
Rendra menarik tangan Nia namun genggaman tangannya terasa lembut. Tidak mencengkeram dan tidak menyakiti Nia sama sekali.
Staff lain yang ikut cemas menanti hasil rapat terkejut ketika melihat Rendra berlalu di depan mereka sembari menggenggam tangan Nia. Gerombolan itu bubar ketika Andreas sengaja berhenti di depan mereka.
" Saya kira pekerjaan kalian semua harus segera diselesaikan. " ucap Andreas dengan wajah dingin.
Sontak seluruh staff itu bubar dan segera kembali ke meja kerja mereka masing - masing.
Sementara di dalam ruang rapat, tersisa tiga orang dengan wajah kebingungan. Namun yang paling terlihat kacau di antara mereka adalah Lala. Bagaimana tidak, Rendea memecatnya dengan instan.
" Semua ini gara - gara kau! Aku pun terkena imbasnya! " murka Tuan Handoko pada keponakannya.
" Paman, maafkan aku.. " Lala menangis memohon maaf kepada pamannya.
" Sudahlah, hukuman ini patut kita jalani. Sebaiknya kita introspeksi diri saja. " ucap Bu Ratna yang kali ini bisa bijak.
" Kau bisa membereskan semua barangmu dari kantor ini. " Bu Ratna melanjutkan ucapannya dan beranjak. Meninggalkan paman dan keponakannya yang sedang merasa terpuruk.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Andreas dengan sigap membukakan pintu ruangan untuk Rendra dan Nia.
Setelah keduanya masuk, Andreas menutup pintu kembali dan kembali ke ruangannya. Sebuah ruangan khusus untuk asisten pribadi CEO yang berada di lantai yang sama dengan ruangan Rendra.
Andreas paham betul, sepupunya itu hanya ingin berdua saja dengan kekasihnya. Andreas sengaja tidak mengikuti Rendra ke dalam ruangannya.
- di dalam ruangan CEO Hartawan Group -
Rendra dan Nia masih terdiam. Keduanya hanya berdiri dengan tangan masih dalam keadaan terkait. Rendra masih menggenggam tangan Nia dan tidak berniat melepaskannya.
Napas keduanya terengah - engah. Nia yang berpostur lebih pendek dari Rendra bersusah payah mengimbangi langkah besar dan cepat Rendra ketika Rendra tadi menariknya.
Pikiran Nia melayang. Bagaimana ini, semua staff di kantor akan segera tahu apa yang terjadi antara Nia dan Rendra.
Rendra berbalik. Tangannya menggenggam tangan Nia semakin erat. Nia mulai meringis kesakitan, namun Rendra tetap menggenggamnya dengan sangat erat.
Rendea berjalan mendekati Nia. dilepasnya genggaman itu perlahan, tangannya merangkul pinggang Nia yang ramping. Tangannya yang lain mengusap helaian rambut yang menutupi wajah cantik Nia.
Keduanya saling menatap. Nia masih dengan napasnya yang terengah - engah.
" Kenapa diam? " tanya Rendra dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Nia.
" Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku? " tanya Rendra lagi.
Mata Nia berkaca - kaca. Ia berusaha menahan tangisnya.
Rasa rindu pada Rendra, rasa bersalah karena tidak dapat menceritakan apa saja yang Ia alami, dan rasa takut akan perlakuan orang - orang di sekitarnya setelah melihatnya digandeng Rendra bercampur aduk menjadi satu.
" Kenapa? Kenapa kau hanya diam? " tanya Rendra lagi.
Kali ini satu tangannya mengusap lembut wajah Nia.
" Maaf... " ucap Nia pelan. Sangat pelan hingga hampir tidak terdengar.
" Jangan minta maaf, kau tidak salah. " ucap Rendra.
Tak bisa ditahan, bulir bening yang sedari tadi Nia tahan agar tidak mengalir kini terlepas dari sudut matanya.
Melihat air mata Nia mengalir, hati Rendra merasa teriris. Bagaimana bisa, lagi - lagi aku gagal menjaganya? Batinnya.
Rendra memeluk Nia. Sebuah pelukan hangat namun posesif.
Pelukan yang tak kalah posesif dengan pelukan Rendra. Begitu erat, dan hangat.
Rendra melonggarkan pelukannya.
Ia menatap wajah Nia. Wajah yang sedikit sayu namun tetap tampak sangat cantik bagi Rendra.
Tangan kirinya masih melingkar di pinggang Nia. Sedangkan tangan kanannya mengusap lembut wajah Nia dari arah kening menuju ke dagu.
Tangan Rendra memegang dagu Nia. matanya yang sedari tadi menatap mata Nia lekat - lekat kini menatap ke arah bibir Nia. Bibir tipis berwarna pink segar.
Rendra mengikis jarak antar keduanya. Wajahnya mendekat ke arah wajah Nia.
Terasa hembusan napas yang hangat dan sedikit lebih cepat antar keduanya. Hidung keduanya kini bersentuhan. Hembusan napas keduanya saling terasa.
Rendra mengangkat dagu Nia sedikit ke atas sehingga bibirnya dan bibir Nia hanya berjarak beberapa sentimeter.
Nia memejamkan matanya, seolah memberi ijin kepada Rendra untuk menciumnya saat itu juga. Merasa Nia tidak akan menolak ciumannya, Rendra pun dengan lembut mendaratkan bibirnya di bibir Nia.
Rendra mengecup lembut bibir Nia. Ia mengulum bibir Nia dengan perlahan, memberi kesempatan Nia untuk belajar menbalas ciumannya.
Nia dengan susah payah mengatur napasnya. Ia pun ingin mengimbangi ciuman Rendra. Namun Ia tidak kuat harus menahan napas lebih lama lagi, dan Rendra menyadarinya.
Rendra melepaskan ciumannya. Ia menatap wajah Nia yang memerah.
" Bernapas, atur temponya. Itu kuncinya. " ucap Rendra dengan nada menggoda.
Nia memukul dada bidang Rendra. Hanya pukulan main - main saja. Ia merasa sangat malu.
Rendra tersenyum melihat tingkah Nia. Ia benar - benar terlihat menggemaskan jika merasa malu seperti ini. Batinnya.
Rendra memeluk Nia lagi, dan Nia membalas pelukannya lagi.
" Aku, benar - benar menyayangimu. " ucap Rendra.
Nia merasa wajahnya memanas. Semakin panas. Ia tenggelam dalam pelukan Rendra. Tubuhnya yang ramping serasa tenggelam dalam pelukan Rendra.
" Itu tadi, ciuman pertamaku. " ucap Nia malu - malu.
" Apa? " sahut Rendra. " Aku tidak dengar. "
" My first kiss " jawab Nia.
Rendra tersenyum.
" Itu bukan ciuman pertamaku. Bukan pula ciuman pertamamu. " jawab Rendra.
Nia terkejut. Bagaimana bisa?
Nia melepas pelukannya dan menatap Rendra kebingungan.
" Kenapa bisa begitu? " tanyanya.
Rendra menarik tubuh Nia kembali ke dalam pelukannya.
" Tidak kenapa - kenapa. " ucap Rendra sambil mengusap kepala Nia.
Untung aja Andreas nggak ikut masuk ya. Bukan cuma jadi nyamuk aja dia nanti 馃ぃ