Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 17. Sarah Pamit



Kini Rendra, Franky, dan Nia duduk bersama di sofa. Masih terlihat kekhawatiran pada wajah Rendra. Ia memperhatikan wajah Nia yang masih terlihat pucat. Nia duduk tanpa ekspresi.


" Aku... Meminta maaf. " ucap Franky.


Nia dan Rendra tetap terdiam. Wajah Nia masih tetap tanpa ekspresi, sedangkan Rendra yang mendengar ucapan Franky tersulut lagi emosinya. Tangannya mengepal namun Nia menggenggam tangan Rendra. Rendra menatap tangannya yang sedang digenggam Nia, kemudian berganti menatap wajah Nia.


" Saya butuh penjelasan. " ucap Nia. " Saya tidak kenal dengan putri Anda, saya tidak pernah mengganggunya. Kenapa Ia berbuat begitu pada saya. " Wajahnya masih datar. Tapi justru wajah datarnya sangat mengintimidasi.


" Jawab! " perintah Rendra tidak sabaran.


" Maafkan aku dan anakku Nak, maafkan kami. " ucap Franky.


" Lucy sudah menjadi saksi kehancuran rumah tanggaku sejak Ia masih kecil. Ia juga ditinggal teman - temannya. Ia selalu merasa takut kehilangan. Siapapun yang pernah berbuat baik padanya, akan menjadi sasaran posesifnya. " mata Franky mulai berkaca - kaca.


" Terkait kejadian tadi, sungguh aku kehilangan kendali. Beberapa hari sebelumnya Ia meracau di kamarnya, dia mengatakan bahwa ada perempuan yang selalu mengunjungi ruangan Nak Rendra dan merayunya. Sejak itu, aku menempatkan penjaga di rumah. Bahkan psikiater aku datangkan langsung ke rumah. Ternyata dia masih bisa meloloskan diri. Maafkan aku. " lanjut Franky menundukkan kepala.


" Tidak bisa! Lucy akan tetap diproses secara hukum sesuai dengan ketentuan yang ada! Jika tidak, bisa jadi selanjutnya akan ada orang lain yang berbuat hal sama! " Rendra berbicara dengan tegas.


" Kumohon Nak Rendra, maafkan aku dan anakku. " lagi - lagi Franky bersimpuh dan berushaa meraih tangan Rendra.


" Tidak bisa! " Rendra menepis tangan Franky.


" Kumohon Nak Rendra, Nak Nia... " Franky berusaha meraih tangan Nia tapi ditepis oleh Rendra.


" Jangan menyentuhnya! " wajah Rendra berubah semakin dingin.


Nia menyentuh lembut lengan Rendra. Ia menganggukkan kepalanya, Rendra yang tadinya tegang berubah menjadi lebih tenang.


" Proses dengan pihak kepolisian akan tetap dilanjutkan, Tuan Franky. Demi menunjukkan bahwa perusahaan dan CEO Narendra adalah orang disiplin dan taat hukum. Anda bisa melampirkan hasil pemeriksaan anak Anda untuk meringankan atau membebaskan anak Anda. " ucap Nia dengan lebih tenang.


Rendra menghelakan napasnya pelan. " Anda tidak akan aku turunkan dari posisi pimpinan perusahaan Anda walau saham terbesar adalah milikku untuk saat ini. " imbuh Rendra. " Kelola perusahaannya dengan baik sebagai bukti permintaan maaf Anda. "


Franky masih terdiam.


" Ini adalah penawaran terbaik yang bisa kuberikan. " ucap Rendra.


Franky masih terdiam sesaat, " Baik Nak Rendra, Nak Nia. Terima kasih. " ucapnya. " Aku akan lakukan yang kalian minta. "


Setelah bersepakat, Franky kemudian pamit undur diri dari ruangan Rendra. Kini, hanya ada Rendra dan Nia di dalam ruangan.


" Maafkan aku, aku gagal menjagamu. " ucap Rendra.


Nia memegang lengan Rendra. " Jangan mengatakan itu. Tidak semua hal bisa kita kendalikan sesuai dengan keinginan kita. " ucap Nia berusaha menenangkan Rendra.


Rendra menatap Nia lekat, kemudian memeluknya erat. " Maafkan aku. " ucap Rendra setengah berbisik.


Nia membalas pelukan Rendra. Pelukan yang benar - benar membuatnya merasa nyaman dan aman.


" Apa kita akan terus berpelukan seperti ini? Bagaimana jika ada yang lihat? " tanya Nia.


" Biarkan saja. " jawab Rendra singkat. Kemudian Ia melepaskan pelukannya dan menatap ke bekas luka Nia.


" Mungkin sekarang saatnya kau menghubungi Sarah. Anna bilang tadi Ia ke sini mencarimu. " ucap Rendra.


" Benarkah? Baiklah. Aku akan kembali ke ruanganku. " ucap Nia sambil beranjak dari duduknya


" Kuantar. " Rendra ikut beranjak dari sofa.


" Jangan, nanti akan ada omongan yang tidak - tidak. " cegah Nia.


" Justru karena itu, aku harus mengantarmu. " ucap Rendra, Nia akhirnya hanya menurut.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Sudah beberapa hari sejak kejadian jambak - menjambak itu. Berita buruk tentang Nia sudah mulai meredup karena pihak keluarga Lucy telah melakukan konferensi pers terkait kejadian tersebut. Sebagian staff yang berbicara hal buruk tentang Nia pun meminta maaf kepadanya. Tetapi, ada juga yang tetap bersikukuh menjelek - jelekkan Nia. Hati iri dengki orang - orang itu semakin menjadi - jadi setelah Rendra selalu mendampingi Nia sejak kejadian itu.


Hubungan Nia dan Rendra pun semakin dekat. Rendra telah menceritakan semua tentang ibunya yang adalah sahabat ibu Nia. Tentang pesan almarhum ibunya yang memintanya mencari keluarga Nia untuk berterima kasih. Dan ternyata, Rendra justru jatuh hati pada anak dari sahabat ibunya.


" Calon Nyonya Rendra. Bisakah kita makan siang sekarang? " tanya Sarah.


" Sst! Apa yang kau bicarakan! " Nia mendelik ke arah Sarah. Bisa - bisanya Sarah menggodanya begitu di ruanhan kerja.


Sarah terkekeh. " Ngga papa dong, kan emang calon! " Sarah semakin menggoda Nia.


" Udah - udah ayo makan. Tapi aku ingin makan bakso mang udin. " kata Nia.


" Kok sama sih. Kuy lah ke situ, aku juga pengen bakso. Pake sambel banyak, uhhh pasti mantap! " Sarah sudah tidak sabar ingin memakan semangkok bakso super pedas.


" Tahan air liurmu! " kata Nia.


Mereka tergelak sesaat kemudian berjalan bersama menuju lift. Mereka berjalan kaki menuju warung bakso Mang Udin yang terletak di belakang gedung perusahaan tempat mereka bekerja.


Setelah memesan dua porsi bakso spesial dan dua gelas es jeruk, Nia dan Sarah duduk di kursi.


" Nia, sebenernya aku pengen ngomong sesuatu. " ucap Sarah tiba - tiba.


" Apaan? Kok perasaanku ngga enak nih. " sahut Nia.


" Aku, diminta papaku untuk bergabung ke bisnis papa. Sudah waktunya aku ikut mengurus bisnis papa. " jawab Sarah. " Papa udah sering sakit juga. "


Nia terdiam. Di satu sisi Ia tak rela ditinggal Sarah, Ia pasti merasa kesepian. Di satu sisi, cepat atau lambat Sarah pasti akan melakukan itu. Yaitu memegang bisnis papanya.


Papa Sarah memiliki usaha dalam bidang real estate. Cukup terkenal di kota ini. Bisnis sebesar itu tentu saja tidak bisa diserahkan pada orang sembarangan, harus dikelola sendiri atau hanya bisa dipegang oleh orang yang benar - benar bisa dipercaya.


Nia tersenyum. " Aku mengerti. Lakukanlah, tunjukkan baktimu pada orang tuamu. "


" Benarkah? Tidak apa - apa kau di sini sendiri? Atau kau mau bergabung denganku? " ajak Sarah.


Nia menggeleng. " Aku akan tetap di sini. "


" Kau yakin? " tanya Sarah lagi.


" Ya, tentu saja. " jawab Nia. " Sekalipun tidak bersama, kita masih bisa saling mengunjungi. Dan kau, cepatlah juga cari jodoh. Apa kau mau aku tinggal menikah dulu? Hahahha "


" Kau ini! Aku sedang mellow karena akan meninggalkanmu tapi kau malah begini! " ucap Sarah kesal.


Tak lama, pesanan mereka datang dan mereka pun melahap makan siang mereka. Tak mereka sadari, ada dua orang laki - laki yang mengawasi dari kejauhan.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Siapa sih kedua laki - laki itu?


Kalau Sarah ngga ada, gimana dong nasib Nia nih di kantor? Sendirian, ngga ada temen rumpi.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️



...Nia dan Sarah...


.


.


.


.


.


Teman - teman readers, mohon bantuan dukungannya yah. Mohon like, komen, dan vote karya penulis. Terima kasih ❤