
Sudah lima hari sejak kepergian Rendra ke Denpasar. Ia rajin menghubungi Nia, saling mengirim pesan singkat, telepon, bahkan video call.
Dan sudah lima hari pula Nia mengalami penurunan nafsu makan. Ia sering menolak makanan yang disiapkan oleh Bi Habsya ataupun ART yang lain. Bukannya tidak berterima kasih ataupun tidak bersyukur, namun Nia seperti merasa ada yang hilang dan enggan untuk makan.
tok tok tok
Nia berjalan menuju arah pintu kamarnya. Ia membuka pintu dan terlihat Bi Habsya sedang berdiri di situ. Bi Habsya sedang membawa nampan berisi makanan.
Nia membuka lebar pintu kamarnya agar Bi Habsya bisa masuk ke dalam kamarnya.
" Kenapa repot - repot, Bi? Nanti Nia kan bisa turun ke bawah untuk makan. " ucap Nia.
Bi Habsya meletakkan nampan di meja kecil yang berada dekat tempat tidur.
" Nanti, Nona akan berkata tidak nafsu makan lagi. " jawab Bi Habsya.
" Kalau Nona Nia tidak mau makan, nanti jadi sakit lagi. " lanjut Bi Habsya.
" Bibi bisa sedih. " ucap Bi Habsya lagi.
Mata Nia berkaca - kaca mendengar ap yang baru saja diucapkan Bi Habsya. Ternyata orang - orang di sini sangat menyayangiku.
Nia berjalan menghampiri Bi Habsya. Kemudian Ia memeluk Bi Habsya, seolah Ia sedang memeluk ibunya sendiri.
" Bibi, terima kasih sudah merawatku seperti merawat keluaga sendiri. " ucap Nia.
" Sama - sama, " sahut Bi Habsya sambil membalas pelukan Nia.
" Sekarang dimakan dulu ya, nanti kalau sudah selesai, letakkan saja di depan kamar. Tidak usah dibawa ke bawah. " ucap Bi Habsya lembut.
Nia mengangguk. Kali ini aku akan memakannya sampai habis. Batinnya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Hari demi hari dijalani Nia tanpa Rendra. Perlakuan teman - teman kerjanya semakin menjadi. Tidak jarang mereka membully Nia secara terang - terangan.
Lala, Mira, Yudit, dan Nura. Mereka adalah empat orang yang sering terlibat project bersama dengan Nia. Namun, mereka jugalah yang paling sering menyindir Nia.
" Lala, apakah kemarin data yang aku butuhkan sudah siap? " tanya Nia pada Lala yang telrihat asik memainkan ponselnya di meja kerjanya.
Lala masih asik dengan ponselnya.
" Nanti. Bisa nanti kan? " Lala malah berbalik tanya kepada Nia.
" Tapi kan aku membutuhkannya segera. " jawab Nia.
" Kemarin kau menyanggupi hari ini. " lanjut Nia. " Hasilnya kan harus segera kuolah datanya untuk diserahkan besok pagi ke Bu Ratna. "
Tampak bola mata Lala berputar 360掳. Kemudian Lala meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja kerjanya.
" Ya kalau kau memang butuh cepat, kau kerjakan saja sendiri sekarang. " ucap Lala ketus.
Nia terkejut dengan jawaban Lala.
Biasanya Lala adalah orang yang sangat profesional dalam bekerja. Hasil pekerkaannya selalu cepat dan tepat. Kenapa dia jadi seperti ini.
Tidak ingin memperlama perdebatan, akhirnya Nia pun kembali ke meja kerjanya. Ia mencari sendiri hasil pekerjaan yang seharusnya Lala serahkan padanya. Ia berpikir, Ia tidak mau performa kerjanya menurun karena hal - hal receh seperti itu.
Nia mengerjakan pekerjaan hingga melewati jam makan siang. Ia tidak bisa membiarkan apapun menghambat pekerjaannya.
" Nia, kau tidak istirahat makan siang? " tanya Raya.
Nia masih fokus ke arah layar komputer di hadapannya. Kemudian Ia menoleh ke arah Raya,
" Aku harus menyelesaikannya kalau tidak mau kena masalah sama Bu Ratna. " ucap Raya memelas.
Raya berjalan memutar sehingga posisinya sekarang berada di belakang Nia. Ikut menghadap ke arah layar komputer.
" Bukannya ini pekerjaan Lala? " tanya Raya.
" Bukankah harusnya Lala menyerahkan hasil pekerjaannya yang ini kemudian baru kau olah datanya? " tanya Raya.
" Yaa, begitulah. " jawab Nia singkat sambil mengangkat kedua pundaknya bersamaan.
" Kenapa tidak kau adukan ke Bu Ratna? " tanya Raya.
" Keenakan dong dia. Nanti jadi kebiasaan. " ucap Raya lagi.
" Biarkan saja, aku butuh data cepat. " jawab Nia.
" Kali ini saja, aku akan bantu dia mengerjakan. " ucap Nia.
" Cih, padahal sedari tadi dia hanya memainkan ponselnya dan melihat - lihat akun sosial medianya. " ucap Raya kesal.
" Sudah, biarkan saja. " ucap Nia.
" Kau terlihat agak kurusan. " lanjut Raya. Wajahnya kini terlihat prihati.
Nia tergelak. " Benarkah? Berarti usaha dietku berhasil dong! " ucap Nia.
" Diet?! " ucap Raya setengah berteriak.
" Untuk apa kau diet? Badanmu sudah bagus! " ucap Raya. Lagi, setengah berteriak.
Nia beranjak dari duduknya dan menutup mulut Raya.
" Tidak usah berteriak. " ucap Nia sambil membungkam mulut Raya.
Raya terkekeh. Kemudian Nia melepas bungkamannya.
" Sudah ah! Aku mau kerja lagi. " ucap Nia.
" Yayaya, selamat bekerja Ibu Karunia Orchida. " ucap Raya kemudian Ia meninggalkan Nia yang mulai fokus lagi ke layar komputernya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
" Nia, " panggil Raya.
" Yah? " tanya Nia yang sudah mulai terlihat kusut.
" Sudah jam enam. Kau tidak pulang? '" tanya Raya.
Nia melihat ke arah jam tangannya.
" Wah iya, aku harus cepat menyelesaikannya. " Nia kembali fokus ke layar komputernya.
" Nia, pulang saja. Lanjutkan besok. " ucap Raya.
" Tidak bisa, Bu Ratna minta ini besok pagi sudah harus selesai. " ucap Nia.
" Yasudah. Jangan lupa makan. " ucap Raya.
" Aku pulang dulu ya. " ucap Raya.
" Iyah, hati - hati ya. " ucap Nia.
Kemudian Raya meninggalkan Nia sendirian di ruang kerja.
" Hh.. Nasib workaholic. " gumam Nia.
Setelah bekerja non stop, akhirnya pekerjaan Nia selesai juga.
Nia mengangkat kedua tangannya ke atas meregangkan otot - ototnya yang terasa kaku. Perutnya tiba - tiba terasa lapar.
" Ah, sekarang baru terasa laparnya. Tadi bekerja seperti tidak punya rasa lapar. " Nia bermonolog.
Ia membereskan semua barangnya. Kemudian Ia berjalan ke arah lift dengan perasaan lega. Aku pasti bisa tidur nyenyak malam ini. Batinnya.
Nia berjalan menuju ke tempat pedagang kaki lima berjualan. Ia ingin membeli makan sebelum pulang. Ia tidak ingin merepotkan ART dan Bi Habsya, jadi Ia ingin pulang dalam keadaan sudah kenyang.
Nia memutuskan untuk memesan seporsi sate ayam lengkap dengan lontong dan es jeruk. Ia membuka ponselnya dan tersenyum sendiri ketika melihat pesan masuk dari Rendra.
Sayup - sayup Ia dengar beberapa orang sedang mengobrol.
" Kau dengar kabar terbaru? " kata laki - laki berkaos hitam.
" Apa? " tanya laki - laki satunya.
" Kabarnya akan ada penggusuran di daerah O. " jawab si berkaos hitam.
" Kenapa? " tanya laki - laki lain yang baru bergabung dengan dua orang sebelumnya.
" Denger - denger, katanya mau dibangun pusat pabrik. Pabrik bahan kimia. " jawab si berkaos hitam.
" Padahal, di situ warganya sangat menjaga kelestarian lingkungan. Memang posisinya agak pinggir kota, tapi kan warga di sana menjaga lingkungan dengan baik. " lanjutnya.
" Dan lebih herannya lagi, si anak pewaris Hartawan tidak melakukan apa - apa. Padahal almarhum bapaknya penggerak komunitas peduli lingkungan. " lanjutnya lagi.
" Padahalnya lagi, di dekat situ katanya adalah wilayah kekuasaan Hartawan yang lain. " ucap si kaos hitam.
" Wah, kenapa bisa gitu? Ternyata buah bisa saja jatuh jauh dari pohon ini. " celetuk laki - laki berambut ikal disambut tawa oleh yang lainnya.
Nia terdiam. Ia tahu betul daerah O adalah tempat yang indah. Warga di sana bahkan membangun lahan untuk budidaya sayuran dan bunga secara swadaya. Pohon - pohon pun sangat dijaga.
Hartawan? Apa yang dimaksud orang tua Rendra. Apakah Rendra tidak tahu akan hal ini? Apa aku harus memberi tahunya? Ah tidak, aku yakin secepatnya dia akan tahu dengan sendirinya. Batin Nia.
Tak lama, pesanan Nia datang dan Ia pun menikmati makanan yang Ia pesan.