Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
part. 130 Mencoba Menghubungi Narendra



Selamat Membaca ~


Nia dan Sarah akhirnya menemukan tempat sewa telepon umum yang dimaksud Bu Aisyah. Setelah bertransaksi, Nia masuk ke dalam ruangan khusus untuk menelepon sedangkan Sarah berjaga di depan.


Dengan cepat Nia menekan angka pada telepon. Ia menekan nomor ponsel Rendra karena hanya nomor Rendra yang Ia hapal.


tut . tut . tut . tut


Panggilan telepon Nia tidak mendapat jawaban dari Rendra. Nia menghela napas berat.


" Ke mana? Kenapa tidak segera diangkat? " gumam Nia.


Nia mulai merasa cemas, entah kenapa sedari tadi perasaannya tidak tenang. Ia merasa tidak nyaman.


Ia mencoba menelepon Rendra lagi, sesekali Ia melihat ke arah Sarah yang sedang mengawasj keadaan sekitar.


tut . tut . tut . tut


" Ya? " akhirnya suara laki - laki yang sangat Ia rindukan bisa Ia dengar lagi.


" Sayang? " balas Nia.


Tak sadar air matanya mengalir ketika mendengar suara Rendra. Ada rasa lega bercampur senang.


" Sayang? Ini.... Nia? " tanya Rendra.


" Iya sayang, ini aku. " balas Nia bersemangat.


" Sayang, sayang. Kau di mana? " tanya Rendra.


" Sayang, sepertinya aku.... " panggilan telepon mendadak terputus.


" Sayang? Sayang? " terdengar suara Rendra di seberang sana.


Nia sudah tidak ada di panggilan telepon. Seseorang membekap mulutnya dan membawanya pergi. Begitu pula dengan Sarah.


Dua orang asing bertubuh besar yang sejak tadi mengikuti Nia dan Sarah berhasil melumpuhkan mereka.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Sementara itu, di gedung utama Hartawan Grup ~


" Sayang? Sayang? " panggil Rendra.


" Ada apa? Apakah itu tadi Karunia? " tanya Andreas.


" Iya, itu tadi Nia. " jawab Rendra.


" Halo? Halo? " seru Rendra.


" Apa bukan panggilan iseng? Akhir - akhir ini kita selalu mendapat panggilan iseng. " ucap Andreas.


" Kau kira aku tidak hapal suara istriku? " tanya Rendra dengan tatapan tajam ke arah Andreas.


" Cepat lacak posisi nomor yang menelponku tadi. " perintah Rendra.


" Baik, " sahut beberapa agen yang ditempatkan di kantor utama Rendra.


" Andreas, segera hubungi Anton. " ucap Rendra.


" Proses. " sahut Andreas yang sedang melakukan panggilan telepon.


" Nia, sayang. Ada apa? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tidak melanjutkan panggilanmu? " gumam Rendra cemas.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


" Ayo cepat! " ajak Andra yang sudah tidak sabar kepada Jessie.


" Kau yakin mereka ke arah sini? " tanya Jessie seraya memperhatikan keadaan sekitar.


" Ya, aku sangat yakin. " sahut Andra.


Mereka berdua menyusuri area yang diyakini Andra baru saja dilalui oleh dua orang laki - laki bertubuh besar yang tadi mereka ikuti.


" Jalanan ini semakin sempit. Seperti area padat pemukiman. " ucap Jessie.


" Bisa tidak kau diam?! " omel Andra.


" Sejak tadi kau hanya bisa mengeluh! " bentak Andra.


Jessie seketika menutup mulutnya rapat - rapat.


" Kalau kau tidak membantu dengan cara mencari, setidaknya bantu aku dengan menutup mulutmu yang suka mengeluh itu! " gerutu Andra.


Selama ini Andra adalah orang yang tenang, Ia tidak pernah menunjukkan emosinya sekalipun. Bisa dibilang, Andra adalah Andreas kedua. Versi lebih lunak.


" Cepat ikuti aku! " perintah Andra.


Jessie mengekor di belakangnya dengan patuh. Ia tidak terkena omelan Andra lagi.


Akhirnya mereka berdua sampai di gang yang lebih sempit. Andra dan Jessie memperhatikan keadaan sekitar.


Andra berjalan cepat ke arah yang Ia maksud, dan Jessie mengikutinya.


" Ini seperti, tempat menelepon? " tanya Jessie.


" Betul. " sahut Andra.


" Jika aku adalah Nyonya Karunia, aku akan menelepon Tuan Narendra dan memberi informasi lokasiku. " lanjutnya.


Jessie menganggukkkan kepalanya. Andra memang cerdas!


Andra dan Jessie masuk ke area sewa telepon umum. Mereka memperhatikan keadaan sekitar, tapi ternyata sepi.


Semua kamar telepon kosong, tidak ada yang sedang menelepon di dalam.


Andra menghela napasnya, merasa kecewa ternyata dugaannya kali ini meleset. Ke mana kira - kira Nyonya dan temannya pergi? Dua orang laki - laki itu juga mendadak lenyap seperti ditelan bumi.


" Eh, apa itu? " seru Jessie mendadak.


" Apa? " tanya Andra.


" Jangan berisik! Aku sedang berpikir! " omel Andra.


Jessie tidak menanggapi. Ia berjalan masuk ke dalam sebuah kamar telepon. Ia membenarkan posisi telepon yang menggantung. Sangat tidak wajar. Andra yang menyadari akan hal itu, kemudian menyusul Jessie di belakangnya.


" Sangat tidak wajar, kenapa gagang teleponnya menggantung? " tanya Jessie.


Andra mengangkat kedua bahunya bersamaan.


" Ini.... " ucap Jessie terputus.


Ia membungkuk dan mengambil sebuah benda kecil berwarna hitam. Seperti sebuah dompet namun sudah tampak usang.


" Dom.. Pet? " tanya Jessie.


" Coba lihat isinya. " ucap Andra.


Jessie mrngangguk patuh kemudian membuka dompet yang Ia temukan. Ia mendapati ada beberapa lembar uang, beberpaa lembar foto, dan sebuah kartu tanda pengenal.


Ia menunjukkan kartu tanda pengenal itu kepada Andra.


" Aisyah? Kuala Lumpur? " gumam Andra.


" Mungkin ini adalah milik orang yang tadi sempat menelepon di sini. " ucap Andra.


" Bisa jadi. " sahut Jessie.


" Kita serahkan saja ke pemilik sewa telepon ini. Mungkin nanti orangnya akan kembali ke sini untuk mencari dompetnya. " usul Andra.


Jessie mengangguk setuju.


Kemudian mereka berdua berjalan menuju bagian dalam untuk menemui si pemilik tempat sewa telepon ini.


" Maaf, kami menemukan dompet ini di sana. " ucap Andra sambil menunjuk ke arah salah satu kamar sewa telepon.


Sang pemilik kemudian menerima dompet itu, Ia memeriksa isinya dan membaca nama yang tertera di kartu tanda pengenal.


Keningnya berkerut, " Orang ini tidak ke sini. " ucapnya.


" Apa Anda yakin? Bagaimana mungkin dompetnya ada di sini jika si pemiliknya tidak kemari? " tanya Andra.


" Ya, aku sangat yakin. Aku baru buka siang ini. Pelangganku baru satu, dua orang wanita yang sepertinya bukan warga sini. " jawab si pemilik.


" Dua oang wanita? " tanya Andra dan Jessie bersamaan.


" Ya, dua orang wanita cantik. " jawab si pemilik.


" Apak dua wanita itu adalah mereka? " tanya Andra kemudian menunjukkan selembar foto yang bergambar wajah Nia dan Sarah.


Si pemilik memicingkan matanya sambil bersaha mengingat - ingat.


" Ya, betul. Itu mereka. " ucap si pemilik.


" Berarti benar tadi kita mengikuti orang yang sedaang mengikuti Nyonya! " pekik Jessie.


" Baklah, terima kasih. " sahut Andra.


" Tolong serahkan kembali dompet itu. Kami akan mengembalikannya langsung kepada sang pemilik. " pinta Jessie.


Si pemilik tempat sewa kemudian menyerahkan kembali dompet kecil berwarna hitam itu.


" Hei! Kau kira kita tidak ada pekerjaan lain? Kenapa menawarkan untuk mengembalikan dompet itu? " tanya Andra emosi.


" Hei bodoh! Pemilik dompet ini, bisa jadi adalah orang yang membantu Nyonya Karunia dan Nona Sarah. Kita harus berterima kasih secara langsung kepadanya. " sahut Jessie.


" Lagipula, dia adalah orang yang mungkin bisa kita tanya tentang Nyonya dan temannya. " lanjut Jessie.


Apa yang dikatakan Jessie ada betulnya. Akhirnya Andra pun setuju untuk mengembalilan dompet hitam itu secara langsung kepada sang pemilik.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍