Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 16. Ketakutan Kolega



" Narendra. " panggil dokter Silva.


Rendra yang mendengar namanya disebut, segera beranjak dan menghampiri dokter Silva.


" Bagaimana keadaannya? Apakah ada luka serius? Apa aku harus membawanya ke rumah sakit? Apakah Ia akan memgalami trauma? " tanya Rendra.


Mendengar brondongan pertanyaan Rendra membuat dokter Silva tertawa terbahak - bahak. " Lihatlah dirimu! Manusia kutub selatan ini! Sebegitu khawatirnya kah kau pada dia? "


" Kenapa kau tertawa? Aku sedang serius. " sahut Rendra.


" Hahahaha.. " dokter Silva masih saja tertawa. " Dia tidak kenapa - kenapa. Dia hanya shock ringan. Luka di pelipis dan cakaran itu tidak parah. Nanti juga dia sadar. " jawab dokter Silva.


" Kau yakin? Tapi tadi menabrak lampu dan juga tertimpa lampu hias itu. " masih terlihat kekhawatiran pada wajah Rendra.


" Iya, aku sangat - sangat yakin. " jawab dokter Silva lagi, " Nanti dia akan sadar. Mungkin hanya shock sedikit, tapi tidak kenapa - kenapa. Aku menyuntikkan pereda nyeri dan juga vitamin tadi. Tubuhnya akan baik - baik saja. "


" Baiklah, terima kasih Silva. " akhirnya Rendra terlihat sedikit lebih tenang.


" Oke, aku balik ke rumah sakit dulu ya. Kukira kau baru saja baku hantam dengan preman. Ternyata, hahaha " dokter Silva kembali terbahak - bahak.


" Kenapa kau tertawa lagi? " Rendra bertanya dengan nada kesal.


" Apakah dia spesial? " tanya dokter Silva sambil mengedipkan mata kirinya.


Rendra tidak menjawab. Ia hanya terdiam namun tampak sedikit guratan senyum pada bibirnya.


" Nah, sudah kuduga. " ucap dokter Silva sambil menepuk bahu Rendra. " Aku balik yah, bye! " kemudian dokter Silva dan perawatnya meninggalkan ruangan Rendra.


Sepeninggal dokter Silva, Rendra berjalan menghampiri Nia yang masih belum sadar dari pingsannya. Ia meraih tangan Nia, menggenggamnya. Ia mencium tangan Nia dan meletakkan tangan Nia di atas dadanya.


" Maafkan aku, seharusnya aku bisa menjagamu lebih baik. " Rendra merasa sangat bersalah.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Berita keributan di ruangan Rendra menyebar dengan cepat. Sarah yang baru saja kembali dari cafe depan membawakan sandwich kesukaan Nia terkejut dan berlari ke arah ruangan Rendra.


" Maaf, apa Karunia ada di sini? " tanya Sarah kepada Anna dengan napas terengah - engah.


" Maaf, anda siapa? " tanya Anna dengan sopan.


" Saya Sarah, satu divisi dengannya. Divisi Co & Creative. " Jawab Sarah sambil menunjukkan name tagnya.


" Baik, Nona Karunia sedang berisitirahat di dalam. Dokter baru saja memeriksanya. " jawab Anna. " Tuan Narendea berpesan agar jangan ada yang mengganggu istirahat Nona Karunia, "


Non... Nona? tanya Sarah dalam hati. Sejak kapan Noa dipanggil dengan sebutan Nona.


" Baiklah, jika Ia sadar, tolong kabari aku. Aku akan kembali ke ruanganku. " jawab Sarah.


Anna hanya membalas dengan anggukan dan senyuman singkat. Sarah kemudian berbalik kembali ke ruangannya.


Di perjalanannya kembali ke ruangan, Sarah mendengar kasak - kusuk staff lain tentang Nia.


*Kau sudah dengar? Karunia dari co & creative itu ternyata pelakor. Dia merayu Tuan Narendra. Padahal kan jelas - jelas Tuan Narendra itu tunangan Lucyana Oong.


Ih dasar tidak tahu malu ya, tidak sadar posisi!


Kelihatan banget matrenya! Dia kira dia sebagus apa!


Muka pas - pasan kebanyakan gaya!


Anak kemaren sore punya bakat pelakor!


Staff baru tidak tahu diri!


Hei lihat, itu teman karibnya! jangan sama - sama pelakor*!


Telinga Sarah terasa panas. Ia menghentikan langkahnya, dan menghampiri sekerumpulan wanita - wanita bigos itu.


" Kalau tidak tahu apa - apa, jangan asal nyablak! Kasih berguna sedikit otak dan mulut kalian! " bentak Sarah kemudian meninggalkan mereka.


Terdengar suara cekikikan dari kerumunan wanita itu. Masih merada kesal, Sarah berbalik lagi dan kembali ke arah mereka. Ia merebut gelas minuman salah satu dari mereka dan menyiram mereka semua sekaligus.


" Sekali lagi aku tau kalian berkata yang tidak - tidak, aku laporkan kalian ke Tuan Narendra! Dasar Julid! " Sarah melempar gelas sisa minuman itu ke salah satu dari mereka dan pergi.


Ia tidak peduli sekarang orang - orang melihat ke arahnya. Siapa yang berani mengganggu, dan menghina Nia, akan berurusan juga dengannya!


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


tok tok tok


Anna membuka pintu ruangan Rendra, masuk, kemudian menutupnya kembali perlahan. Ia melangkah ke meja Rendea dengan keraguan.


" Maaf Tuan, ada Tuan Franky Oong. Beliau memaksa ingin bertemu dengan Tuan. " ucap Anna takut - takut.


" Baik Tuan, apakah saya perlu menyiapkan minuman? " tanya Anna.


" Tidak perlu. Dia tidak akan lama di sini. " ucap Rendra dingin.


Anna mengangguk mengerti kemudian melangkah keluar dari ruangan Rendra.


Kemudian, seorang pria parug baya berusia hampir 60 tahun masuk ke dalam ruangan Rendra. Terlihat ketakutan dan kecemasan di wajahnya. Dengan takut - takut Ia berjalan ke arah Rendra.


" Selamat siang Nak Rendra. " ucapnya.


" Siang. Silakan duduk. " ucap rendra sembari menunjuk ke arah sofa. Ya, menunjuk. Dwngan jari telunjuk.


Dengan takut, Franky mengikuti perintah Rendra dan duduk di sofa. Rendra beranjak dari kursinya dan berjalan menuju sofa, kemudian duduk di sofa. Ia diam, tidak bicara, hanya menatap Franky dengan tatapan penuh amarah.


" Ss... Ssaya... Ingin menyampaikan sesuatu. " ucap Franky membuka pembicaraan.


" Cepat. Aku sibuk. " jawab Rendra.


" Baik Nak Rendra... " belum sempat Franky menyelesaikan omongannya, Rendra memotong omongan Franky.


" Anda tau aku sibuk apa? Aku sibuk membersihkan hasil keributan anak anda tadi pagi. Asetku yang paling berharga sampai terluka. Dan sampai sekarang Ia masih belum sadar dari pingsannya. " Rendra menahan amarahnya.


" As... aset? " Franky bertanya takut - takut.


" Ya! Asetku yang paling berharga! " nada bicara Rendra makin meninggi. " Dia adalah calon istriku! "


Franky memucat. Dalam hati Ia memaki anaknya sendiri, Lucy. " Ca... Calon istri? Bukankah anda akan menikahi anakku? " tanyanya.


" Kapan aku pernah mengatakan itu? Tidak pernah kan?! Kalian saja yang berasumsi seperti itu! Lagipula, mana ada orang tua yang justru menyerahkan anaknya sendiri sebagai ucapan terima kasih?! " Rendra benar - benar berusaha menahan amarahnya.


" Anda adalah kolega ayahku dari dulu. Bahkan ayahku memiliki saham di perusahaan Anda! Tapi karena perbuatan anak Anda, aku tidak mau lagi bekerja sama dengan Anda! " bentak Rendra lagi.


" Jj... Jangan begitu Nak Rendra, semua pasti bisa diselesaikan baik - baik. " Franky berusaha meraih tangan Rendra namun Rendra menepisnya.


" Selama ini aku biarkan anakmu bicara sana - sini bahwa Ia adalah tunanganku. Tapi dia semakin keterlaluan. Ini bukan pertama kalinya dia membuat keributan di sini! " wajah Rendra tampak memerah menahan amarah.


" Aku sudah menghubungi beberapa pemilik saham di perusahaan Anda! Tenang saja! Aku tidak akan menjual sahamku, tapi justru aku membeli 41% lagi sisa saham perusahaanmu dari pemegang perusahaanmu. Dengan begini aku adalah pemilik saham tertinggi perusahaan Anda! Tidak sukit bagiku untuk mendepak Anda! " ancam Rendra.


Begitulah Rendra, terkenal dingin dan kejam di dunia bisnis. Bisa memutar keadaan dengan sangat mudah. Apalagi jika ada yang berani mengusiknya. Ia tidak segan turun tangan sendiri.


Franky terkejut. Matanya mulai basah. Bagaimana bisa Rendra bisa seperti ini. " Ha... Hanya karena anakku melukai calon istri anda? " tanyanya.


" Apa? HANYA!!! " kali ini amarah Rendra benar - benar sudah tidak bisa ditahan lagi. " Asal Anda tahu, bukan hanya itu. Aku akan memenjarakan anak Anda dengan tuduhan penganiayaan, perbuatan tidak menyenangkan, dan pidana lainnya! "


" Cukup! Anda bisa keluar dari ruanganku sekarang! " Rendea beranjak dari sofa namun ditahan oleh Franky.


Frakny menahan tangan Rendra dan bersujud di kaki Rendra. " Kumohon Tuan, jangan... "


" Resikomu! " Rendra menepis tangan Franky dengan kasar, namun Franky kembali meraih tangan Rendra.


" Lepaskan tanganku! " amarah Rendra kali ini benar - benar sudah di puncak.


" Tuan... " terdengar suara lirih dari arah pintu connecting room. Suara Nia.


" Nia! Kau sudah sadar? " Rendra menepis tangan Franky dan berjalan ke arah Nia.


Rendra menatap Nia lekat - lekat. Wajah Nia masih terlihat pucat.


" Kenapa kau bangun dari kasur. Kau harus istirahat. " ucap Rendra khawatir. Berbeda 180掳 dengan cara bicaranya pada Franky beberapa saat lalu.


" Tuan, Anda bangunlah... " ucap Nia sambil menunjuk ke arah Franky.


Franky mengangkat kepalanya, Ia melihat ke arah Nia dan Rendra.


" Kau tidak dengar?! Bangun! " perintah Rendra. " Kau lihat! Apa yang sudah anakmu lakukan pada calon istriku! " bentak Rendra.


Nia terkejut mendengar ucapan Rendra. Calon istri? Aku tidak salah dengar kan? Sejak kapan? Nia kebingungan.


" Kau lihat! Luka pada calon istriku cukup untuk memenjarakan anakmu untuk beberapa tahun! " bentak Rendra lagi.


Franky melihat ke arah wajah Nia. Benar saja ada beberapa goresan luka. Masih terlihat darah yang baru saja kering dari luka - luka itu. Wajah Franky makin pias.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Jadi, apa yang selanjutnya akan terjadi? Sejak kapan Nia menjadi calon istri Rendra?


Tunggu kelanjutan ceritanya yaaa, dan mohon bantuan dukungannyaaa


Terima kasih 馃