Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 28. Cerita Masa Lalu



Flashback on


Saat itu, waktu menunjukkan pukul 4 sore. Cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan deras disertai petir sedang menyelimuti Kota A. Nampak seorang remaja laki - laki yang masih mengenakan seragam sekolah berlari - lari dari tempat parkir menuju ke dalam bangunan rumah sakit.


" Ayah... Ibu... " seorang remaja laki - laki berusia 16 tahun berlari menuju ke sebuah ruangan di sebuah rumah sakit.


Seorang laki - laki lain berusia sekitar 20 tahun mengikutinya dari belakang. Mereka berlari ke arah ruangan ICU yang ada di rumah sakit itu.


" Maaf Nak, kau belum boleh masuk. " larang seorang suster.


" Aku ingin melihat ayah dan ibuku... " rengeknya.


" Maaf Nak, kau harus menunggu dokter menyelesaikan tugasnya dulu. Kau belum bisa masuk Nak, " ucap suster itu lagi.


Laki - laki berusia 20 tahun itu menggenggam pundak remaja itu. Ia memberi tatapan penuh arti, bersabarlah, mungkin itu yang remaja itu tangkap dari tatapannya.


Ya, remaja itu adalah Jason. Dan laki - laki berusia 20 tahun itu adalah Tommy.


Tommy adalah anak pengurus rumah tangga keluarga Jason. Orang tua Jason membesarkan Tommy seperti anak mereka sendiri setelah orang tua Tommy meninggal saat Ia berusia 12 tahun akibat serangan jantung mendadak.


Setelah menunggu sekitar 2 jam, seorang suster keluar mencari Jason.


" Keluarga James Alexander? " panggilnya dari depan ruang ICU.


" Iya, saya. Saya Jason Alexander, putra dari James Alexander. " Jason beranjak dari kursi tunggu menghampiri suster itu.


" Kau bisa bertemu orang tuamu Nak, " ucap suster itu.


" Terima kasih Sus, " rasa lega yang dirasakan Jason membuatnya semakin berharap kedua orang tuanya akan baik - baik saja.


Ia berjalan masuk ditemani oleh Tommy. Pandangannya lurus ke arah dua buah bed bersebalahan tempat di mana ibu dan ayahnya sedang berbaring.


" Ayah... Ibu... " ucapnya lirih.


Jason berjalan menghampiri bed pasien tempat ibunya berbaring. Berbagai alat terpasang pada ibunya. Ibunya tak merespon panggilan Jason.


Sang ibu yang masih terpejam membuat hati Jason terasa sakit. Ia berbalik menatap ayahnya, saat ini ayahnya sedang menatap ke arahnya. Jason menggenggam tangan ayahnya.


" Ayah... " ucapnya lirih sambil menahan tangis.


" Anakku... Anakku.. " ucap ayah Jason, lemah.


" Iya aku di sini Ayah. Tommy juga bersamaku. " ucap Jason lagi, lirih.


Ayah Jason tersenyum, Ia menatap anaknya dengan penuh arti. Kemudian Ia menatap ke arah Tommy dan tersenyum.


" Kemarilah... " panggil James.


" Nak, dengarkan apa yang akan ayah katakan. " ucap James terbata - bata.


" Ayah, jangan banyak bicara dulu. Ayah sedang tidak sehat. " ucap Jason sambil meraih tangan ayahnya, kemudian menggenggam erat tanga ayahnya.


" Ayah tidak kenapa - kenapa, Nak. " ucap James berusaha kuat.


Nampak selang oksigen terpasang di hidungnya. Beberapa bagian tubuhnya tampak terluka.


Jason berushaa sekuat tenaga menahan tangisannya. Ia masih menggenggam kuat tangan ayahnya dengan kedua tangannya.


" Anakku, Jason Alexander. Dengarkan ayah Nak. " ucap James lagi.


Ia berusaha kuat agar dapat menyelesaikan apa yang ingin Ia sampaikan pada Jason.


" Ayah ingin minta maaf padamu Nak, " ucap James.


" Maafkan Ayah karena telah gagal. " lanjutnya.


" Ayah jangan berkata apapun, Ayah sedang sakit. " ucap Jason.


" Nak, dengarkan Ayah baik - baik. Ayah takut, waktu ayah semakin sempit. " ucap James sembari membalas genggaman tangan anaknya.


Akhirnya Jason hanya menganggukkan kepalanya.


" Dengarkan ayah, maafkan ayahmu ini. Ayah telah gagal Nak, ayah sudah gagal. " ucap James.


" Ayah gagal, ayah mengalami kebangkrutan. Ayah terlalu malu pada dunia sehingga ayah memutuskan untuk bunuh diri. " lanjutnya.


" Maafkan ayah telah menjadi lemah, dan justru mengambil jalan pintas. Sekarang, ayah justru belum mati dan telah menyusahkanmu dan ibumu. " lanjut James.


" Maafkan ayah, ayah telah gagal menjadi contoh yang baik untukmu. "


Jason mulai menangis. Air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi.


" Bolehkah ayah membuat satu permintaan padamu? " tanya James yang terlihat merasa kesakitan.


Jason menganggukkan kepalanya dengan cepat.


" Ayah ingin, kau bangun kembali usaha keluarga kita Nak. Bangun kembali kerajaan bisnis kita. Balaskan rasa sakit hati ayah. " ucap James, Ia terlihat kesulitan untuk menyelesaikan kalimatnya.


" Tapi Ayah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. " ucap Jason.


" Tommy, kemarilah. " panggil James.


Tommy pun akhirnya mendekat ke arah bed pasien.


" Tommy, jaga anakku. Dampingi dia terus, jangan pernah kau tinggalkan dia. " ucap James.


" Dampingi dia terus sampai dia bisa menjadi orang yang berhasil. " lanjut James.


Tommy menganggukkan kepalanya, " Baik, Tuan James. "


" Terima kasih. " balas James.


" Nak, maafkan ayah. Maafkan karena ayah sudah.... " James tidak dapat menyelsaikan kalimatnya.


Telrihat James merasa kesakitan, Ia batuk - batuk kemudian menyemburkan darah dari mulutnya.


" Ayah! Ayaaah! " teriak Jason.


Tommy segera memanggil perawat yang bertugas di ruang ICU.


Setelah perawat dan dokter datang Tommy segera menarik Jason agar mereka dapat segera melakukan penanganan.


" Maaf, silakan tunggu di luar dulu. " ucap seorang perawat.


Tommy mengangguk. Ia mengerti bahwa Jason tidak ingin meninggalkan kedua orang tuanya di dalam, tapi Ia harus keluar dulu agar tenaga medis dapst menyelesaikan pekerjaaannya.


Tiga puluh menit kemudian, seorang dokter didampingi seorang perawat keluar dari ruangan dengan wajah tertunduk lesu.


" Keluarga Tuan James dan Nyonya Gea Alexander. " panggil dokter.


Tommy dan Jason beranjak dan segera menghampiri dokter dan perawat itu.


" Saya anak dari Jason dan Gea Alexander. " jawab Jason.


" Nak, jadilah kuat. Maafkan kami, kami sudah berusaha semampu kami. Tuan James dan Nyonya Gea Alexander telah meninggal. Tuan James meninggal pada pukul 07.10 pm disusul Nyonya Gea pada pukul 07.17 pm. " ucap dokter.


Jason merasa dunianya seperti akan runtuh. Dia terjatuh. Tommy berusaha menopang tubuh Jason, namun Tommy juga merasa shock. Sungguh malang Jason, usianya baru 16 tahun tetapi kedua orang tuanya meninggal bersamaan.


Setelah proses pemakaman kedua orang tuanya selesai, Jason mencari - cari sesuatu di ruang kerja ayahnya. Ia terkejut setelah menemukan sesuatu. Berita kebangkrutan ayahnya masuk ke surat kabar nasional.


Industri bahan kimia yang telah dibangun ayahnya mengalami kebangkrutan. Ayahnya menghadapi demo besar - besaran dari aktivis lingkungan dan juga mendapat penolakan dari pemerintah.


Bukan hanya itu, ternyata beberapa pemilik industri lainnya pun ikut menandatangani petisi untuk menghentikan produksi bahan kimia milik ayahnya. Ia dengan teliti menbaca kata demi kata dari surat kabar dan catatan yang ditinggalkan ayahnya.


Senior Hartawan, pemilik kerajaan bisnis Hartawan Group menjadi nama yang paling disorot karena Ia sebagai pembuat petisi pemberhentian kegiatan produksi bahan kimia milik ayahnya. Berdiri sebagai pelindung masyarakat yang berdemo atas nama pelestarian lingkungan.


Jason mengepalkan tangannya. Ia memukul meja dengan keras.


Semua gara - gara Hartawan dan juga masyarakat bodoh itu! Ayahku sampai melakukan tindakan bunuh diri dan mengajak ibuku juga untuk bunuh diri! Mereka semua pembunuh! Jason merasa murka. Amarahnya terasa memuncak.


Aku tidak akan tinggal diam! Aku akan membalas semua perbuatan mereka! Terutama kau, Hartawan! Akan aku hancurkan kalian! Kebencian sangat nampak dalam sorot mata Jason.


Sejak saat itu, Jason sudah bertekad akan tetap melanjutkan bisnis kedua orang tuanya dengan cara diam - diam. Ia akan meminta Tommy untuk menghandle bisnis ayahnya selama Ia menyelesaikan sekolahnya.


Ia akan menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Ia akan membalas Hartawan Group dan membuat mereka menyesal karena telah membuat kedua orang tuanya meninggal.


Flashback off