Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 96. Pergerakan Tommy



Selamat Membaca ~


Jason dan Tommy masih tetap berdiam di restoran yang berada di area pinggir Kota A. Derry telah memutuskan untuk memutus semua hubungan dengan Jason. Ia tidaj mau dimanfaatkan dan terlibat lagi dalam semua rencana Jason. Ia benar - benar sudah kapok.


" Dasar manusia tidak tahu diuntung! Masih beruntung dia selalu aku bantu! Bahkan dia bisa sempat merasakan hidup enak semua karena bantuanku! " gerutu Jason.


" Hartawan, aku akan segera membuat perhitungan denganmu! Aku akan rebut milikmu yanh paling berharga! " ucapnya lagi penuh dengan rasa dendam dan amarah.


Tommy mengelengkan kepalanya pelan. Ia benar - benar heran dengan Jason. Memang, sejak kecil Jason adalah sosok yang sangat keras kepala. Seluruh kemauannya selalu dituruti loleh kedua orang tuanya, wajar karena dia anak tunggal. Setiap perbuatan dan perkataan yang diucapkan oleh Jason tidak pernah salah. Itulah yang menyebabkan Jason selalu bersikukuh bahwa apapun yang Ia lakukan itu tidak salah, selalu benar.


" Biarkan saja dia pergi. Anda tidak akan membutuhkan bantuannya lagi. " ucap Tommy berusaha menenangkan Jason yang seperti sedang menahan luapan emosi.


Jason melirik Tommy, " Lalu bagaimana dengan Kau? Mau tidak mau, kau harus tetap membantuku menjalankan rencanaku. Dan rencanaku harus berhasil! "


Tommy menghela napas pelan, baru saja kubatin dia selalu merasa perbuatannya benar dan seluruh kemauannya selalu dituruti. Lihatlah bagaimana laki - laki berusia matang bersikap. Batin Tommy.


" Sebetulnya, apa lagi yang mau Anda lakukan? " tanya Tommy.


Sebetulnya Ia sudah merasa tidak tahan dengan semua kelakuan Jason, tapi mau bagaimana lagi. Ia merasa dititipi oleh orang tua Jason, Ia juga merasa punya hutang budi pada keluarga Jason.


" Aku ingin membalas perbuatan Narendra. Aku ingin Ia merasa hancur. " geram Jason.


" Dengan cara? " tanya Tommy.


Kemudian Jason memberi kode agar Tommy mendekat kepadanya dan membisikkan euruh rencana yang sudah Ia buat dalam waktu 6 bulan terakhir.


Brak!


Tommy reflek memukul meja, membuat seisi restoran ikut menoleh ke arah mereka.


" Anda gila Tuan, Anda tidak boleh berbuat seperti itu. " ucap Tommy dengan menunjukka jarinya ke atas.


" Hahahaha, hebat sekali bukan rencana yang kubuat? " tanya Jason.


" Kau sampai sangat terkejut seperti itu. " ucapnya sambil terkekeh.


" Sekalipun Anda akan melakukannya, resikonya terlalu besar dan anda tidak mungkin melakukannya sendiri. Bahka dengan bantuan saya sekalipun, Anda tidak bisa melakukannya. " ucap Tommy.


" Siapa bilang kita hanya akan bergerak berdua. " ucap Jason.


" Kau lupa? Pimpinan negara tetangga adalah sekutu kita? Ternyata Ia adalah orang yang juga pernah dirugikan oleh Senior Hartawan. Dia mau membantu kita. " ucap Jason.


" Belum lagi, sekutu - sekutu kita yang berada di negara tetangga satunya. Mereka siap - siap saja membantu kita. " lanjutnya sambil tersenyum sinis.


" Kali ini, semua akan berjalan sesuai rencanaku dan aku yakin akan berhasil. " ucapnya lagi, sudah merasa menang.


Tommy menghela napasnya lagi.


Kukira, selama 6 bulan terakhir Ia sudah introspeksi dan berusaha memperbaiki diri. Nyatanya Ia malah membuat rencana gila seperti ini. Batin Tommy.


" Ingat, kau punya hutang nyawa pada keluargaku! Kau harus membantuku! " ancam Jason pada Tommy.


Umurnya saja yang tua, tingkahnya seperti ABG labil yang hanya bisa mengancam orang demi mendapatkan apa yang dia mau. Gerutu Tommy dalam hati.


" Selama Anda tetap memperlakukannya dengan baik, tidak melukainya, saya akan melakukan kemauan Anda. " jawab Tommy membuat Jason tersenyum puas.


" Tapi ingat, bukan karena saya menyetujui apa yang Anda perbuat, tapi karena seperti yang Ana bilang tadi. Karena saya punya hutang nyawa. " imbuh Tommy.


" Terserah apa katamu! Yang jelas rencana ini akan aku lakukan. Secepatnya! " seru Jason.


" Baiklah Tuan, kalau begitu saya pamit. Saya ingin istirahat di apartemen saya. " ucap Tommy.


" Ya ya, pergilah. " jawab Jason.


Kemudian Tommy beranjak dan pergi meninggalkan Jason di dalam restoran. Saat Ia telah berada di luar restoran, Ia menoleh lagi ke belakang. Memperhatikan gerak - gerik Jason sesaat.


" Aku harus mencari cara untuk bisa menggagalkan rencananya tanpa ketahuan. Atau jika tidak, setidaknya aku harus bisa membebaskan orang itu. " gumamnya.


Kemudian Ia berjalan ke halte dan menunggu bus ke arah pusat kota A.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Di The Orchida ~


Nia terlihat sangat sibuk hari ini. Wanita cantik bertubuh ramping yang sedang mengenakan dress polos berwarna nude selutut itu sedang asik mengatur ini dan itu. Hari ini timnya sedang bersiap untuk menjadi tim wedding organizer di pusat kota.


Nia jarang ikut turun secara langsung saat pelaksaan kegiatan, Ia hanya sesekali memeriksa kinerja staffnya. Raya dipercaya untuk membantu mengontrol semua yang sudah menjadi proyek kerja The Orchida.


Seringkali Ia hanya memantau pekerjaan dari Studio The Orchida. Apalagi bulan ini Ia dan Rendra akhirnya memutuskan untuk memiliki anak. Jadi, dia ingin cukup istirahat dan tidak mau terlalu lelah.


Ia kembali ke ruangannya di lantai dua setelah dirasa seluruh persiapan keberangkatan tim telah Ia periksa ulang. Ia juga sudah memastikan bahwa timnya sudah berangkat.


Ia menghempaskan tubuhnya di sofa, berbaring dan meluruskan posisi punggungnya yang sedari tadi sering membungkuk. Berusaha menikmati rasa empuk sofa yang terasa pads punggungnya.


Aduh, kenapa tiba - tiba kepalaku rasanya seperti sedang berputar. Keluh Nia.


Ia memijit pelipisnya pelan. Mungkin aku kurang minum air putih, batinnya.


Ia berjalan menuju meja kerjanya, berjalan dengan sangat pelan. Kepalanya terasa berputar dan tubuhnya terasa berat.


Ada apa dengan diriku, kenapa rasanya seperti ini. Gumam Nia.


Ia berpegangan pada ujung meja kerjanya. Setelah meminum segelas air, Ia kembali ke sofa dan membaringkan kembali tubuhnya di sofa, berharap rasa sakit kepalanya berkurang.


Ia memejamkan matanya dan memijit pelipisnya pelan. Hingga tak terasa, Ia pun tertidur.


Beberapa saat kemudian, Rendra datang membawa makan siang. Setelah diberitahu bahwa Nia sudah kembali ke ruangannya, Rendra segera naik ke lantai dua.


Rendra masuk ke dalam ruangan dan mendapati Nia yang sedang terlelap di atas sofa. Rendra seperti merasa bersalah, membiarkan Nia kelelahan saat bekerja hingga tertidur seperti ini.


Ia berjalan pelan mendekati Nia yang terlelap dengan posisi agak meringkuk. Kakinya tergantung di sofa. Rendra pun menggendong Nia dan memindahkan ke private space yanh ada di samping ruangannya.


Ia membaringkan tubuh istri cantiknya di atas tempat tidur. Bahkan Nia tidak sadar jika Ia sedang dipindahkan oleh Rendra. Tidurnya sangat nyenyak.


Rendra memperhatikan wajah damai istrinya yang sedang tertidur. Sedikit pucat, mungkin karena kelelahan. Batinnya.


Karena tidak mai mengganggu, Ia pun meninggalkan Nia yang sedsng terlelap dan kembali ke ruang kerja Nia.


Ia mendudukkan dirinya di kursi kerja Nia. Tiba - tiba, ponselnya berbunyi. Ia membelalakkan matanya.


Tommy? Kenapa dia tiba - tiba menelponku? Apakah dia sudah bebas dari penjara?


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Halo readers, mohon maaf kemarin penulis tidak up karena penulis mendadak harus keluar kota. Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan dan penulis tidak bisa pegang ponsel lama - lama 馃檹馃徎