Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 120. POV Anton



Selamat Membaca ~


" Apa kalian sudah bersiap untuk kembali? " tanya Anton melalui panggilan ponsel.


" Sudah, Tuan. Saat ini kami sudah ada di bandara dan bersiap untuk check in. " jawab seseorang di seberang sana.


" Bagus. Apa urusan di sana benar - benar sudah selesai? " tanya Anton memastikan. Jangan sampai dua orang agennya itu kembali dengan tangan hampa.


" Tenang saja Tuan, semua berjalan sesuai rencana. Semua hasilnya akan dibawa oleh Mark ke Indonesia. " jawab orang itu.


" Bagus. " sabut Anton.


Ia membenarkan posisi duduknya yang tadi setengah bersandar menjadi lebih tegak.


" Bersiaplah, kita akan melakukan misi penyelamatan. Perbekalan kalian sudah disiapkan, jadi kalian cukup mempersiapkan mental kalian saja. " ucap Anton.


" Baik, Tuan. Ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan. " sahut orang itu.


" Hm? " Anton tidak mengerti kenapa agennya satu ini benar - benar sangat bersemangat.


" Iya, Tuan. Kita akan melakukan sebuah misi penyelamatan. Kita akan melakukan adegan seperti di film - film action. Memainkan senjata dan adu kemampuan bela diri kita. " orang di sana berucap panjang lebar.


Anton memutar malanya malas, agennya satu ini memang terlalu bersemangat.


" Kita akan berlari dan saling memberi kode khusus. Kita akan menyelinap, menyergap, dan kita akan.. " belum selesai agennya bercerita, Anton memutuskan sambungan telepon.


" Aku tidak percaya aku punya agen seperti dia. Benar - benar membuat sakit kepala. " ucap Antin memijit pelipisnya perlahan.


Ia memutar kursinya. Kini Ia menghadap ke arah sebuah bingkai foto berukuran kecil di meja kerjanya. Ia menatap foto seorang gadis kecil yang sepertinya berusia 5 tahun. Gadis kecil itu sedang tersenyum lebar, tangannya memegang sebuah balon berwarna merah muda.


Sejenak, memorinya berputar.


Flashback On ~


Anton sedang mengawasi seorang anak perempuan berlarian membawa balon berawarna merah muda sedang berlarian di taman. Anak perempuan itu mengenakan dress selutut berwarna biru muda. Terlihat cantik di kulitnya yang kuning langsat.


Ia memotretnya dengan kamera. Ia memotret beberapa kali saat anaknya asik bermain di taman.


" Ayah, ayah... " panggil anak perempuan itu seraya berlari ke arah Anton.


" Ada apa, nak? " tanya Anton yang sedang duduk di kursi taman.


" Ayah, belikan aku gulali itu. Aku ingin yang warna merah muda. " pintanya sambil menunjuk ke arah pedagang gulali yang sedang dikerumuni pembeli.


" Yasudah. Kau tunggulah di sini. Jangan ke mana - mana. Ayah akan membelinya untukmu. " ucap Anton.


" Iya, ayah. " sahut anak perempuan itu patuh.


" Anak baik. " ucap Anton.


Ia mengangkat tubuh anaknya, dan meletakkannya pelan di kursi taman. Kemudian Ia berjalan ke arah penjual gulali yang sedang dikerumuni orang.


Setelah mengantre cukup lama, Anton kembali ke kursi taman tempatnya meninggalkan anaknya.


Ia sangat terkejut mendapati tidak ada anaknya di kursi taman. Hanya ada balon berwarna merah muda di sana beserta salah satu sepatunya yang terlepas.


" Camelia! Camelia! " Anton berteriak berusaha memanggil anaknya.


Wajahnya memucat. Di mana anakku?


" Camelia! Camelia! " Ia berteriak dan berlari di sekitar kursi taman tempatnya meninggalkan anaknya tadi.


Itulah kali terakhir Anton melihat anaknya masih hidup, tertawa ceria sambil bermain di taman. Karena, beberapa hari kemudian anaknya ditemukan sudah tidak bernyawa di saluran pembuangan air.


" Ayah tidak akan membiarkan kejadian itu terulang. Karunia sudah seperti keluarga, aku tidak akan kehilangan anak perempuan manis itu. " ucapnya bersungguh - sungguh seraya memegang bingkai foto itu.


Gadis kecil itu adalah anak perempuan Anton. Gadis kecil itu seharusnya saat ini sudah seusia dengan Nia, hanya saja nasib membuatnya tidak bisa mencapai usia yang sama dengan Nia.


Anton kehilangan anak perempuannya karena kelalaiannya saat berada di taman bermain. Seorang pedofil menculik anaknya, menc*bulinya, dan menyiksanya sampai tewas. Jena*ah anaknya ditemukan di saluran pembuangan air dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Itulah yang membuat Anton berjanji pada dirinya sendiri untuk menyelamatkan Nia.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Di bandara ~


Rendra dan Andreas mengantar kepergian Anton dan beberapa anak buahnya di bandara.


" Jaga diri kalian. Jangan sampai mereka berhasil melukai kalian. " Rendra menepuk pelan pundak Anton dan Zyco bergantian.


" Bawa pulang kembali istriku dan Sarah. " ucap Rendra.


Anton menggenggam tangan Rendra dengan wajah bersimpati, " pasti Tuan! "


" Saya berjanji, saya akan membawa Nyonya dan Nona Sarah kembali. Tuan Narendra dan Tuan Andreas tenang saja. " jawab Anton.


Rendra menganggukkan kepalanya. " Aku percaya pada kemampuan kalian. "


" Terima kasih, Tuan. " sahut Anton.


" Ingat. Kalian adalah turis. Bersikaplah seperti turis pada umumnya. " ucap Andreas mengingatkan Anton dan agennya.


" Tenang saja, Tuan. Kami mahir dalam berakting. " sahut Zyco.


" Bagus. " sahut Andreas puas.


Ia bisa sedikit merasa tenang, Ia sudah membayangkan bisa menjemput Sarah dan Nia setelah diselamatkan oleh Anton dan agennya.


" Aku mengandalkan kalian. " ucap Rendra.


" Baik, Tuan. Anda fokus saja dengan urusan di sini. " ucap Anton.


Laki - laki yang sudah berusia 50 tahunan itu mengerti betul bagaimana perasaan Rendra saat ini. Ia sendiri juga sudah tidak sabar menyelamatkan Nia dan Sarah.


Usianya memang sudah tidak muda, tubuhnya tetal prima karena rajin berlatih dan berolahraga. Ia sudah siap untuk memberi pelajaran Jason dan anak buahnya.


Kepada penumpang pesawat dengan tujuan...


" Itu adalah panggilan untuk kalian. " ucap Andreas.


Zyco meraih tas ranselnya dan memakainya. Anton memberi kode kepada agennya yang lain untuk bersiap.


" Kami akan segera masuk ke dalam. " ucap Anton.


" Ya, ingat pesanku. Jaga diri kalian. " ucap Rendra.


" Baik, Tuan. " sahut Anton dan Zyco bersamaan.


Kemudian Anton dan agen - agennya pun berjalan menuju pesawat, meninggalkan Andreas dan Rendra di ruang tunggu.


" Ayo Andreas, kita juga punya pekerjaan lain yang harus diselesaikan. " ucap Rendra.


" Baik, " sahut Andreas.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍