Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 25. Bertemu Ardian Lagi



Bodyguard itu membawa Nia ke rumah sakit. Ia mengendari mobil berjenis sedan berwarna hitam itu dengan kecepatan cukup tinggi.


Sebetulnya, luka yang dialami Nia tidak terlalu parah. Namun tetap saja, kemarahan King Narendra Hartawan bisa membuat mereka mengalami luka yang jauh lebih parah daripada yang dialami oleh Nia.


Mobil hitam itu berhenti di depan pintu UGD rumah sakit. Salah satu dari mereka dengan sigap keluar dari mobil dan berlari mengambil sebuah kursi roda yang ada di depan ruang UGD.


" Silakan duduk di sini Nona. " ucapnya setelah membuka pintu mobil.


Nia jadi salah tingkah. " Anu.. Lukaku tidak parah. Aku masih bisa berjalan. " ucap Nia.


" Tidak Nona, silakan duduk di sini. " ucap bodyguard itu. Kekeuh.


Akhirnya Nia hanya menuruti ucapan pria bertubuh tegap dan besar itu. Ia duduk di kursi roda itu sambil berusaha menutup wajahnya. Ia merasa malu, Ia tidak mengalami luka yang parah namun Ia duduk di kursi dorong.


Seorang perawat segera membawa Nia ke ruang tindakan. Seorang dokter berjas putih mengjampiri Nia.


" Nia? Apa yang terjadi padamu? " suara dokter itu membuat Nia menoleh, ternyata suara dokter Ardian.


Nia hanya tersenyum " Hehe, abis jatuh dok. " jawab Nia.


" Sus, biar saya aja. " ucap Ardian.


Kemudian Ia menggunakan sarung tangan non steril, mengambil kasa dan cairan pembersih luka. Ia membersihkan kotoran pada luka yang ada di lengan Nia.


" Aku heran, apakah ini memang hobimu? " tanya Ardian sambil mengambil kassa menggunakan pinset.


Nia tidak menjawab, Ia hanya melihat ke arah gerakan pinset Ardian. Bersiap - siap menahan sakit jika Ardian memberikan obat luka pada lukanya.


" Lagi - lagi, memar di daerah sini. " Ardian menunjuk ke arah ujung mata Nia.


" Ku rasa memang hobimu untuk melukai diri sendiri. " ucap Ardian lagi.


" Bagaimana bisa terluka menjadi sebuah hobi? " gumam Nia.


" Setidaknya jaga dirimu. Jangan sampai terluka. " ucap Ardian membuat Nia tertegun.


Kini Ardian sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia menatap Nia dengan lembut. Senyuman memancar dari wajahnya.


" Anehnya, kau tetap terlihat cantik walau sedang terluka. " ucap Ardian. " Bagaimana bisa? "


Suara langkah cepat terdengar di ruang UGD rumah sakit. Suara ketukan sepatu terdengar mendekat ke arah Nia dan Ardian.


" Sayang. " ucap Rendra yang baru datang.


Ia segera memeluk Nia, dengan erat. Membuat Ardian merasa jengah melihatnya.


" Maaf Tuan, ini adalah fasilitas pelayanan kesehatan umum. Jangan melakukan hal tidak senonoh di sini. " ucap Ardian.


Rendra kemudian melepaskan pelukannya dari Nia. Ardian berjalan menuju meja jaganya.


" Kau istirahat dulu. Andreas akan menjagamu. " ucap Rendra.


Nia mengangguk dan tetap duduk dengan tenang. Andreas berdiri di samping tirai pembatas bed UGD dengan wajah tanpa ekspresinya.


Rendra berjalan ke arah meja Ardian menghampiri Ardian yang tampaknya sedang menulis sesuatu.


Tidak ada percakapan di antara mereka. Ardian sibuk mengisi rekam medis, dan Rendra hanya berdiri menatap ke arah Ardian dengan tatapan tajamnya. Setelah menulis resep, Ardian menyerahkan lembaran kertas resep itu ke Rendra.


" Silakan, resep untuk pasien Karunia. " ucap Ardian sambil menyodorkan kertas resep.


Rendra mengambil kertas itu, " Terima kasih, " ucapnya singkat.


Rendra berbalik dan berjalan menuju ke pelayanan farmasi untuk menebus resep Nia. Tapi Ardian menghentikan langkahnya.


Ardian memegang pundak Rendra, sedikit mencengkeram lebih tepatnya.


" Jika kau memang tidak bisa menjaganya. Lepaskan. " ucap Ardian yang menatap tajam ke arah Rendra. Tangannya masih mencengkeram pundak Rendra.


Rendra meraih tangan Ardian. Ia melepas paksa cengkeraman tangan Ardian dari pundaknya. Ia memutar tubuhnya sehingga kini kedua laki - laki bertubuh tegap itu berhadapan. Kedua laki - laki dengan tinggi 187 sentimeter itu berdiri berhadapan dengan tatapan tajam satu sama lain.


" Terima kasih sudah mengobati kekasihku. " ucap Rendra.


" Dan aku akan lebih berterima kasih lagi, jika anda tidak mencampuri urusan pribadi kami. " lanjut Rendra.


" Urusan pribadi? " tanya Ardian dengan dibarengi senyum sinis di wajahnya.


" Memangnya kalian sedang dalam suatu hubungan tertentu? " tanyanya lagi. " Atau hanya imajinasimu? "


Rendra maju selangkah mendekati Ardian. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dengan wajah Ardian. Senyum sebelahpun tidak luput Ia berikan kepada Ardian.


Ardian tidka menjawab. Ia masih menatap ke arah Rendra dengan tatapan sinisnya. Kedua laki - laki itu masih berhadapan dan seperti enggan untuk pergi.


Melihat sepupunya seperti itu, Andreas menghela napas kemudian berjalan ke arah kedua laki - laki itu.


" Ah, diam di situ. " ucap Andreas seraya memutar tubuhnya menghadap ke Nia.


Nia mengangguk dan tetap duduk di bed pasien. Ia tidak mau membuat suasana makin runyam. Bisa jadi, ketika Ia melerai justru timbul kesalah pahaman antara Rendra dan Ardian.


" Oke, laki - laki jagoan. Mundur beberapa langkah. Ini rumah sakit, bukan ring tinju. " ucap Andreas menengahi kedua laki - laki yang masih saja bergeming di situ.


" Apa aku harus memesankan area gulat atau ring tinju khusus buat kalian? " Andreas mulai kesal melihat kedua laki - laki itu.


Rendra tersenyum kemudian mundur beberapa langkah.


" Andreas, jaga Nia. Aku harus menebus resep dari dokter Ardian. " ucap Rendra dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Ardian.


Ia kemudian berbalik dan pergi menuju pelayanan farmasi untuk menebus resep milik Nia.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Setelah sampai di mansion, Nia pamit untuk masuk ke kamarnya. Sebetulnya Rendra masih ingin bersama Nia. Tapi mungkin Nia memang sudah merasa sangat lelah. Terlebih, dia baru saja jatuh. Tubuhnya pasti merasa tidak nyaman.


Nia berjalan gontay menuju kamarnya. Beberapa bagian tubuhnya mulai terasa nyeri. Ia memijat ringan kedua lengannya. Terasa ngilu pada lengan bagian atasnya.


Rendra masih memperhatikan Nia yang berjalan ke menuju kamarnya. Ia menghela napas.


" Bi Habsya. " Andreas memanggil Bi Habsya yang sedari tadi sebetulnya berada tidak jauh darinya.


" Iya Tuan, " sahut Bi Habsya.


" Buatkan Nia minuman hangat. Supaya dia merasa relax dan bisa istirahat. " perintah Rendra.


" Baik, Tuan. " sahut Bi Habsya lagi.


" Jika Nia merasa kesakitan, beri tahu aku. Biar kupanggil dokter Maria ke sini. " perintah Rendra lagi.


" Baik, Tuan. "


Setelah memastikan Nia sudah masuk ke kamarnya, Rendra kemudian berjalan menuju ruang kerjanya diikuti Andreas.


Ia melepas jasnya dan melempar ke arah sofa. Ia juga melepas dasinya, melepaskan beberapa kancing bajunya.


Ia duduk di kursinya. Sedangkan Andreas masih setia berdiri di samping meja kerjanya.


" Duduklah. " perintah Rendra.


Andreas pun duduk di sofa.


" Penjambret itu, sudah ditangkap? " tanyanya.


" Anton tadi sudah melaporkan bahwa kedua penjambret itu sudah ditangkap. " jawab Andreas.


" Lalu? " tanya Rendra.


" Kami sedang menginterogasinya. " jawab Andreas. " Tapi ada yang mencurigakan. " lanjutnya.


" Apa? " Rendra yang tadinya sedang bersandar di kursi kerjanya, pun seketika duduk tegap.


" Salah satu dari penjambret itu mengatakan bahwa mereka hanya disuruh. " jawab Andreas. " Mencopet atau menjambret bukanlah pekerjaan mereka yang sebenarnya.


" Disuruh? Oleh siapa? " tanya Rendra tidak sabar.


"Untuk hal itu, mereka tidak mau mengaku. " jawab Andreas.


" Andreas, aku tidak bisa menerima jawabanmu. " ucap Rendra. " Buat mereka mengaku siapa yang menyuruh mereka! "


" Baik, Rendra. " sahut Andreas.


Andreas kemudian bangkit dari sofa dan berjalan keluar dari ruang kerja Rendra.


Siapa sebenarnya pelaku semua kejahatan pada Nia. Beraninya mereka terus - menerus menggangu Nia. Awas saja sampai kudapat siapa pelakunya! Ucap Rendra penuh emosi.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍



...Cakep bener sih King Narendraaa 馃槏...