
Selamat Membaca ~
...private pool tempat Rendra dan Nia sedang nganu ~...
...Penampakan kamar Rendra dan Nia dari arah private pool tempat mereka lagi nganu ~...
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Masih di dalam private pool, Rendra menaikkan tubuh istrinya, menggendong Nia di dalam air. Nia melingkarkan tangannya pada leher Rendra. Berusaha menopang tubuhnya pada bahu Rendra.
Mereka saling berci*man dengan liar. Rendra melepas tali bikini penutup d#da Nia dengan satu tangan sementara tangannya yang lain memegangi tubuh Nia.
Rendra merasa ada sesuatu yang mengeras di bawah sana. Sesuatu terasa ingin menyeruak memaksa keluar, membuat celana boxernya terasa sangat sesak.
Rendra membawa Nia, masih dalam keadaan mendekapnya, ke arah tepi kolam. Ia menyandarkan tubuh Nia ke dinding kolam dan terus menci*m Nia dengan menggila. Tangannya pun mulai menjelajah ke bagian tubuh Nia. Meraba perlahan di daerah pegunungan yang sudah diincarnya sedari tadi.
Saat tangan Rendra menyentuh pegunungan, Nia reflek mendes#h. Mendengar itu, Rendra justru semakin terbakar n#fsu. Ia meremas perlahan salah satu gunung itu dan memainkan sesuatu di sana.
Rendra mengangkat lagi tubuh Nia dan mendudukkannya di pijakan kolam. Ia mendekatkan wajahnya ke area pegunungan itu dan meng*lumnya. Memainkan lidahnya di area situ dan membuat sebuah suara des#han Nia lolos sekali lagi.
Rendra menatap Nia yang sudah mulai terpancing. Nia menatap mata Rendra dengan tatapan sayu, seperti ingin meminta lebih. Ia bahkan berinisiatif menci*m bibir Rendra terlebih dahulu. Tentu saja, Rendra menyambutnya dengan pagutan yang lebih dan lebih.
Rendra melepas pagutan itu dan menatap Nia lekat - lekat. Tatapan Nia seperti meminta lebih, rupanya Nia sudah benar - benar terpancing. Rendra tersenyum mengetahui akan hal itu.
Permainan tidak berhenti sampai di sini saja. Rendra memulai aksinya lagi, tangannya bermain menelusuri tubuh Nia lagi. Dari wajah, Ia menurunkan tangannya ke area leher, dan sekali lagi berhenti di area pegunungan. Ia meremas lagi salah satu milik Nia dan tangan lainnya memainkan puncak di pegunungan lainnya.
Nia merasa geli namun juga menikmatinya. Ia ingin menyudahi tapi tubuhnya menolak, Ia justru seperti meminta lebih dari Rendra. Ia menyisir rambut Rendra dengan jemarinya yang lentik. Kepalanya menengadah sesekali, menikmati permainan sang suami.
Melihat respon Nia yang seperti itu, salah satu tangan Rendra bergerilya lagi sembari satu tangannya masih asyik meremas. Nia tiba - tiba seperti hampir teratuh ke belakang karena lihainya permainan Rendra yang baru menyentuh pegunungan, belum area lainnya. Refleks, Rendra menahan tubuh Nia dengan kedua tangannya.
Keduanya kini saling bertatap. Nia tersenyum simpul, memperhatikan ketampanan Rendra. Seperti tidak akan pernah merasa cukup mengagumi ketampanan laki - laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Rendra, masih dengan tersenyum bertukar pandangan dengan Nia, Ia melakukan gerilya lagi. Tangan kanannya berada di punggung Nia, berjaga jika Nia hampir terjatuh ke belekang lagi menikmati permainan jarinya. Tangan kirinya turun ke area bawah perut Nia.
Nia yang sedang fokus menatap lensa mata Rendra yang berwarna hitam bahkan tidak menyadari satu tangan Rendra sudah bergerilya ke area intinya.
Rendra menyelipkan tangan kirinya ke dalam kain pembungkus berwarna biru muda di bagian bawah itu. Bergerilya mencari sesuatu yang akan menjadi favoritnya. Ia terus meraba ke dalam demi mendapatkan apa yang Ia cari.
Mata Nia membulat ketika jemari itu bermain di area intinya. Ia berusaha menahan agar tidak bersuara dengan menggigit bibir bawah dan memejamkan matanya.
Tapi Rendra adalah Rendra, Ia tidak akan berhenti sampai Ia mendapatkan apa yang Ia mau. Ia terus memainkan jemarinya dengan lihai di area inti Nia.
Nia memejamkan matanya, menikmati permainan Rendra di situ.
Hingga akhirnya, "@* " sebuah suara des#ahan lainnya lolos lagi dari mulutnya. Namun kali ini suara itu lebih kencang dan melengking dibanding sebelumnya. Rendra merasa puas telah bisa memancing Nia hingga ke tahap ini.
Sesekali Nia memejamkan matanya kuat. Nia juga menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan des#hannya lagi. Tangannya meremas rambut Rendra, hampir seperti menarik rambut Rendra.
Bukannya merasa kesakitan, Rendra justru merasa suka dengan pergerakan tangan Nia. Pertanda Ia berhasil memancing nafsu wanitanya itu
" Jangan ditahan, tidak perlu malu. Aku suamimu. " bisik Rendra dengan suara berat di telinga kanan Nia.
Ia bahkan menyempatkan menghela napasnya di daun telinga Nia. Seperti sudah tau itu adalah salah satu area sensitif Nia.
Mendengar suara berat Rendra, berbisik di telinganya membuat sisi Nia yang lain semakin terpancing. Udara hangat helaan napas Rendra menjadi pancingan lain yang semakin memancing n#fsu Nia.
Nia mendekatkan wajahnya ke wajah Rendra. Menempelkan hidung mancungnya ke hidung mancung Rendra
" Cepat, aku sudah tidak tahan. " ucap Nia dengan napas terengah.
Ia merasa benar - benar sudah tidak sanggup untuk menahan akibat permainan Rendra. Rendra benar - benar bisa memainkan perannya dengan sangat baik.
Baru jemarinya saja yang Ia gunakan, namun Rendra sudah membuat Nia tidak tahan untuk segera melakukan permainan yang lebih panas.
" Sebentar lagi, aku masih mau bermain denganmu. " ucap Rendra.
Ia mendekatkan wajahnya ke area pegunungan. Menghisap salah satu puncaknya dan memainkannya dengan lidahnya. Sementara tangannya yang lain masih asik bermain di bawah sana.
Seperti sudah tidak sanggup menahan lagi, des#han demi des#han lolos terus dari mulut Nia. Napasnya kian memburu, Rendra sudah berhasil membuat berada di puncak pertahanannya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Iyyak, sabarrr... Sabaarr... Tahan... Tahan...
Mau lanjut? Kasih dulu dong like dan komentarnya 馃き
yuk dukung penulis dengan cara nemberi rate, vote, like, dan komentar. Kasih hadiah juga sangat sangat diperbolehkan. Terima kasih banyakkkk