Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 119. Menyusun Rencana



Halo, sebelum memulai mengisahkan lagi, ku ingin cuap - cuap terlebih dahulu.


Pertama, terima kasih banyak karena masih terus menunggu dan membaca karya penulis yang super sibuk ini.


Kedua, maafkan daku yang selalu saja terkendala untuk update. Entah aku sedang sibuk atau memang proses reviewnya yang lama.


Ketiga, mohon dukungannya terus untuk penulis. Terima kasih banyak ❤


đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸


Selamat Membaca ~


Siang ini juga, Anton segera menemui Rendra setelah mendapat panggilan dari Rendra. Ia telah menjelaskan apa saja hasil pencarian Zyco, si ahli IT andalan yang bekerja pada Anton.


" Apa benar? " tanya Rendra bersemangat.


" Ya, Tuan. Kabarnya mereka akan berlabuh sekitar satu minggu. Dan itu waktu yang cukup untuk menyelamatkan Nyonya Nia dan Nona Sarah. " jawab Anton.


Rendra merespon dengan anggukan.


" Kurasa ini adalah momen yang tepat. " timpal Andreas yang diikuti dengan anggukan kepala Rendra.


" Anton, jika memang betul kapal itu akan berlabuh di Phnom Penh, maka aku minta kau segera berangkat. Bawa anak buahmu. " perintah Rendra.


" Tapi Tuan? Seperti tang Anda tahu, negara itu sedang memberlakukan pelarangan untuk kedatangan siapapun yang berkaitan dengan militer dan juga hal lain yang berkaitan dengan itu. " ucap Anton.


Rendra terdiam. Benar juga, mereka sedang sangat sensitif dengan isu keamanan dan juga militer. Bisa - bisa bukan hanya dia yang dicekal, tapi negara ini juga.


" Bagaimana jika kita menggunakan alasan sebagai turis? " tanya Andreas.


" Kita tetap bisa masuk dengan alasan berlibur tapi kita tetap bisa menjalankan rencana kita. " lanjutnya.


Rendra langsung setuju dengan ide Andreas. " Aku sangat setuju denganmu. Itu adalah ide yang bagus. "


" Baik Tuan. Sepertinya itu adalah pilihan terbaik saat ini. " ucap Anton.


" Kau bawalah anak buah terbaikmu. Bawa juga anak buahmu yang mahir dalam IT itu agar dia bisa membantumu memantau situasi dan kondisi di sana. "ucap Rendra.


" Baik, Tuan. " sahut Anton.


Kemudian Ia pun keluar dari ruangan Rendra.


" Andreas, " panggil Rendra.


" Ya? " sahut Andreas kemudian ke arah Rendra.


" Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nia dan Sarah saat ini. " ucap Rendra.


" Aku berharap kau mau tetap bersabar. " lanjut Rendra.


Andreas terdiam, Ia menepuk pelan pundak Rendra.


" Kau juga, " sahut Andreas.


Pandangan Rendra menerawang. Ia menatap foto pernikahannya dengan Nia yang tercetak dengan ukuran besar di dalam ruangan kerjanya.


" Bagaimana aku tidak memikirkan keadaan istriku saat ini. Ia sedang mengandung. " ucap Rendra.


" Aku sangat mengkhawatirkannya dan juga calon anakku. " lanjutnya.


Andreas menepuk pelan lagi pundak Rendra.


" Aku memang belum menikah, tapi aku tau bagaimana perasaanmu. Maka dari itu, kita harus berhasil menyelamatkan mereka. Dan kita harus berhasil membuat Jason membayar ini semua. " ucap Andreas.


" Tommy! Apakah Tommy bisa dihubungi? " tanya Rendra.


" Oh ya, masalah Tommy. Salah satu anak buah Anton mengikutinya selama beberapa hari sejak terakhir kita bertemu dengannya. " jawab Andreas.


" Mereka melaporkan bahwa Jason memerintahkan beberapa orang untuk menghajarnya karena kedapatan berkomunikasi dengan kita. Jason menghancurkan ponsel Tommy di tempat. " jelas Andreas.


" Mata - mata kita mengatakan bahwa keadaan Tommy saat itu sangat menakutkan. Ia babak belur dan seperti ketakutan. " lanjutnya.


" Hm, wajar jika Anton kemudian merasa trauma. Dan teroakda mengikuti jalan pikiran dan rencana Jason.


" Memang dia itu manusia gila! " ucap Rendra geram.


" Bahkan orang kepercayaannya saja dia hajar sampai seperti itu. Saya rasa, Ia benar - benar takut menghadapi sebuah pengkhianatan. " timpal Andreas.


" Jadi, tidak ada cara bagi kita untuk menghubungi Tommy? " tanya Rendra.


" Untuk saat ini, tidak bisa. Jason melarang Tommy membawa alat komunikasi dalam bentuk apapun. " jawab Andreas.


" Sial! Seandainya Tommy membawa ponsel, aku yakin dia akan menghubungi kita. " Rendra meremas kertas yang sedari tadi Ia remas dengan kuat.


" Tenang, aku akan mencari cara lain untuk membuatnya mendapat hukuman seberat - beratnya. " ucap Andreas.


" Baiklah. Aku mengandalkanmu. " ucap Rendra dengan tatapan penuh keyakinan pada Andreas.


" Oh ya, bagaimana dengan kabar dua penjaga pribadi Nia yang kita kirim ke Finlandia?


" Mereka akan segera kembali besok, Apa ada yang harus kuperintahkan lagi pada mereka? " tanya Andreas.


" Katakan pada mereka untuk bersiap - siap ke Kamboja juga. " perintah Rendra.


" Baik, " sahut Andreas.


" Bagus, sekarang kau pulanglah. Tidurlah lebih awal. Kerjakan bagianmu mulai besok. " ucap Rendra.


" Baiklah, kalau begitu saya pamit undur diri. " ucap Andreas.


" Ya, " sahut Rendra.


đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸đŸ”šī¸đŸ”¸ī¸