Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part. 50 Kenapa dengan Mereka?



Setelah menyelesaikan makan siang bersama yang lebih mirip seperti ujian kelulusan sekolah itu, akhirnya Jason pamit.


" Baik tuan Narendra, terima kasih untuk jamuan makan siangnya. Saya sangat menikmatinya. " ucap Jason.


" Tidak masalah. " sahut Rendra.


" Kapan - kapan, saya akan mengundang Anda untuk makan siang di tempat saya. " ucap Jason sambil menyodorkan tangannya, mengajak Rendra untuk berjabat tangan.


Rendra menerima jabatan tangan Jason. " Saya sangat menantikan momen itu. "


Seperti obrolan akrab. Mereka memang sedang berjabat tangan. Tapi tatapan mata dingin keduanya tidak dapat disembunyikan. Rasanya masih tetap seperti ajang uji nyali bagi Nia, Raya, dan Sarah.


" Baik, saya pamit undur diri. " ucap Jason.


" Apakah Anda ada yang menyusul? Perlukah saya minta asisten saya untuk mengantar Anda? " Rendra menawarkan bantuan.


" Tenang saja Tuan, saya bisa kembali ke tempat saya sendiri. Tidak perlu repot - repot. " ucap Jason.


" Pastikan Anda bisa kembali ke tempat Anda, Tuan Jason. " sahut Rendra.


Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Rendra, semua pandangan kini tertuju kepada Rendra.


Please, jangan memancing keributan. Nia memohon dalam hati.


" Karena akan sangat merepotkan jika saya harus turun tangan sendiri untuk mengembalikan Anda ke tempat asal Anda. " lanjut Rendra.


Jason terlihat terkejut namun tetap tersenyum sinis ke arah Rendra.


" Baik Tuan Jason, hati - hati di jalan. " ucap Sarah sambil melambaikan tangannya.


" Silakan silakan. Silakan Anda pulang. " lanjutnya.


Andreas mendelik ke arah Sarah. Namun dengan cepat Ia mengalihkan pandangannya. Sayangnya, adegan sepersekian detik itu sudah tertangkap oleh Nia.


" Baik, saya undur diri. Sekali lagi terima kasih. " ucap Jason.


Kemudian Jason berjalan ke arah camry hitam yang terparkir di ujung jalan. Mata tajam Rendra dan Andreas masih terus mengawasi langkah demi langkah Jason.


" Baiklah, ayo kita kembali bekerja hehehe. " ucap Nia sambil merangkul lengan Raya.


" Ah, iya... Pekerjaan kita banyak. Ayo Nia. " sahut Raya.


" Terima kasih Tuan Narendra atas makan siangnya. " ucap Nia.


" Iya Tuan Narendra, terima kasih. " sambung Raya.


" Kami duluan yah Sarah, sampai ketemu lagi. " ucap Nia.


" Ya ya ya, ingat kata - kataku tadi Nia! Tetap waspada! " seru Sarah.


" Iyyaaaa... " sahut Nia sambil berjalan meninggalkan Sarah, Andreas, dan Rendra.


Setelah Nia dan Raya berlalu, Sarah menatap ke arah Rendra dan Andreas bergantian dengan wajah serius.


" Kalian punya tugas besar dari sini. Jangan sampai aku tahu Nia terluka sedikitpun. Sedikit saja ada goresan padanya, aku tidak segan untuk ikut campur. " ucap Sarah.


Andreas tertegun mendengar ucapan Sarah. Sebegitu perhatiannya Sarah kepada Nia.


" Kau tidak perlu khawatir, Nona Sarah. Nia berada dalam penjagaan orang yang tepat. " jawab Rendra dengan tenang.


" Baiklah, kalau begitu saya pamit. Terima kasih untuk makan siangnya. " ucap Sarah kemudian berlalu.


" Kau yakin dengan wanita itu? " tanya Rendra kepada Andreas.


Andreas, yang sedang ditanya tidak menjawab. Ia justru tersenyum memperhatikan bayangan Sarah yang menjauh dari mereka.


" Hh... Dasar kau Andreas. " gerutu Rendra.


" Iya Tuan, maaf? " Andreas baru sadar bahwa Ia baru saja mengabaikan atasannya.


" Sudahlah. " sahut Rendra.


Kemudian Rendra berjalan kembali ke kantornya, dan Andreas mengikuti.


" Sudah kau urus? " tanya Rendra sambil berjalan.


" Sudah Tuan, eagle sudah menerima kabar dari kita dan segera mengambil tindakan. " ucap Andreas.


" Bagus. Jaga juga wanita itu, bisa jadi dia juga berada dalam bahaya. " ucap Rendra lagi.


" Baik, Tuan. " sahut Andreas.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


" Huh Nia, tadi itu seperti sedang shooting film psikopat. Kau tau? " ucap Raya.


" Maaf, tadinya rencanaku kita makan siang bersama sambil mengobrol. Malah ada kejadian tadi. " ucap Nia.


" Yah, it's oke laaah. " sahut Raya.


" Dengan begini aku jadi tahu, kalau Tuan Narendra benar - benar menyukaimu. Bagaimana tadi dia datang seperti pangeran yang siap bertempur untukmu... Caranya memandangmu tadi.... Aaa..... Manusia kutub itu sudah mencair. " ucap Raya panjang lebar.


" Sstt.. Kontrol volume suaramu. " Nia berbisik sambil memberi isyarat tutup mulut dengan telunjuknya.


Raya terkekeh.


" Sudah, ayo lanjutkan pekerjaan kita. Jangan sampai lembur. Aku terlalu lelah dengan kejadian tadi. " ucap Nia.


" Baiklaaah... " sahut Raya.


Nia meraih ponselnya. Ia mengirim pesan singkat ke Sarah.


Nia *katakan padaku, ada apa antara kau dengan Andreas?


Nampaknya Sarah sedang online, pesan singkat Nia mendapatkan balasan yang sangat cepat.


Sarah *memangnya ada apa?


Nia *tidak usah berpura - pura. Katakan padaku


Sarah *apa?


Nia *Kau yang katakan padaku, jangan berbalik tanya. Ada apa?


Sarah *Apa?


Nia *Katakan apa yang terjadi padaku....


Sarah *Apa yang terjadi


Arrgh, wanita satu ini. Benar - benar deh! Gerutu Nia dalam hati.


Nia *sudah katakan padaku! Aku melihatnya tadi 馃槫


Sarah *ya tentu saja kau bisa melihatnya. Kau kan tidak buta.


Arrgh! Aku menyerah. Nanti aku akan korek langsung dari Andreas dan Rendra. Gerutu Nia dalam hati.


Kemudian Nia melanjutkan lagi pekerjaannya walau Ia masih merasa sangat penasaran kenapa tadi Andreas bisa bersikap begitu ke Sarah.


Jika dipikir - pikir, tadi mereka dengan alami duduk bersebelahan. Tanpa disuruh. Biasanya Sarah duduk di sebelahku, secara otomatis. Kenapa tadi dia malah duduk di depanku dan Andreas langsung duduk di situ juga? Dan mereka tidak canggung sama sekali. Bukankah sebelumnya mereka sempat adu mulut di cafe itu juga?


Brak!


Nia menggebrak mejanya dan beranjak dari duduknya. Mengejutkan seisi ruangan.


Tidak bisa. Ini sangat aneh. Aku harus bertanya pada Andreas sekarang jika Sarah tidak mau jujur padaku. Aku harus ke ruangannya sekarang. Jika dia tidak mau mengaku, akan langsung bertanya pada Rendra. Nia bertekad dalam hatinya untuk segera pergi menuju ruangan Andreas.


Eh, tapi aku hanya staff biasa di sini. Bagaimana bisa aku langsung masuk ke ruangan asisten pribadi CEO dan menanyakan hal semacam ini? Duh. Nia urung pergi ke ruangan Andreas.


Akhirnya Ia duduk lagi di kursinya.


Aargh! Tapi aku penasaraaaan. Nia tanpa sadar beranjak lagi dari duduknya.


Namun teringat ini maish di kantor, Ia mengurungkan niatnya. Ia duduk lagi di kursinya


" Nia... apa yang kau lakukan? Kau membuat kami takut. " ucap Raya lirih.


Sontak Nia memperhatikan seluruh ruangan. Benar saja, semuanya sedang menatapnya dengan tatapan takut.


" Hahaha, maaf maaf. Abaikan aku, abaikan saja. hahaha. " ucap Nia.


" Sstt. Ada apa sebetulnya? Kau kerasukan sesuatu? Salah makan? " tanya Raya setengah berbisik.


" Sstt. Tidaak, sudah sudah. Tenang saja. " jawab Nia, juga dengan setengah berbisik.


Aku akan mengorek habis Rendra nanti malam. Dia pasti tahu sesuatu. Batin Nia.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍