Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 37. Memperhatikan



Waktu menunjukkan 12.00 WITA.


Rendra segera mengakhiri pertemuannya siang itu. Ia sudah berpesan kepada Andreas untuk segera meninggalkan hotel dan menuju bandara.


Tidak perlu ada acara pelepasan dan lainnya. Rendra sudah tidak menghiraukan acara seprti itu. Ia hanya ingin segera kembali ke A dan bertemu kekasih yang sudah sangat Ia rindukan.


Andreas betul - betul sudah paham apa yang diinginkan Rendra. Ia bahkan sudah menyiapkan semua barang - barang Rendra sehingga Rendra tidak perlu menunggu lagi.


Rendra berjalan cepat di area pemberangkatan disusul dengan Andreas di belakangnya. Ketampanan mereka tak jarang membuat orang - orang yang sedang berada di area pemberangkatan pun berdecak kagum.


" Ke mana jet pribadiku? Kenapa kita harus naik pesawat komersil seperti ini? " tanya Rendra.


" Maaf Tuan, pesawat jet kita diperkirakan mengalami keterlambatan waktu tiba diakibatkan gangguan cuaca di A. " jawab Andreas.


" Dan saya yakin, Anda tidak mau menunggu lebih lama. " lanjut Andreas.


Rendra tidak merespon. Andreas benar - benar sudah sangat memahaminya. Batin Andreas.


Setelah sekitar lima menit menunggu, seluruh calon penumpang dipersilakan untuk masuk ke dalam pesawat.


Walau perjalanan hanya sekitar dua jam, Andreas memesankan tiket pesawat first class untuk Rendra. Dengan maksud, agar Rendra dapat beristirahat dengan nyaman.


Andreas sesekali melirik ke arah Rendra yang sedari tadi terus menerus tersenyum sendiri sambil melihat ke arah ponselnya. Bucin sekali dia ini, batinnya.



...Kira - kira begini penampakan fasilitas pesawat forst class yang dinaiki oleh Andreas dan Narendra...


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Tepat pukul 13.30 waktu daerah A, pesawat yang dinaiki Rendra dan Andreas mendarat di bandara.


Setelah menyelesaikan semua urusannya, Rendra pun minta untum segera kembali ke perusahaannya. Ia sudah tidak sabar menemui Nia dan memeluknya dengan erat. Mungkin ini yang disebut kerinduan sudah sampai di ubun - ubun.


" Menuju Kantor Utama Hartawan Group. " ucap Andreas.


" Baik, " sahut sopir.


Rendra duduk dengan tenang di kursi penumpang. Ia merogoh sebuah benda berbentuk kotak berukuran kecil dari dalam sakunya. Benda itu memiliki desain sangat elegan. Terlihat sangat mewah dan mahal.


Rendra membuka dan menatap isi dari kotak kecil itu. Tanpa Ia sadari, sekali lagi senyum mengembang di wajah dinginnya yang tampan.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Setelah tiba di kantor utama Hartawan Group, Andreas bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuk Rendra. Mereka disambut dengan hormat oleh petugas security.


" Wah, Tuan Narendra dan Tuan Andreas sudah kembali. Asik nih, mata dapat nutrisi yang sangat cukup ke depannya. " bisik - bisik resepsionis dan beberapa pegawai wanita lainnya.


Ting


Pintu lift terbuka. Dengan sedikit terburu - buru Rendra memasuki lift diikuti oleh Andreas.


Dia benar - benar sangat terburu - buru. Tidak sabaran. Gerutu Andreas dalam hati.


Ting


Pintu lift terbuka di lantai tempat divisi Co & Creative berada. Rendra bergegas keluar diikuti Andreas.


Wajahnya nampak sumringah karena dia akan segera melihat kekasihnya secara langsung. Bukan dari layar ponsel lagi.


Sesekali Ia memastikan wadah berbentuk kotak kecil itu melalui kain luar celana yang Ia kenakan.


Ketika sudah akan sampai di runagan divisi Co & Creastive, Ia melihat Nia berjalan dengan tergesa - gesa ke suatu tempat.


Rendra menghentikan langkahnya dan memperhatikan ke mana Nia akan menuju. Ternyata Nia menuju ke meja kerja teman satu timnya.


Andreas hendak memberitahukan kedatangan Rendra, namun dengan cepat Rendra mencegahnya. Ia ingin memperhatikan terlebih dahulu, apa yang sedang terjadi pada Nia. Mengapa Nia terlihat sangat serius dan kesal di saat bersamaan.


" Aku ingin bicara. " ucap Nia dengan tenang.


Wanita yang sedang diajak bicara oleh Nia justru mengacuhkannya dan tetap asik memainkan ponselnya.


" Ayo kita bicara. " ucap Nia lagi.


" Tidak di sini. " ucap Nia.


" Kalau mau, ya katakan saja di sini. Sekarang. " balas wanita itu dengan ketus. " Kau tidak berani? "


" Bukan perkara berani atau tidak. " jawab Nia. " Ayo kita bicara di luar. " ucap Nia lagi.


" Aku bilang katakan di sini! Ya katakan di sini! " wanita itu berbicara dengan nada tinggi. Seperti sedang membentak Nia.


Rendra terkejut melihat Nia yang dibentak oleh teman kerjanya.


" Andreas. " panggil Rendra dengan volume sangat pelan.


" Ya, Tuan? " jawab Andreas.


" Cari tahu siapa wanita tidak sopan. " perintah Rendra.


" Baik Tuan. " sahut Andreas.


Andreas segera mengambil ponselnya dan membuka database pegawai yang ada di ponselnya.


Sesaat kemudian Ia mendapatkan data siapa pegawai wanita yang sedang adu mulut dengan Nia.


" Ini Tuan. " ucap Andreas sambil menyerahkan ponselnya.


Rendra meraih ponsel Andreas dan membaca detail pegawai itu.


Marsela Oliver. Lulusan universitas terbaik di negara ini. Nilainya cukup bagus. Track Record pekerjaan juga cukup bagus. Tapi attitude nya sangat jelek. Gumam Rendra.


Wah, dia ternyata adalah keponakan dari Kepala HRD di sini. Gumam Rendra lagi.


" Tuan, " panggil Andreas.


" Hm? " sahut Rendra sambil tetap membaca detail pegawai wanita itu.


" Apakah perlu saya melerai Nona Karunia dan pegawai wanita itu? " tanya Andreas.


" Tidak, tidak perlu. Kita sekalian mengumpulkan bukti untuk mengeliminasi pegawai - pegawai kita yang perlu kita seleksi ulang. " ucap Rendra.


" Baik Tuan. " jawab Andreas.


Rendra menyerahkan kembali ponsel Andreas. Ia masih asik memperhatikan apa yang terjadi di hadapannya.


Pemecatan adalah sanksi yang sesuai untuk diberikan kepada pegawai yang telah mengganggu Nia.


" Kapan?! " terdengar wanita bernama Marsela itu membentak Nia.


Rendra mendekat beberapa langkah. Ia sudah tidak tahan melihat gadisnya dibentak - bentak oleh orang lain seperti itu.


" Terus kalau kau yang suruh, aku harus menuruti perintahmu?! Kau pikir kau siapa?! " tanya wanita itu, masih dengan nada tinggi.


" Atau kau kira, kau sudah berhasil memenangkan hati Tuan Narendra?! Makanya kau jadi sok! " bentaknya.


" Wanita murahan! Halu! " bentaknya lagi.


Rendra terkejut dengan apa yang baru saja Ia dengar. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan hal yang tidak pantas kepada Nia. Ia sudah tidak tahan lagi.


" Wanita murahan! Kau tawarkan muka dan badanmu yang pas - pasan itu ke Tuan Narendra kan?! " wanita itu terus - menerus menghina Nia dengan sesukanya.


" Cukup. " ucap Rendra dengan suara dalamnya.


Wajah Rendra yang dingin, tatapan matanya yang tajam, cukup membuat seisi ruangan menjadi diam dan merinding seketika.


Andreas yang dengan wajah tak kalah dinginnya berdiri di belakang Rendra. Menambah kesan mencekam di ruangan divisi Co & Creative saat ini.


" Beraninya kau menghina Nyonya Narendra Hartawan. " ucap Rendra mendekat ke arah Lala.


Wajah Lala terlihat semakin pias.


Nyonya Narendra Hartawan?