
Rendra mengusap wajahnya dengan kasar. Ia ******* - ***** berkas yang Ia baca dan melemparnya ke sembarang arah. Emosinya terasa di puncak.
" Andreas! " panggil Rendra dengan suara keras.
Andreas berjalan cepat menghampiri Rendra. " Ada apa Tuan? " tanyanya.
" Kenapa laporan aset kita menurun?! Kau jelaskan apa maksudnya ini! " Rendra membanting setumpukan kertas di atas meja.
Andreas mendekat dan meraih salah satu dari jilidan berkas itu. Ia terkejut, ada kebocoran informasi salah satu produk yang sedang mereka kembangkan yang berasal dari salah satu perusahaan Rendra yang lain.
" Saya akan cari tahu Tuan. " ucap Andreas.
" Kau cari sampai dapat siapa yang membocorkan! Dan 'selesaikan' orang itu dengan cara yang pantas! " perintah Rendra penuh amarah.
" Baik Tuan. Saya berangkat sekarang. " jawab Andreas.
" Tetap waspada. Pesaing bisnis kita yang lain tidak segan menggunakan cara kotor. " pinta Rendra.
" Baik Tuan. Saya pamit. " Andreas kemudian berjalan meninggalkan ruangan Rendra.
Rendra memijit keningnya, minggu ini benar - benar minggu yang berat. Banyak yang ingin menjatuhkan Rendra dengan berbagai cara karena merasa iri padanya. Bagaimana tidak, di usianya yang baru 27 tahun Ia sudah memegang kerajaan bisnis Hartawan Grup. Perusahaan - perusahaan di bawah naunhan Hartawan grup bergerak dalam bidang fashion, makanan, kosmetik, perhiasan, sampai pertambangan. Rendra menempatkan orang - orang kepercayaan ayahnya di setiap sektor - sektor itu untuk membantu mengawasi jalannya perusahaan.
Minggu lalu Ia memenangkan tender penyediaan bahan baku untuk pembangunan jalan tol. Hal itu mengakibatkan orang - orang yang sedari awal sudah merasa iri padanya menjadi semakin iri dsn dengki kepadanya. Tidak jarang Rendra menerima surat ancaman, namun Ia mengabaikannya.
Kini Andreas Ia tugaskan untuk menyelesaikan urusannya di slaah satu perusahaannya yang bergerak dalam bidang kosmetik. Sebetulnya Andreas merada berat meninggalkan Rendra. Keamanan Rendra sendiri sebetulnya terancam. Rendra tidak pernah mau menggunakan jasa bodyguard. Menurutnya sangat merepotkan dan membatasi kebebasannya.
Notifikasi pesan masuk berbunyi di ponsel Rendra. Ia membuka ponsel dan membuka pesan itu, ternyata pesan dari Andreas :
Waspada dan tetap berhati - hati dalam pergerakanmu. Gunakan bodyguard bila perlu.
Rendra tersenyum. Kakak sepupunya ini memanh sangat menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri.
Ahh, aku ingin keluar. Sepertinya segelas kopi di cafe depan bukan ide yang buruk, gumam Rendra. Ia pun beranjak dari duduknya.
Memesan kopi sebetulnya bisa Ia lakukan melalui sekretarisnya. Tapi entah kenapa, Ia merasa ingin berjalan dan membeli sendiri minumannya. Duduk sendiri di cafe dan menikmati udara di luar kantor mungkin bisa mengurangi stressnya.
Ia berjalan dengan santai ke arah cafe, hanya merespon singkat orang - orang yang membungkuk hormat padanya. Bos berhati dingin. Begitu julukan yang disematkan padanya. Bahkan staff - staff cantik yang berusaha senyum tebar pesona padanya pun Ia abaikan.
Cuaca sedikit mendung dan gerimis rintik - rintik. Ia menolak tawaran untuk dipayungi oleh stafd security. Sepasang matanya tertuju kepada seseorang di seberang sana. Karunia.
Karunia tampak mengenakan jaket tebal, ada yang berbeda darinya. Sepertinya ada yang baru dengan penampilan Nia. Rendra memperhatikan perubahan penampilan Nia. Ia mewarnai rambutnya, hanya sedikit. Tapi terlihat cocok padanya. Ia tampak sedang bercanda dengan seseorang, sepertinya teman kerjanya. Batin Rendra.
Rendra menyeberangi jalan dan tetap mengawasi Nia. Sepertinya Nia dan teman kerjanya tidak menyadari keberadaannya. Diam - diam Ia mengambi foto Nia dari sudut tertentu. Terlihat cantik dibalik garis wajahnya yang juga tegas. Batin Rendra Lagi.
Setelah mendapatkan foto itu, Rendra berjalan masuk ke cafe dan memesan americano panas untuk Ia nikmati di tengah rintikan gerimis siang ini.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Nia dan Sarah berajalan bersama ke dalam ruangan kerja mereka. Sesekali diselingi senda gurau dan mereka saling mendorong hingga salah satunya hampir terjatuh kemudian mereka tertawa terbahak - bahak lagi. Siapa yang akan mengira dibalik tawa renyahnya, Nia menyimpan luka dan permasalahan yang sangat besar.
Setelah sampai di ruangan mereka, Sarah menarik kursi kerjanya mendekati meja kerja Nia.
" Nia, apa kau benar - benar yakin kau tidak tahu siapa pengirim barang - barang itu? " tanya Sarah.
Masih sambil mengunyah cookie cokelatnya Nia mengangguk, " He eh. "
Sarah terdiam. Ia terlihat berpikir. Jari telunjuknya mengetuk - ngetuk dagunya. " Aneh, sepertinya yang dikirim jumlahnya sangat banyak dan pasti menghabiskan banyak uang. " Ucap sarah. " Apa kau punya sugar daddy? " tanya Sarah membuat Nia melotot.
Nia kemudian memukul pelan lengan Sarah. " Enak saja, sugar daddy apaan! "
Sarah tergelak melihat respon Nia. Ia memang suka sekali menggoda Nia.
" Tapi Nia, apakah barang - barang itu akhirnya kau pakai semua? " tanya Sarah lagi.
Nia memasukkan potongan terakhir cookies cokelatnya, " Tidak semua. AC tidak kupakai. Beban listriknya terlalu besar. Mesin cuci kupakai sesekali saja. " jawab Sarah. " Aku harus berhemat. " lanjutnya.
Sarah menganggukkan kepalanya. Ia paham betul bahwa Nia benar - benar sudah bertekad untuk mengambil kembali rumah dan mobil ayahnya. Jika Nia sudah bertekad, tidak akan ada yang bisa menghalanginya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
ada yang penasaran penampilan baru Nia? Okey, kita kasih
...Foto yang diam - diam diambil oleh Rendra ...
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Teman - teman readers, lagi - lagi ku minta maaf yah ngga bisa rutin up terus. Mendekati lebaran pekerjaan di kantor bukannya semakin sedikit, tapi justru semakin ga karuan 馃ゲ
Minta tolong untuk tetap like dan komen dan follow aku yah. Setelah cerita ini selesai, aku akan tulis novel baru juga kok 馃