Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 41. Jason dan Walikota



Malam hari, di sebuah bar yang berada di sekitar Daerah O ~


Musik diputar dengan volume yang sangat kencang di dalamnya. Terlihat beberapa orang yang sedang asik menikmati miras dan juga bergoyang menikmati musik.


Di sebuah ruangan VVIP, tempat di mana beberapa orang sedang melakukan sebuah pertemuan.


Nampak seorang laki - laki berparas semi oriental namun tetap tampan di usianya yang hampir menginjak 40 tahun. Ya, Jason Alexander.


Terlihat bersamanya seorang laki - laki berusia sekitar 50 tahunan. Nampaknya sudah sedikit mabuk karena telah mengonsumsi terlalu banyak miras.


Terlihat pula bersama mereka Tommy, Derry, dan Thomas. Dan juga, beberapa wanita penghibur dengan pakaian yang sangat minim bahan.


Ruangan yang diterangi dengan cahaya temaram dan dipenuhi asap rokok itu dipenuhi tawa laki - laki dan suara menggoda wanita - wanita penghibur itu.


" Tuangkan minuman lagi untukku. Hahahahaa " ucap walikota sambil mengangkat gelasnya kepada seorang wanita.


Wanita itu menuangkan miras ke dalam gelas untuk walikota. Sesekali walikota meremas *#**** wanita itu. Bukannya risih, wanita itu justru semakin tertawa genit sambil mencubit wajah walikota.


Di sudut ruangan Thomas nampaknya sudah tidak dapat menahan hasratnya. Ia sedang mencumbu wanita penghibur. Tanpa sekat dan tanpa rasa sungkan.


" Tuan walikota. Terima kasih atas usaha dan kerja keras Anda. " Jason mengangkat gelasnya sebagai tanda menghormati walikota.


" Hahaha. Tentu saja Tuan Jason. " walikota juga ikut mengangkat gelas minumannya.


" Bagaimana dengan tanah milik Hartawan? Apa kau jadi menggesernya? " tanya Derry.


" Tentu saja. Dia bahkan tidak akan menyadarinya. " jawab Jason kemudian meminum lagi mirasnya.


" Bagaimana bisa? " tanya Derry.


" Aku membayar staff Hartawan yang bertugas di sana. Meminta mereka untuk menggeser pembatas secara diam - diam. " jawab Jason.


" Dan aku meminta mereka untuk menebarkan cairan kimia sehingga tanah dan tanaman - tanaman di sana mati. " lanjut Jason.


" Apa pengaruhnya untuk Hartawan? " tanya Derry.


" Tommy. Jelaskan kepada si bodoh ini. " ucap Jason.


" Baik, Tuan. " sahut Tommy.


" Tanah milik Hartawan Group di daerah O dipersiapkan untuk dibangun menjadi sebuah resort dan tempat wisata keluarga. Jika tanahnya kita rusak dengan bahan kimia, seluruh sumber air di sana akan ikut terkontaminasi. Susunan tanah akan rusak sehingga tidak layak untuk ditanami tanaman apapun dan juga menjadi lahan bangunan. " jelas Tommy.


" Dengan begitu, bisa jadi mereka akan menjual tanah itu kepada kita dengan harga yang sangat murah. " Jason melanjutkan penjelasan Tommy.


Derry mengangguk - anggukkan kepalanya tanda mengerti.


Di sudut ruangan terdengar suara ******* dan erangan. Semakin lama semakin mengganggu.


" Hei Thomas! " teriak Derry.


" Pergilah kau dari ruangan sini. Selesaikan urusanmu di tempat lain! " omel Derry. Ia merasa sangat terganggu.


" Hahaha. Si gila *#** itu. Biarkan saja. Dia harus menyelesaikannya agar isi otaknya tetap bagus. " ucap Jason.


" Biarkan saja. Anggap saja aku sedang menikmati tontonan gratis. " sahut walikota.


Tommy menggelengkan kepalanya. Benar - benar sudah rusak semua manusia ini.


" Tuan Jason, apakah asistenmu itu tidak kau tawarkan minuman? Dari tadi dia berdiri seperti patung. " ucap walikota.


" Hahaha. Dia inu manusia lurus Tuan walikota. Dia tidak minum dan tidak main perempuan. " jawab Jason.


" Kesetiaan. " jawab Jason singkat.


Ya, kesetiaan. Jika bukan karena keluarganya dulu ditolong oleh James Alexander, ayah Jason. Jika bukan mendiang Tuan James yang meminta agar Tommy selalu menjaga Jason. Dan jika bukan karena masalah hutang budi Tommy tidak akan berada di sini.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Jason dan seluruh koleganya kembali ke mansion Jason untuk beristirahat


Jason sedang melamun di balkon mansionnya. Tangannya memegang gelas kecil berisi miras. Wajahnya lurus mebatap ke arah area perkotaan yang terlihat jelas dari daerah O.


Ayah, sebentar lagi. Kubalaskan dendam ayah pada keluarga Hartawan. Aku dirikan kembali kerajaan bisnismu. Aku buat mereka menderita. Pikiran Jason melayang, teringat terakhir kali Ia melihat ayahnya masih hidup di ruang ICU beberapa tahun silam.


" Tuan Jason Alexander. " tiba - tiba walikota datang membuyarkan lamunan Jason.


Jason menoleh ke arah pintu. Tuan walikota menghampirinya sambil membawa gelas dan sebotol miras.


" Anda tidak istirahat? " tanya Jason.


" Seharusnya Anda beristirahat. " lanjut Jason.


Walikota menuang miras ke dalam gelas yang Ia bawa dan meminumnya sedikit.


" Anda sendiri kenapa tidak beristirahat? " tanya Lionell Adam, sang Tuan walikota.


Jason tersenyum.


" Saya sedang membayangkan bagaimana keberhasilan kita ke depannya. " jawab Jason.


" Saya pastikan urusan kita akan berjalan lancsr dan berhasil. " ucap Lionell.


Lionell Adam, adalah anak dari Christopher Adam, Ia merupakan walikota tiga periode sebelum Lionell. Menjadi walikota selama beberapa tahun, dan ternyata juga mendapat dukungan dari James Alexander, ayah Jason.


" Dulu, orang tua kita bekerja sama dan bisa berhasil. Dan sekarang kita pun bekerja sama saya yakin ke depannya kita akan berhasil. " ucap Jason.


" Tentu saja. Saya yakin kita akan berhasil. " sahut Lionell.


" Tapi, apa Anda sudah pastikan tentang lahan keluarga Hartawan? " tanya Lionell.


" Tentu saja. Anda tenang saja. " ucap Jason.


" Terkait kucuran dana... " singgung Lionell.


" Anda tidak perlu khawatir. Saya sudah mengirimkan sisa uangnya. Tenang saja. " ucap Jason.


" Hahahaha. Saya suka sekali bekerja sama dengan Anda. " ucap Lionell.


" Anda cukup memastikan pihak kepolisian juga ada di pihak kita. " ucap Jason.


" Tenang saja. Semua dalam kendaliku. " sahut Lionell.


" Lagipula, Simon juga bisa dijamin akan bekerja sama dengan baik. " lanjut Lionell.


( barangkali ada yang lupa, Simon adalah Kepala Kepolisian di Kota A )


Jason mengangkat gelasnya dan disambut dengan dentingan gelas Lionell.


Tungga saja Hartawan. Bukan hanya akan kurusak kerajaan bisnismu, akan ku hancurkan seluruh kehidupanmu. Demi orang tuaku. Demi balas dendamku. Ucap Jason dalam hati dengan penuh kesungguhan.