
Nia menatap dokter Ardian bingung. Nia mengira hanya akan makan di warung penyetan kaki lima. Tapi ternyata Ardian mengajak Nia makan di restoran sebuah hotel bintang lima.
" Silakan duduk, " ucap Ardian mempersilahkan sambil menarik sebuah kursi.
Dengan agak kikuk, Nia menurut dan duduk di kursi yang disiapkan oleh Ardian.
" Dok, bukannya kita mau makan malam saja? " tanya Nia bingung. " Kenapa ke sini? "
" Iya, untuk makan. " jawab Ardian singkat.
Nia masih kebingungan. Iya, kenapa kemari? Penyetan penggir jalan juga udah enak, batinnya.
Setelah memesan makanan, makanan datang dan mereka makan dengan tenang.
" Apa kau masih bersama Sarah? " tanya Ardian membuka percakapan.
" Iya dok, " jawab Nia singkat.
" Kalau begitu nanti aku saja yang mengantarmu pulang. " ucap Ardian.
Nia menggeleng dengan cepat. " Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. " cegah Nia. Ia tidak ingin merepotkan Ardian.
" Sudah. Kau menurut saja padaku. " ucap Ardian lagi.
Nia merasa tidak bisa melawan kemauan Ardian. Akhirnya Ia hanya menurut saja dan melanjutkan makannya.
" Bagaimana? Kau suka makanannya? Atau ada makanan lain yang ingin kau pesan? " tanya Ardian.
Dengan cepat Nia menggeleng. " Tidak, tidak. Sudah cukup. Terima kasih."
Setelah makan malam selesai, seperti yang sudah diucapkan Ardian, Ia mengantarkan Nia pulang ke apartemen Sarah. Ada yang aneh, selama perjalanan Nia tidak bersuara. Ketika Ardian menoleh ke arah Nia, ternyata Nia sedsng tertidur.
Tidak ingin mengganggu Nia, Ardian pun tidak membangunkannya. Ia memarkirkan mobilnya di area parkir, menatap lekat - lekat Nia yang sedang tertidur. " Cantik. " ucapnya pelan.
Seperti terhipnotis, Ardian mengulurkan tangannya ke arah wajah Nia. Ia mengarahkan rambut - rambut Nia yang menutupi wajah Nia. Ia pandangi lagi lekat - lekat. Dari kening, alis, mata, hidung, bibir. " Sungguh sempurna. " ucapnya lagi pelan.
Benar - benar seperti tidak bisa dikendalikan. Ardian mengulurkan lagi tangannya ke arah wajah Nia, jari - jarinya mengusap pipi Nia dengan lembut. Nia yang merasakan seperti ads sentuhan di wajahnya menggeliat dan terbangun. Dengan cepat Ardian menarik tangannya dsn bersikap seperti tidak pernah terjadi apa - apa.
" Apa kita sudah sampai? " tanya Nia sambil menutup mulutnya karena sedang menguap.
" Ya, kita sudah sampai. " jawab Ardian.
" Ha? Kenapa tidak membangunkanku? Sejak kapan kita sampai? " tanya Nia panik.
" Hmm... Baru. Baru saja. " jawab Ardian.
" Baik, kalau begitu aku turun. Terima kasih untuk makan malamnya dok, dan terima kasih sudsh mengantarku pulang. " ucap Nia.
" Sebentar. " cegah Ardian. " Kemarikan ponselmu. " pinta Ardian.
" Ha? Kenapa dengan ponselku? " tanya Nia heran.
" Sudah kemarikan saja. " ucap Ardian lagi tidak sabar.
Sambil manyun, Nia menyerahkan ponselnya. " Ini. "
Ardian tampak sedang mengetik sesuatu di ponsel Nia. " Aku menyimpan nomorku di ponselmu. Hubungi aku kapanpun kau butuh bantuan. Aku akan selalu stand by. "
Nia semakin heran, " Kenapa aku harus menghubungi anda? " tanyanya.
" Sudah tidak usah banyak tanya. Aku juga sudah menyimpan nomormu. Jadi jangan kaget kalau tiba - tiba aku juga akan menghubungimu. " Ucap Ardian sambil menyerahkan ponsel Nia.
Kenapa sih orang ini? Kenapa dia main simpan - simpan nomornya di sini? Memang aku akan butuh apa lagi? Lukaku sudah sembuh. Batin Nia.
" Katanya mau turun, atau masih mau berlama - lama lagi denganku di dalam mobil? " tanya Ardian menggoda Nia.
Dengan cepat Nia membuka pintu mobil. " Aku turun, terima kasih. " Nia menutup mobil dan mundur beberapa langkah dari mobil.
Ardian membuka kaca mobil dan tersenyum ke arah Nia. Setelah menganggukkan kepalanya, Ardian menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan Nia yang masih terheran - heran di area parkir apartemen.
Dokter aneh. Kenapa dia tiba - tiba begitu. Dan kenapa dia sangat baik kepadaku. Ucap Nia dalam hati.
*pengirim : dokter tampan
Selamat istirahat Nia.
Hm, haruskah aku membalas pesan ini? Sudah pasti ini nomor dokter Ardian, batin Nia.
*penerima : dokter tampan
Terima kasih dok,
Setelah pesan terkirim, Nia mematikan ponselnya karena baterai ponselnya hampir habis. Ia masuk ke dalam kamar, berganti pakaian dan membersihkan diri. Setelah selesai dengan urusannya, Ia pun merebahkan tubuhnya di kasur.
Nia menatap ke arah langit - langit. Aku harus segera pindah, aku tidak enak merepotkan Sarah terus. Aku harus segera mencari sewa kamar kos. Nia bergumam.
Lama berpikir dan asik dengan isi pikirannya sendiri, kemudian Nia tertidur. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Keributan terjadi di ruang divisi Co & Creative. Semua orang sibuk merapikan meja kerja dan membersihkan area kerjanya masing - masing.
Nia yang baru saja datang belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Kenapa teman - teman satu divisinya sibuk berbenah.
" Sarah. " panggil Nia. " Ada apa? "
" Tuan Narendra akan datang kemari. Makanya pada sibuk beberes. " jawab Sarah sambil masih sibuk menyusun buku dan notes di mejanya. " Bereskan mejamu juga. "
Nia mengangkat alisnya setelah melihat lagi sekelilingnya masih sibuk berbenah. Ia terbiasa menyusun barang - barangnya dengan rapi. Bahkan buku dan notes disusun sesuai dengan ukuran dan warnanya. Jadi, Ia tidak perlu repot - repot berbenah sekarang.
Lima menit kemudian ~
" Pagi. " sebuah sapaan dengan suara bass menggoda terdengar dari pintu masuk ruangan.
" Selamat pagi Tuan Narendra. " Bu Ratna maju beberapa langkah menyambut kedatangan CEO perusahaan itu.
" Maaf kalau kedatangan saya mengganggu. " Rendra basa - basi membuka pembicaraan.
Dengan cepat seluruh isi ruangan menjawab " Tidak apa - apa Tuan, " secara serentak.
Rendra berjalan memasuki ruangan Divisi Co & Creative diikuti Andreas yang wajahnya tidak kalah dingin dengan Tuannya. Rendra berjalan mendekati meja Nia yang masih berdiri sambil menundukkan kepalanya.
" Siapa namamu? " tanya Rendra membuat satu ruangan terkejut.
Dengan masih menundukkan kepalanya, Nia menjawab dengan tenang. " Saya Karunia, Tuan. "
" Angkat kepalamu. " perintah Rendra.
Nia mengangkat kepalanya namun pandangannya masih mengarah ke bawah. Rendea menatap wajah Nia, Ia memperhatikan bekas luka yang ada di wajah Nia. Sudah sembuh ternyata, batin Rendra.
" Bu Ratna. " panggil Rendra.
" Iya Tuan, " jawab Bu Ratna sambi berjan cepat ke arah Rendra.
" Ke ruang rapat sekarang. Ajak staffmu yang bertanggung jawab dalam project inovasi terakhir yang kalian ajukan padaku. "ucap Rendra kemudian Ia berjalan ke arah ruang rapat. Dan seperti biasa, Andreas hanya mengikuinya tanpa bersuara dan tanpa ekspresi.
" Baik Tuan, " jawab Bu Ratna. Kemudian Ia menberi kode kepada Sarah dan Nia untuk mengikutinya ke ruang rapat.
Sepeninggal Rendra dan Andreas, ruangan divisi Co & Creative ramai akan suara helaan napas lega. Tapi tidak bagi Nia dan Sarah.
Aduh, salah apa lagi ini? Perasaan kemarin udah acc deh, batin Nia. Sedikit panik ia mencari - cari flash disk yang kemarin Ia gunakan untuk menyimpan data presentasi inovasi yang Ia dan Sarah ajukan.
Sarah menghampiri Nia, " Duh, mimpi apa semalam tiba - tiba dipanggil begini. " ucap Sarah dengan nada khawatir.
" Entahlah, semoga tidak aneh - aneh. Yuk. " ajak Nia kepada Sarah untuk segera menyusul Bu Ratna yang sudah berjalan terlebih dahulu ke ruang rapat.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
...Selca Nia dan Sarah...