Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 126. Amarah Jason



Selamat Membaca ~


Sarah dan Nia akhirnya menemui wanita paruh baya yang menawarkan bantuan kepada mereka berdua. Dan benar seperti kata Sarah, orang ini adalah orang Malaysia yang menggunakan bahasa melayu.


" Inikah temanmu? " tanya wanita itu.


Sarah mengangguk, " Dia adalah teman sekaligus adikku. "


" Karunia, " ucap Nia memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.


Wanita itu menyambut uluran tangan Nia dan menjabatnya lembut. " Aisyah. "


" Mari, ikut aku. Di sini terlalu banyak orang. " ajak Aisyah.


Sarah dan Nia mengangguk bersamaan.


Mereka kemudian berjalan bersama menuju sebuah gang sempit yang berada tidak jauh dari pelabuhan. Menuju sebuah pemukiman padat penduduk, sepertinya sebuah kampung nelayan.


Mereka berhenti di depan sebuah rumah yang sangat sederhana. Sebuah rumah berdinding kayu dengan atap rendah. Warna cat pada dinding kayu itu sudah nampak kusam.


" Mari Nak, silakan masuk. " ucap Aisyah setelah membuka pintu rumahnya.


Nia dan sarah mengangguk dan masuk ke dalam rumah Aisyah.


" Duduklah, " ucap Bu Aisyah.


Sarah dan Nia kemudian duduk di kursi kayu yang disediakan. Keduanya segera rehat, merilekskan tubuh yang tegang dan kaki yang sudah terasa pegal karena berlari kesana kemari hari ini.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Sementara itu, di sebuah rumah bordir ~


Terdengar suara rintihan dan mendes@h saling bersahutan dari salah satu kamar yag berada di dalan rumah bordir itu.


" Lebih cepat! " suara erangan tertahan seorang laki - laki terdengar dari dalam kamar.


Jason sedang menikmati layanan beberapa wanita p*nghibur di dalamnya. Sesuai permintaannya, saat ini Ia sedang bersenang - senang ditemani oleh tiga orang wanita p#nghibur.


Tok tok tok


" Ah, sial! Pengganggu! " geruru Jason yang sedang asik di dalam.


" Tuan, ini Tommy. " terdengar suara Tommy dari luar kamar.


Jason tidak menghiraukan Tommy. Ia terus asik bermain dengan wanita - wanita itiu secara bersamaan.


Setelah memastikan dirinya dan wanita - wanitanya mengalami masa klim@ks yang ditunggu - tunggu, Jason baru mengakhiri permainannya.


Ia mengambil kimono handuk yang berserakan di lantai. Ia mengenakannya dan berjalan ke arah pintu kamar.


" Ada apa? Kau selalu saja mengganggu kesenanganku! " amuk Jason.


" Tuan, ada masalah di kapal. Sebaiknya Anda segera kembali. " jawab Jason dengan wajah berkeringat.


" Ada masalah apa? " Jason menjadi gusar setelah melihat ekspresi panik pada wajah Tommy.


Jason memimpin di depan. Ia mempercepat langkahnya, diikuti oleh Tommy yang juga berjalan dengan kecepatan menyeimbangi Jason.


Setelah sampai di pelabuhan, Jason dan Tommy bergegas menuju kapal milik PT. Angkasa. Terjadi keributan di area penerimaan pasokan bahan makanan.


Jason dan Tommy bergegas ke area itu. Namlak anak buahnya sedang adu pukul dengan orang - orang yang ada di situ.


" Hentikan! Apa yang kalian lakukan?! " teriak Tommy.


Ia melerai anak buahnya yang sedang berkelahi dengan orang asing. Sepertinya preman yang ada di pelabuhan ini.


" Mereka mengancam akan merusak kapal dan perbekalan kita yang lainnya. " sahut anak buahnya yang lain.


" Hentikan! " teriak Tommy.


Ia melipat lengan kemejanya dan menarik kerah salah satu preman itu. Melihat sepertinya Tommy akan dapat menyelesaikan permasalahan di situ, Jason memilih untuk melenggang masuk ke dalam kamar VIP miliknya yang berada di dalam kapal.


Saat Ia hendak membuka pintu kamarnya, tiba - tiba Ia teringat dengan dua orang wanita yang Ia sandera. Ia pun kemudian berbalik dan melangkah menuju kamar tempat dua orang gadis itu Ia sandera.


Ia merasa bersemangat. Ia berpikiran untuk melanjutkan ronde permainannya yang dirasa kurang cukup tadi dengan salah satu wanita yang Ia sandera, Tsurayya.


Ya, Jason masih berpikiran bahwa wanita yang berhasil dibawa kepadanya adalah Tsurayya, alias Raya. Ia benar - benar percaya dengan kinerja Kevin hingga tidak memeriksa terlebih dahulu, apakah sasaran yang Ia inginkan benar atau tidak.


Saat menyusuri lorong, Ia merasa ada yang aneh. Kenapa tidak ada penjaga satu pun di sini? Kenapa tidak ada yang menjaga pintu ruangan di ujung situ?


Ia mempercepat langkahnya. Ia merasa gusar.


Dengan cepat Ia raih gagang pintu dan membuka pintunya. Benar saja, tidak ada orang di dalam.


%&@*$,脳^@拢脳&\=&$*@(@


Segala macam sumpah serapah Ia keluarkan dari mulutnya. Beberapa kali Ia memukul dinding kayu pembatas ruangan.


Ia mengambil ponselnya dari saku dengan kasar. Ia menelepon seseorang dengan tidak sabar.


" Cepat kau kemari! " perintah Jason penuh dengan amarah.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Tommy berlari disusul oleh Kevin. Perasaanku tidak enak, apakah terjadi sesuatu dengan Karunia dan wanita satunya? Batin Tommy.


" Ada apa Tuan memanggil kami? " tanya Tommy dengan napas tersengal - sengal.


Plakk!!


Bukannya jawaban yang Ia terima, melainkan sebuah tamparan di wajahnya. Jason menampar Tommy, dan Kevin pun tidak lolos sebagai sasaran amukan Jason.


" Di mana wanita - wanita itu?! " teriak Jason seraya menunjuk ke arah ruangan yang kosong.


Tommy berjalan masuk ke dalam ruangan disusul oleh Kevin yang masih mengelus pipinha yang memerah akibat bekas tamparan Jason.


Kosong! Ke mana mereka semua?


Tommy menjadi gelisah. Ia berjalan menuju toilet. Memeriksa barangkali kedua sandera itu berada di sana, namun nihil.


" Bagaimana bisa kalian tidak menempatkan penjaga di lorong atau depan pintu ini?! " teriak Jason lagi.


" Mm.. Maafkan saya, Tuan. " sahut Kevin.


Ya, Nia dan Sarah adalah tanggung jawab Kevin. Jason tidak mau Tommy ikut campur dalam penanganan Nia dan Sarah karena takut Tommy akan berkhianat lagi.


Tapi, Tommy masih bisa memastikan kedua wanita itu me dapat makanan yang cukup dan pakaian yang layak dengan meminta pertolongan pada Rania.


" Aku tidak perlu kata maaf darimu! " tetiak Jason kemudian menampar lagi wajah Kevin.


" Siapa yang terakhir bertemu dengan wanita - wanitaku?! " tanya Jason seraya mendorong tubuh Kevin kepada dinding.


" Ppp... Pasti gadis bisu itu, Tuan. Dia mengirim makanan tadi pagi untuk mereka. " jawab Kevin.


" Bawa gadis itu kemari! " perintah Jason kemudian Ia mendorong kasar tubuh Kevin hingga Kevin natuh terjerembab.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍