Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 13. Kejadian Tidak Terduga



Sudah beberapa minggu Nia menempati kontrakan barunya. Dan sudah satu bulan lebih dia harus rajin melaporkan perkembangan projectnya kepada Rendra. Walau seringkali kegiatan pelaporan berakhir dengan sesuatu yang membingungkan. Ia hanya menyampaikan kemudian Rendra hanya menganggukkan kepalanya kemudian menyuruhnya kembali ke ruangan. Entahlah, hanya Rendra dan Tuhan yang tau apa isi kepalanya.


Hari Sabtu ini Nia berniat untuk bermalas - malasan di kontrakan. Tidak sepenuhnya bermalas - malasan sih, Ia sudah membersihkan kamarnya dan berniat untuk rebahan saja hari ini. Ia tidak ingin pergi ke mana - mana.


Bahkan makanan pun Ia hanya memesan melalui aplikasi ojek online. Setelah membersihkan diri barulah kemudian dia makan.


Seharian ini hujan. Cuaca sangat mendujung sekali untuk tidur - tiduran. Batin Nia. Ia melirik angka pada jam dinding di meja riasnya. Waktu menunjukkan pukul 19.00. Masih jam segini, tapi jalanan sepi sekali. Apa karena hujan seharian yah, jadinya sepi banget. Batin Nia.


Ia tiduran di kasur dengan posisi kepala menggantung ke bawah. Tiba - tiba Ia teringat kejadian beberapa tahun lalu. Ketika Ia mendapati ada kecelakaan di dekat rumahnya. Hm, sudah cukup lama rupanya. Ucap Nia bermonolog.


Hujan yang deras, suasana yang sepi, hawa sedikit terasa sejuk, membuat Nia sedikit demi sedikit merasa mengantuk. Perlahan Ia matanya mulai terpejam, ketika sayup - sayup terdengar suara ketukan cepat di pintunya.


tok tok tok tok tok tok


Nia terperanjat. Ia terbangun kaget dan menatap ke arah pintu. Masih dalam mode loading, Ia terduduk di kasurnya. Takut jika itu hanya seperti sebuah ide kejahatan ketika Ia membuka pintunya. Bagaimana jika itu penjahat yang kemudian akan menyerangku ketika aku membuka pintunya? Nia masih enggan untuk membuka pintunya.


tok tok tok tok tok


" Buka Nia! " terdengar suara laki - laki dari luar.


Kali ini Nia dibuat semakin terkejut. Bagaimana orang itu tahu bahwa Nia yang ada di dalam. Dari sekian banyak orang, hanya Sarah yang mengetahui kontrakannya.


Perlahan Nia beranjak dari kasurnya, Ia berjalan perlahan mendekat ke arah pintu. Ia mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu, Ia semakin terkejut.


TUAN NARENDRA??!!


Dengan cepat Nia membuka pintunya. Saat lintu terbuka Rendra langsung mendorong tubuh Nia dan menutup pintu kontrakan Nia dengan cepat. Dengan panik Rendra mengunci pintu kamar Nia.


Nia terkejut melihat Rendra basah kuyup dan ada luka seperti sayatan di lehernya yang membuat darah keluar dari luka sayatan itu. Kemeja Rendea yang berwarna biru langit pun terdapat bercak darah.


Setelah mengunci pintu dan memastikan kondisi di luar aman, Rendra memutar tubuhnya bersandar di pintu kontrakan Nia dan terduduk di situ. Nia reflek menghampiri Rendra untuk melihat kondisinya. Nia dibuat terkejut lagi ketika Ia melihat ada bercak darah di bagian perut Rendra dan ternyata ada luka goresan juga di situ.


Nia beranjak dan mengambil ponselnya. Ia bermaksud menelepon 119 untuk meminta bantuan namun Rendra mencegahnya. Rendra memegang tangan Nia dan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan. Akhirnya, Nia menurut dan meletakkan kembali ponsel ke atas meja.


Nia tidak banyak bertanya, Ia hanya melihat luka di leher Rendra. Lukanya tidak cukup dalam. Tapi tetap saja, darah sudah mengalir dari situ. Ketika akan memeriksa luka di perut Rendra, Ia terhenti. Sampai akhirnya Rendra dengan sendirinya membuka kemejanya yg sudah terdapat banyak bercak darah.


Badannya yang proporsional, dada bidang dan kokoh. Perut sixpack. Nia reflek menelan air liurnya yang sialnya, Rendra menangkap adegan itu.


" Apa kau akan menatapku seperti macan kelaparan begitu terus - menerus? " ucapnya dengan menahan sakit.


Nia menggeleng cepat. Nia mengalihkan pandangannya ke sisi lain dalam kamarnya.


Ia tidak berani banyak bicara.


" Kotak P3K. " ucap Rendea singkat yang langsung dimengerti oleh Nia.


Nia beranjak dan mengambil kotak P3K miliknya. Mengambil beberapa kassa dan cairan perawatan luka. Perlahan Ia membersihkan luka itu dengan kassa dan cairan obat, kemudian memberikan cairan perawatan luka dengan perlahan di luka Rendra.


Sesekali Rendra meringis merasakan perih pada lukanya. Melihat Rendra merasa kesakitan, Nia mengoleskan salep untuk luka Rendra dengan perlahan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa sampai bisa seperti ini? Tanya Nia dalam hati.


Setelah selesai mengobati luka Rendra, Nia beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil handuk, celana boxer dan kaos berukuran besar untuk Rendra.


Rendra meraih pakaian itu dan dengan susah payah Ia berdiri. Nia membantunya berjalan ke arah kamar mandi. Kemudian Nia membersihkan lantai kamar yang basah karena tadi Rendra dalam keadaan basah kuyup ketika datang.


Setelah selesai berganti, Rendra keluar dari kamar mandi dan masih berjalan dengan sempoyongan. Kepalanya terasa sangat sakit. Seseorang tadi memukul kepalanya dari belakang.


" Nia... " panggilnya lirih.


Mendengar namanya disebut, Nia menghampiri Rendra. Wajah Rendra nampak sangat pucat. Baru saja Nia akan meraih tangan Rendra untuk membantunya berjalan, Rendra ambruk. Rendra pingsan.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Hari sudah pagi. Perlahan Rendra membuka matanya perlahan, kepala bagian belakangnya masih terasa nyeri.


Aku di mana... Gumam Rendra. Ia melihat sekeliling dan mendapati Nia yang tertidur meringkuk di atas karpet, di samping kasur.


Oh, kontrakan Nia. Rendra tersenyum. Tangannya terulur hendak membelai kepala Nia, namun Nia tiba - tiba terbangun dan Rendra seketika berpura - pura tidur lagi.


Nia mengedipkan matanya, menggaruk kepala kemudian pipinya. Menguap lebar - lebar dan menarik tangannya ke atas. Ia menatap Rendra yang masih tampak tertidur. Tangannya diletakkan di atas kening Rendra.


" Masih agak demam. " ucap Nia bermonolog.


Nia kemudian berdiri, berjalan menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka, Nia berjalan keluar dari kontrakannya. Meninggalkan Rendra yang masih setia berpura - pura tidur di kasur.


Ketika Nia pergi, Rendra membuka matanya. Ia duduk di atas kasur, mengamati seisi kamar Nia. Ia tersenyum.


Kau pakai juga semua barang ini. Syukurlah, semua barang ini sangat berguna bagimu. Rendra bermonolog. Ia berdiri, berjalan ke arah meja rias. Melihat sebuah bingkai foto yang berisi foto Nia bersama kedua orang tuanya.


Tidak lama, Nia kemudian sudah kembali. Ia terkejut melihat Rendra yang sudah terbangun dan sedang berdiri di deoam meja riasnya. Dengan cepat Ia menutup pintu dan menghampiri Rendra.


" Apa Tuan baik - baik saja? " tanya Nia.


Ia mengulurkan tangannya ke arah kening Rendra. Rendra hanya terdiam. Selama ini, Ia adalah orang yang paling tidak suka jika tubuhnya dipegang oleh siapapun. Tapi kali ini, nampaknya Ia sedang menikmati sentuhan tangan Nia. walau hanya sekedar berada di keningnya.


" Tuan tadi demam. " ucap Nia. " Ayo duduk, aku belikan bubur ayam. Tuan harus makan. " ucap Nia lagi sambil membantu Rendra duduk di atas kasur lagi.


Nia mengambil dua buah mangkok dan sendok. Membuka bungkusan plastik bubur ayam dan menuangkannya di situ. Kemudian Ia menyerahkan mangkok berisi bubur ayam hangat itu kepada Rendra.


Rendra menerima mangkok itu dan menatap isi mangkok itu. Seumur hidupnya Ia tidak pernah makan sembarangan. Makanan seperti ini, tidak pernah Ia bayangkan untuk dinikmati olehnya.


" Maaf Tuan, saya hanya bisa membelikan ini. " ucap Nia seperti mengerti. " Apa Tuan mau makanan yang lain? " tanya Nia.


Rendra menggelengkan kepalanya. " Ini sudah cukup. " kemudian Ia menyuapkan sesendok bubur ayam itu ke dalam mulutnya.


Mereka berdua menikmati bubur ayam dalam keadaan hening. Rendra memakan bubur ayam itu dengan lahap. Entah karena dia lapar, entah karena bubur ayam ini emmang enak, atau karena Ia sedang makan bersama Nia saat ini.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Readers, mohon bantuan dan dukungan dengan cara memberikan like dan vote atau komen pada bagian2 dari novelku ini yaaaah, terima kasih ❤