Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 75. Jadi, Kapan?



Selamat Membaca ~


Rendra sangat senang melihat Nia yang bersemangat mengatur isi dari ruangan yang Ia siapkan untuknya. Bukan tanpa alasan tiba – tiba Rendra menyiapkan semua ini. Ia ingin Nia tidak merasa bosan dan kesepian di mansion. Lagipula, sangat disayangkan jika kreativitas Nia yang sangat baik tidak tersalurkan.


Selain itu, Rendra ingin perhatian Nia teralihkan dengan adanya kesibukan ini. Saat ini bisa dibilang Nia sedang berada dalam kondisi aman karena fokus Jason dan kelompoknya sedang teralihkan dengan kerjasamanya dengan Lionell dan juga Ben.


Kompleks bangunan milik Rendra itu sudah khusus disiapkan untuk Nia dan juga akan dikembangkan untuk mall. Bangunan setinggi tujuh lantai dengan luas bangunan yang sudah tidak perlu ditanya lagi itu benar – benar sudah siap untuk diresmikan.


Rendra sedikit tenang karena saat ini Nia sudah memiliki dua penjaga yang selalu menempel padanya seperti kuman. Ya, siapa lagi kalau bukan Jessie dan Andra. Mereka sudah seperti kakak adik, ke mana – mana selalu bersama. Sifat Nia yang supel walau wajahnya sangat dingin membuatnya bisa akrab dengan siapapun dengan mudah.


Bahkan Raya pun rela keluar dari tempat bekerjanya demi bekerja bersama Nia. Sarah? Tidak perlu ditanya, Ia rajin datang untuk membantu Nia menyiapkan segala sesuatunya. Nia mungkin memang kurang beruntung dengan kondisinya kemarin, sampai – sampai semua peninggalan orang tuanya tersita. Tapi dari segi pertemanan, Ia sangatlah beruntung. Semua teman – temannya sangat menyayanginya.


Seperti hari ini, Nia sedang sibuk mengarahkan beberapa tukang bangunan untuk mengecat dinding – dinding bangunan. Mengarahkan mereka untuk merapikan barang dan lainnya. Andra dan Jessie pun tak kalah menjadi seksi sibuk hari ini, begitu pula dengan Raya.


“ Halo halo! Aku bawa minuman dan makanan ringan untuk kita semua! “ seru Sarah yang baru saja datang dengan membawa sebuah paper bag besar.


Nampak ada orang lain di belakangnya yang juga membawa dua buah paper bag besar. Dengan sigap Andra membantu membawakan barang yang sedang dibawa oleh Sarah. Mereka semua sudah saling kenal bahkan sudah berteman cukup dekat. Semua itu berkat Nia yang memang selalu berusaha membantu teman – temannya agar dapat membaur satu sama lain.


“ Sarah! “ Seru Nia girang melihat sahabatnya itu datang.


“ Apa yang kau bawa? “ tanya Nia antusias.


“ Aku membawakan mereka kopi dan susu cokelat. Khusus kau, seperti biasa matcha latte gelas besar dengan ekstra krim. “ jawab Sarah.


Sarah kemudian menyodorkan minuman yang Ia pesan khusus untuk Nia. Nia menerimanya dengan wajah sumringah. Segera Ia meminumnya dengan senang, Sarah memang selalu tau apa saja yang menjadi kesukaan Nia.


“ Hem, sesuai yang dia katakan. Ada banyak security yang stand by di sini. “ gumam Sarah.


“ Kau bulang apa? “ tanya Nia yang samar mendengar gumam Sarah.


“ Ah, tidak. “ jawab Sarah.


“ Apakah security itu stand by terus? Berapa jumlahnya? “ tanya Sarah.


“ Ya, mereka berjaga bergantian. Aku tidak tahu berapa jumlah security yang bertugas di sini. “ jawab Nia.


“ Masa kau tidak tahu? “ tanya Sarah.


“ Dari pagi sampai sore berjumlah 12 orang, dari sore sampai pagi juga berjumlah 12 orang. “ ucap Sarah.


“ Dari mana kau tahu? Siapa yang memberitahumu? “ tanya Nia.


“ Tentulah aku tahu, kan aku punya sumber terpercaya. “ jawab Sarah.


“ Sumber terpercaya? Siapa itu? “ tanya Nia penuh selidik.


Nia masih menaruh rasa curiga jika Sarah dan Andreas memiliki hubungan rahasia. Beberapa waktu lalu Nia tidak sengaja melihat wallpaper ponsel Andreas, dan Ia yakin sekali itu wajah Sarah.


“ Ayo apa lagi yang bisa kukerjakan di sini? “ tanya Sarah sembari berjalan mendekat ke dinding yang baru saja selesai dipasang wallpaper.


Nia tidak menjawab, Ia masih menatap Sarah dengan penuh selidik.


“ Hei anak kecil. Apa lagi yang bisa kubantu? “ tanya Sarah.


Nia berjalan mendekati Sarah, “ Mungkin kau bisa membantuku dengan menjawab pertanyaanku. “


“ Apa? “ tanya Sarah, keningnya mengernyit.


“ Ada apa antara kau dengan Andreas? “ tanya Nia.


Bukannya jawaban yang Ia dapat, justru telinganya ditarik kuat oleh Sarah hingga Nia meringis.


“ Kenapa kau menarik telingaku?! “ tanya Nia sambil mengusap telinganya yang terasa nyeri dan panas.


“ Tidak usah kau mengalihkan perhatian dan mengorek urusan rahasia hatiku. “ sahut Sarah.


Andra, Jessie, dan Raya hanya menggelengkan kepalanya kompak melihat dua gadis itu justru sibuk adu mulut. Baru saja bertemu, tadi saling sayang melepas rindu. Sekarang sudah seperti anjing dan kucing, berkelahi terus.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Andreas baru saja tiba dan segera menyerahkan sebuah berkas ke Rendra.


“ Apa ini? “ tanya Rendra seraya menerima map berwarna coklat.


“ Ini adalah Salinan pengajuan ijin industri bahan kimia di daerah O, Tuan. “ jawab Andreas.


Rendra membuka map itu dan membacanya dengan seksama.


“ Bangunan mereka sudah siap semua? “ tanya Rendra.


“ Sudah 95% Tuan, sebentar lagi akan mulai beroperasi. “ jawab Andreas.


Rendra menganggukkan kepalanya. Ini yang ditunggu, biarkan persiapan mereka sudah selesai kemudian kita hancurkan sampai ke akarnya. Gumamnya.


“ Lalu bagaimana dengan Tuan Ben? “ tanya Rendra.


“ Beliau mengikuti semua arahan kita dengan baik, Tuan. “ jawab Andreas.


“ Baguslah, beruntung Tuan Ben setuju dengan usul kita dan bersedia bekerja sama dengan kita. “ ucap Rendra.


“ Betul Tuan. Kita sangat dipermudah dalam urusan kita ini. “ sahut Andreas.


“ Oh ya, bagaimana dengan Nia? Dia sedang ada di studionya? “ tanya Rendra.


“ Iya Tuan, laporan terakhir dari Andra Nona Karunia sedang ada di studio. Bersama dengan teman – temannya. “ jawab Andreas.


“ Apa dia datang? “ tanya Rendra lagi.


Sejenak Andreas terlihat kebingungan. Dia? Siapa yang dimaksud oleh Rendra?


“ Dia, wanita itu. “ ucap Rendra yang paham melihat wajah bingung Andreas.


Mendadak wajah Andreas yang memang memiliki takdir dan garis dingin itu menjadi sedikit merah.


“ Iya Tuan, dia baru saja datang. “ jawab Andreas.


Rendra terkekeh. Bagaimana tidak, manusia es nomor dua ini bisa meleleh juga ternyata.


“ Jadi, kapan kalian memberi tahu Nia tentang hubungan kalian? “ tanya Rendra.


“ Ketika kami siap. “ jawab Andreas cepat.


“ Kapan itu? “ tanya Rendra lagi.


Andreas tidak menjawab. Ia hanya menatap Rendra tanpa berkata apapun.


Rendra pun membalas menatap ke arah Andreas. Saat ini seperti sedang terjadi kontes adu menatap antar keduanya.


" Jangan hanya menatapku. Jika Anna masuk ketika kau sedang menatapku seperti itu, dia bisa salah paham. " ucap Rendra.


" Kami belum memutuskan, Tuan. Ia ingin memberi kejutan untuk Nona Karunia. " sahut Andreas.


" Ya sudah, hak kalian. Tapi kabar gembira sebaiknya tidak disimpan sendiri. Apalagi dari teman terdekatnya. " ucap Rendra.


" Iya, Tuan. " sahut Andreas lagi.


Aku pasti kena omel Karunia habis - habisan karena berani mengencani sahabatnya. Apalagi kemarin dia sempat mengira aku sudah memiliki anak. Andreas mengehela napasnya pelas agar tidak terdengar oleh Rendra.


Namun Ia salah, Rendra mendengar helaan napasnya yang walau Ia lepaskan dengan sangat pelan. Diam - diam Rendra tersenyum jahil.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Halo haloo, jangan lupa dukung penulis dengan cara memberi rate, vote, like, dan jejak komentar. Yang banyaakkkk juga boleh kokk ❤


eits, mau kasih hadiah juga boleh bangeett ❤