
Andra sedang duduk santai di dekat pos security kantor utama Hartawan Group. Ia sedang asik memainkan game di ponselnya. Ia tidak dapat mengawasi Nia di dalam kantor karena Ia sedang berpakaian yang tidak seharusnya. Iya, menggunakan jeans robek dengan kaos v-neck berwarna hitam. Tak lupa Ia mengenakan topi baseball berwarna senada. Ia tidak mau terlihat terlalu menonjol dengan pakaian yang terlalu rapi ketika sedang mengawasi Nia.
Tiba - tiba Ia melihat Nia yang berjalan setengah berlari keluar dari lobby. Andra pun menutup aplikasi gamenya dan berjalan mengikuti Nia.
Andra mengikuti Nia yang berjalan cepat ke arah cafe seberang gedung kantor utama Hartawan Group. Ia menjaga jarak aman karena ada Raya yang berjalan di belakang Nia.
Setelah memastikan kondisi aman di dalam cafe, Andra berniat keluar lagi dari cafe. Namun matanya terkunci ke arah mobil berwarna hitam yang berhenti di depan cafe.
Seorang laki - laki yang Ia yakini adalah Jason Alexander turun dari mobil. Jason terlihat seperti sedang mengawasi situasi. Ia memperhatikan Nia dan teman - temannya dari luar cafe.
Andra yang tadinya sudah berada di pintu keluar cafe, masuk kembali ke dalam cafe dan berpura - pura duduk di salah satu kursi kosong. Ia membuka buku menu dan tetap mengawasi Jason yang masih berdiri di luar.
Ia melihat Jason menunduk dan seperti berbicara dengan seseorang yang masih ada di dalam mobil. Di posisi sopir, Ia melihat Tommy.
Ah, itu adalah asisten pribadinya. Ucap Andra dalam hati.
Namun, ketika ada orang lain yang terlihat sedang duduk di samping Tommy, Andra terkejut. Thomas Alfredo? Pembunuh bayaran dan mafia **** itu. Aku harus segera menghubungi Tuan Andreas.
Andra merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Ia mengirimkan titik lokasi dan mengirimkan kode merah kepada Andreas.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Di saat yang sama, di ruangan CEO Hartawan Group ~
ting
Bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel Andreas. Andreas dengan cepat membuka pesan masuk di ponselnya.
Andreas mendekati Rendra yang sedang melakukan tele-conference dengan kantor cabang Kalimantan.
" Maaf Tuan. " ucap Andreas.
Ia meletakkan ponselnya di dekat tangan Rendra dengan maksud agar Rendra dapat segera membaca pesan masuk yang dikirim oleh Andra.
Rendra melirik ke arah ponsel Andreas. Wajahnya merah padam.
" Baik Tuan - Tuan. Kerja bagus. Lanjutkan proyek kerja kalian. Saya akan memantau dari jauh. Selamat siang. " Rendra mengakhiri tele-conference dengan terburu - buru.
" Ayo Andreas. " ajak Rendra.
" Baik Tuan, " ucap Andreas.
Kemudian Rendra dan Andreas bergegas ke titik lokasi yang dikirimkan oleh Andra.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Benar saja, tampak dari kejauhan Jason baru memasuki cafe. Rendra mempercepat langkahnya diikuti oleh Andreas.
Jam makan siang membuat lalu lintas sedikit padat karena pekerja sedang beristirahat dan juga mencari makan siang. Rendra kesulitsn menyeberang jalan.
Andreas menangkap ada camry berwarna hitam berhenti terparkir tidak jauh dari cafe. Mata elangnya menangkap sosok Tomny di kursi kemudi. Tapi Ia tidak dapat melihat dengan jelas sosok lain yang duduk di samping kursi kemudi.
Setelah berhasil menyeberang, Rendra mempercepat langkahnya masuk ke dalam cafe. Andreas pun ikut mempercepat langkahnya.
Ia melihat Jason sedang adu mulut dengan Andra. Ia juga melihat wajah pucat dan tidak nyaman Nia. Ah, masalah lagi. Batinnya.
" Sayang, kau di sini rupanya. " ucap Rendra dengan napas sedikit terengah - engah.
Nia menatap ke arah Rendra dengan tatapan seperti meminta tolong. Geraham Rendra tampak menegang. Garis wajahnya terlihat menegang.
Rendra menghampiri tempat Nia dan teman - temannya sedang duduk. Andreas masih tetap berdiri di posisinya.
" Oh, Tuan Narendra? " sapa Jason.
" Wah, Tuan Jason. Kebetulan sekali. " ucap Rendra singkat.
Rendra mengalihkan pandangannya ke Nia yang masih terlihat takut. " Sayang, kenapa kau makan siang tidak mengajakku? "
" Siang Tuan Narendra, saya Sarah. Saya yang mengajak Nia dan Raya makan siang bersama. " ucap Sarah.
" Oh baiklah. Kalau begitu, mari kita makan siang bersama di sini. " ucap Rendra.
" Tuan Jason, mari bergabung makan siang dengan kami. " ucap Rendra lagi.
" Tentu saja. " jawab Jason.
Andra dengan gerakan smooth menyingkir dari tempatnya tadi. Ia berjalan pelan dan santai menuju pintu keluar cafe. Tempat Andreas berdiri saat ini.
Ketika akan keluar, Andreas memberi kode pada Andra. Jari telunjuknya menekan bagian tengah telinganya dan Ia berbisik, "Eagle. "
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Rendra meminta untuk disediakan 2 meja besar yang disatukan. Ia mengajak Jason dan teman - teman Nia untuk makan siang bersama.
Saat ini posisi Rendra berhadapan dengan Jason. Nia duduk di sisi kanannya, bersebalahan dengan Raya. Sedangkan Sarah dan Andreas duduk bersebalahan, berseberangan dengan posisi duduk Nia dan Raya.
Tak lama, makanan dan minuman pun disajikan oleh waitress.
" Mari, silakan dinikmati. " ucap Rendra.
Tidak seperti biasanya, manusia kutub ini jadi lebih ramah kali ini. Ucap Andreas dalam hati.
Nia masih terlihat tidak nyaman, Ia hanya menundukkan kepalanya. Mengaduk - aduk makanannya tanpa berniat untuk memakannya.
" Sayang, kenapa tidak dimakan? " tanya Rendra.
" Apa kau tidak suka? " tanya Rendra lagi.
" Tidak. Tidak. Aku suka. " jawab Nia.
Kemudian Nia memasukkan sesuap nasi dengan kuah kari jepang ke dalam mulutnya.
" Sini kubersihkan, " ucap Rendra.
Ia membersihkan noda kuah kari di ujung bibir Nia. Wajahnya tersenyum hangat dengan tatapan yang seolah mengatakan, tenanglah ada aku di sini.
Akhirnya Nia menjadi lebih tenang dan membalas senyuman Rendra.
" Nampaknya kalian dekat. " ucap Jason.
Sarah menoleh ke arah Jason dengan tatapan sinis. 'Nampaknya dekat' kepalamu? Tentu saja mereka dekat! Gerutunya dalam hati.
" Tentu saja kami dekat Tuan Jason. " jawab Rendra.
" Saya belum mengenalkannya kepada Anda, bukan? " tanya Rendra.
" Oh, saya sudah mengenalnya. Karunia. Saya sudah mengenalnya. Cukup dekat. " ucap Jason percaya diri.
Sarah mendelik. Ia sudah siap menyemprot Jason dengan setiap kata yang tiba - tiba mengalir di dalam otaknya.
" Benarkah? Tapi kenapa saya tidak tahu jika anda dekat dengan Karunia? " tanya Rendra.
" Mengingat saya adalah calon suaminya. " ucap Rendra kemudian menatap lembut Nia di hadapan semua orang.
Nia langsung tersedak. Sedangkan Sarah dan Raya dengan kompak menoleh ke arah Nia dengan tatapan tidak percaya.
Andreas? Ia tetap mengatakan 'bucin' berulang kali dalam hatinya.
" Sayang, pelan - pelan. " ucap Rendra lalu memberikan segelas air ke Nia.
Nia mengangguk dan meminum air yang diberi oleh Rendra.
" Begitukah? " tanya Jason.
" Tentu saja. " jawab Rendra dengan cepat.
" Oleh karena itu Tuan, tidak akan saya ijinkan siapapun mendekati Karunia dengan niat buruk atau sekedar untuk menjadi nyamuk pengganggu hubungan kami. Termasuk Anda sekalipun. " ucap Rendra dengan mimik wajah serius.
Suasana di meja makan tiba - tiba terasa tegang.
Jason menatap lurus ke arah Rendra dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Namun terlihat seperti sorot kebencian di matanya.
Siapapun di dalam cafe itu pasti bisa merasakan ketegangannya. Seperti berada di medan perang.
" Hahaha, ayo makan. Ayo makan. " Nia berusaha mencairkan suasana.
" Sayang ayo makan, ayo aku suapin. " ucap Nia dengan mata mendelik ke arah Rendra. Ia menyuapkan nasi dan kare jepang miliknya ke arah Rendra.
" Hahaha, enak kan ya? Wuuu, enak banget dong. " ucap Nia sambil tertawa garing yang disambut dengan tawa garing Raya dan Sarah.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Halo halo, demi menebus kemarin penulis sempet telat up, khusus hari ini penulis up lebih dari satu episode yaaah ❤
mohon dukungannya teruuus ❤