


Apa aku terkena serangan jantung? Kenapa jantungku berdebar tidak karuan seperti ini. Batin Nia.


Selama ini memang hanya Rendra, laki - laki yang sering Ia temui. Seorang laki - laki yang wajahnya sering Ia tatap. Walau hanya sekedar untuk menyampaikan laporan. Terlalu fokus pada belajar dan demi mengejar cita - citanya, membuat Nia tidak pernah dekat dengan laki - laki. Ia selalu menolak laki - laki yang mengungkapkan perasaan padanya. Sekarang pun, Ia bekerja dengan target untuk melunasi hutang dan ditambah untuk bisa mengambil kembali rumah dan mobil tua ayahnya. Ia benar - benar tidak pernah menaruh perasaan pada laki - laki manapun. Tapi kenapa kali ini Ia merasakan hal aneh seperti ini.


" Aku sering memenangkan tender besar. Aku sering mengalahkan semua pesaingku. Sepertinya mereka merasa iri. Mungkin mereka benar - benar ingin melenyapkanku. " lanjut Rendra. Ia melirik ke arah tangan Nia. Gelang berwarna hitam miliknya terbalut di lengan kanan Nia.


" Mengenai keadaanku, jangan sampai ada yang tahu. Aku dan Andreas akan segera menyelesaikannya. " Rendra melanjutkan ucapannya. Seolah mengerti tatapan khawatir Nia padanya.


" Tapi... " Nia membuka suaranya takut - takut.


" Hm? " Rendra membalas. " Kenapa? "


" Kenapa Tuan bisa tahu aku tinggal di sini? Dan kenapa Tuan datang ke sini? Bukan ke rumah sakit? Atau ke tuan Andreas? " akhirnya Nia memberanikan diri untuk bertanya.


Rendra tersenyum kemudian menatap Nia lekat - lekat. " Aku sudah tau semua tentangmu. Every single thing. " ucap Rendra.


Nia terkejut. " Bagaikana bisa? "


" Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berusaha, bukan? jawab Rendra kemudian Ia terkekeh.


" Ber... Usaha? " tanya Nia lagi.


" Ya, berusaha. " jawab Rendra. " Selama ini aku selalu mengamatimu. Aku mencari tahu semua tentangmu. " lanjutnya.


" Ha? Kenapa? " Nia tidak mengerti. Apakah Ia sudah membuat kesalahan besar sampai diawasi?


" Sudah. Nanti kau juga tau sendiri. " jawab Rendra santai. " Masalah kenapa aku tidak ke rumah sakit, aku juga tidak tahu kenapa. Aku hanya merasa bahwa jika aku bersamamu, aku merasa aman dan nyaman. " lanjutnya.


" **.. Tapi, Tuan Andreas ke mana? " tanya Nia lagi.


" Ah, Andreas sedang aku tugaskan menyelsaikan permasalah di Surabaya dan Denpasar. Ada masalah besar di sana. " jawabnya. " Bisa aku pinjam ponselmu? Ponselku rusak. Diinjak preman - preman itu semalam. " ucap Rendra.


Nia mengangguk, dan menyerahkan ponselnya.


Rendra meraih ponsel Nia, mengetuk - ngetuk layarnya kemudian mengembalikan pada Nia. " Terima kasih, " ucapnya.


" Iya Tuan. " jawab Nia.


" Bisakah, kau panggil namaku saja? Cukup Rendra? " tanya Rendra.


Nia terkejut, sekali lagi matanya membulat.


" Please. " ucap Rendra dengan eskpresi wajah yang tidak bisa diartikan.


Dia terkenal sebagai CEO berhati dingin. Tidak peduli apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Wajahnya selalu tanpa ekspresi dengan tatapan mata tajam. Dan sekarang ekspresi wajahnya seperti itu? batin Nia.


" Please, " Rendra mengulangi lagi ucapannya.


Nia hanya mengangguk. " Tapi hanya saat kita sedang berdua. Di kantor aku akan tetap memanggilmu Tuan. " ucap Nia.


" Baiklah, itu sudah cukup. " Rendra tersenyum.


Belum selesai Nia terkejut, tiba - tiba Rendra memeluknya. Nia berontak berusaha melepaskan pelukan Rendra.


" Sebentar. 2 menit saja. " ucap Rendra dengan suara beratnya.


Nia berhenti berontak. Tanpa sadar tangannya membalas pelukan Rendra. Rasanya hangat, dan menenangkan.


" Terima kasih, kali ini kau menyelamatkan aku lagi. " Rendra semakin mengeratkan pelukannya.


Nia reflek melepas pelukan. Ia terlihat bingung.


" Lagi? Kapan aku menyelamatkan Anda? Baru sekali ini kan? " tanya Nia.


" Kecelakaan beberapa bulan lalu. Kau membawa laki - laki asing yang bersimbah darah ke rumah sakit. Ingat? " Rendra menatap Nia lekat - lekat. " Laki - laki itu adalah aku. "


Seperti sebuah takdir. Semalam Ia baru saja mengingat kejadian itu dan ternyata sekarang Ia menyelamatkan laki - laki itu lagi. Atasannya sendiri.


" Bb.. Bagaimana Anda tau? Bukankah saat itu Anda tidak sadar? " tanya Nia.


" Gelang hitam itu. " Rendra menunjuk ke gelang yang Nia kenakan.


Nia terdiam. Ya, tentu saja dia mengingat gelangnya sendiri. Ia melepas gelang itu dan melihat ada inisial KN. Dia baru tersadar. KN \= King Narendra.


Rendra tersenyum lagi. " Kau tidak akan menduga takdir apa yang sudah ada di antara kita sejak kecil. Nanti kau akan tau sendiri. "


" Lalu.... Wanita itu? Wanita yang mengatakan bahwa Ia tunangan Tuan? " tanya Nia takut - takut.


Rendra mendekatkan jarak tubuhnya ke tubuh Nia. Tangannya menangkup wajah Nia. " Kau abaikan saja dia. Aku berani menjamin, tidak pernah ada apa - apa antara aku dan dia. " ucap Rendra dengan tatapan penuh keyakinan.


Nia hanya mengangguk dan memundurkan tubuhnya. Memberi jarak di antara mereka berdua. Rendra tampaknya mengerti, bagaimana bisa Nia menerimanya dengan cepat? Semua butuh proses.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Jam menunjukkan pukul 20.00, Rendra dan Nia sudah selesai makan malam. Mereka sedang duduk termenung, asik dengan lamunannya masing - masing. Tiba - tiba ada suara ketukan pintu.


tok tok tok


Nia beranjak dan membuka pintu kontrakannya. Andreas berdiri tegap di depan pintu. Wajahnya terlihat tetap dingin seperti biasanya.


" Kau sudah datang? " Rendra kemudian beranjak dari duduknya.


" Maafkan keterlambatan saya Tuan, seluruh jadwal penerbangan mengalami delay karena ada terjadi badai di Denpasar. " ucap Andreas, Ia menundukkan kepalanya.


" Tak apa. Kau pasti lelah. " Rendra menepuk pelan bahu Andreas.


" Nia, aku pergi dulu. Pakaian ini menjadi hak milikku mulai sekarang." ucap Rendra.


Tiba - tiba Ia menarik tangan Nia dan menarik tubuh Nia ke dalam pelukan Rendra. " Begitu juga dengan kau. " ucapnya lagi.


Andreas reflek berbalik memunggungi sepupunya. Jadi begini, pamer! Gerutunya dalam hati.


Nia berontak melepas pelukan Rendra. Wajahnya memerah seperti lobster rebus. Rendra tersenyum sumringah dan mengusap kepala Nia. Kemudian Ia melangkah keluar diikuti Andreas.


- Di dalam mobil -


" Andreas, " Rendra memulai pembicaraan dengan nada dingin kembali.


" Ya Tuan, " jawab Andreas sambil melirik ke arah spion dalam mobil.


" Kita ada misi seru untuk diselesaikan. " ucap Rendra dengan senyum tersungging sebelah.


" Siap Tuan, " jawab Andreas.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Jangan lupa terus dukung penulis ya, terima kasih 馃