Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part. 118 Mulai Menemukan Titik Terang



Selamat Membaca ~


Di sebuah ruangan khusus di kantor Anton ~


" Tuan, coba lihat ini. " seru seorang anggota Anton seraya menunjuk ke arah layar komputer yang ada di depannya.


Anton segera menghampiri orang itu. Ia memperhatikan layar komputer yang ditunjuk oleh anak buahnya.


" Ini adalah arah dari kapal - kapal yang berangkat kemarin? " tanya Anton.


" Betul, Tuan. " jawab anak buahnya yang bernama Zyco.


" Ke mana kapal - kapal ini menuju? " tanya Anton.


" Dari 7 keberangkatan yang dijadwalkan oleh pelabuhan, saya mempersempit menuju rusia ada 3 keberangkatan. Dari 3 itu, ada 2 yang merupakan kapal dari PT. Angkasa. " jawab Zyco.


" Ada perkembangan lainnya lagi? " tanya Anton.


" Dua kapal itu sedang bergerak menuju Kamboja. " jawab Zyco.


" Saat ini mereka sedang berada di titik ini, dan ini. " Zyco menjelaskan sambil menunjuk titik yang Ia maksud pada layar komputer.


" Mereka, satu sama lain berjarak sekitar.... 15 kilometer Tuan. " jelas Zyco.


" Dan kedua kapal ini mengarah ke satu tujuan yang sama. " lanjutnya.


" Coba kau lanjutkan pencarian. Apakah ada pelabuhan besar dekat situ dan apakah ada tempat pemasok sumber makanan atau semacamnya. " perintah Anton.


" Baik, Tuan. " sahut Zyco.


" Siang ini kau harus sudah selesai mendapatkan hasilnya. " perintah Anton lagi.


" Tidak akan butuh waktu lama, Tuan. Tenang saja. " sahut Zyco dengan nada santai.


Anton kemudian keluar dan menguhubungi Rendra.


" Selamat siang, tuan Rendra. " ucap Anton mengawali perbincangan.


" Baik, baik. Saya segera ke sana. " ucap Anton kemudian menutup telponnya.


Anton menutup panggilan teleponnya dan berjalan menuju keluar, namun tiba - tiba Zyco memanggilnya.


" Tuan! " teriak Zyco membuat Anton berputar balik.


" Ada apa? " tanya Anton. Ia berfirasat Zyco sudah mendapat hasil.


" Coba periksa ini, Tuan. " ucap Zyco.


Zyco kembali ke meja kerjanya dan diikuti olwh Anton.


" Ini, Tuan. " ucap Zyco seraya menunjuk ke arah layar komputer.


Anton memperhatika apa yang tertera di layar.


" Jadi mereka akan berhenti di sini, baiklah. Ini adalah kesempatan baik untuk kita. " ucap Anton.


" Kemungkinan besar seperti itu, Tuan. " sahut Zyco.


" Sekitar 2 hari lagi, Tuan. " jawab Zyco.


" Bagus. Kerja bagus. " sahut Anton.


" Lanjutkan untuk mengawasi. Jika ada perkembangan, segera kabari aku. " perintah Anton.


" Siap, baik Tuan. " sahut Zyco.


Anton kemudian beranjak dan menuju mansion Hartawan, seperti perindah Rendra di telepon tadi.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Di mansion Hartawan ~


Tok tok


Setelah mengetuk pintu, Anton membuka pintu. Sudah ada Rendra dan Andreas di dalam ruang kerja Rendra.


" Duduklah, " ucap Rendra.


Anton mengangguk kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di dekat meja kerja Rendra.


" Apakah ada perkembangan? " tanya Rendra.


" Ya, Tuan. " sahut Anton.


" Anak buah saya melaporkan bahwa dari keberangkatan 7 kapal, ada 3 yang menuju rusia. Dan 2 di antaranya adalah milik PT. Angkasa " jelas Anton.


" Kedua kapal itu berjarak cukup dekat dan sedang menuju arah yang sama. Yaitu sekitar Kamboja. " lanjutnya.


Tiba - tiba Rendra teringat ucapan Pak Abdul, tentang nama kota yang sulit diucapkan.


" Bukankah ibu kota Kamboja adalah Phnom Penh? " tanya Rendra.


" Iya Tuan, betul. " sahut Andreas.


" Apakah ada masalah, Tuan? " tanya Andreas.


" Tidak. Tidak ada masalah. " jawab Rendra.


" Pak Abdul, Ia pernah mengatakan bahwa kapal itu akan mengisi perbekalan di sebuah kota yang sangat sulit diucapkan. " ucap Rendra.


" Maka Phnom Penh memenuhi persayaratan itu. Bukan begitu? Namanya sangat sulit diucapkan. " ucap Rendra.


Andreas mengernyitkan dahinya, begitu juga dengan Anton.


" Cari kolega kita yang bisa membantu kita dalam hal ini. Segera. " perintah Rendra.


" Siap. " sahut Andreas.


" Anton, ada hal yang ingin aku bicaraka dan juga diskusikan denganmu. Ucap Rendra dengan wajah serius.


" Baik, Tuan. " sahut Anton.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍