
Selamat Membaca ~
Tommy mengendap masuk ke dalam sebuah ruangan berukuran kecil. Ia merogoh sakunya, meraih ponsel dengan terburu - buru. Ia harus segera memberi tahu Rendra tentang rencana Jason. Rendra dan Karunia sedang berada dalam bahaya.
Sialnya, Ia lupa menyimpan nomor Rendra dengan nama apa di ponselnya. Ia menyamarkan nama kontak Rendra agar jika sewaktu - waktu ponselnya dibuka orang lain orang itu tidak akan tahu siapa yang sedang dihubungi oleh Tommy.
Tiba - tiba pintu ruangan kecil itu terbuka, Jason sudah berada di sana dengan senyum sinisnya. Dua orang laki - laki bertubuh kekar berada di belakangnya.
" Kemarikan ponselmu! " seru Jason kemudian merebut ponsel yang sedang dipegang oleh Tommy.
Tommy hanya bisa pasrah, saat ini nyawanya sendiri dalam bahaya. Jason sangat tidak bisa menolerir pengkhianatan. Baginya, pengkhianatan adalah suatu hal yang sangat menjijikkan dan tidak patut mendapat pengampunan.
Jason membaca isi ponsel Tommy yang sudah terketik sebagian informasi yang akan dikirimkan ke Rendra.
Ia mengalihkan pandangan ke arah Tommy dengan wajah sinis. Kemudian Ia memberi kode kepada 2 orang laki - laki bertubuh kekar itu untuk membawa Tommy keluar dari ruangan itu.
" Anda mau bawa saya ke mana, Tuan? " tanya Tommy yang sudah mulai panik.
Jason mengabaikan pertanyaan Tommy.
" Beri dia pelajaran. " perintah Jason pada 2 laki - laki kekar itu.
Kedua laki - laki kekar itu menyeret Tommy menuju ruang bawah tanah yang ada di rumah itu. Sesuai dengan perintah Jason, mereka memberi Tommy pelajaran. Mereka menghajar Tommy hingga Tommy tidak sadarkan diri.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Pagi menjelang, Tommy mulai tersadar dari pingsannya.
Tubuhnya terasa sakit pada seluruh bagiannya. Kepalanya sakit, ujung bibirnya terasa ngilu. Ia menyeka cairan yang Ia kira keringat yang sedang mengalir di pelipisnya. Namun ternyata, itu adalah buliran darah yang mengalir dari ujung pelipisnya.
Ia teringat kemarin dua orang laki - laki bertubuh kekar menghajarnya habis - habisan. Tidak memberinya kesempatan untuk sekedar memperbaiki posisi duduknya.
Tiba - tiba Jason masuk ke dalam ruangan bawah tanah tempat Tommy sedang disekap.
Ia datang dengan senyum sinis yang begitu kentara.
" Selamat pagi pengkhianat! " sapa Jason dengan nada mengejek.
Ia menarik sebuah kursi plastik dan menghadapkannya di hadapan Tommy. Kemudian Ia duduk di kursi plastik itu dan menatap Tommy dengan tatapan jijik.
" Hei pengkhianat! " seru Jason.
Tommy bergeming, Ia hanya terdiam dengan mata yang maish menatap ke arah Jason.
Bugh!
Jason mendaratkan sebuah bogeman tepat pada pipi kanan Tommy hingga Ia meringis kesakitan.
Jason menyeringai.
" Pengkhianat! Dasar manusia tidak tahu malu! Manusia tidak tahu balas budi! " ucap Jason.
Plak!
Jason menampar bagian wajah Tommy yang lain.
" Hei manusia tidak tahu diuntung! " hardik Jason penuh kekesalan.
" Seharusnya sebelum kau memutuskan untuk berkhianat dariku, kau ingat - ingat dulu darimana asal - usulmu dulu! " bentak Jason.
" Orang tuamu dulu dirawat oleh orang tuaku! Orang tuaku memungut orang tuamu yang sudah seperti sampah, dan telah dibuang oleh komunitas! " bentak Jason lagi.
" Dan kau! Orang tuaku bahkan menyekolahkanmu di sekolah yang sama denganku! Sekolah anak - anak kaya yang mana, kau si anak tidak punya apa - apa tidak akan pernah bisa masuk ke sekolah itu! " lanjutnya.
" Pikir - pikir dahulu sebelum kau melakukan pengkhianatan padaku! Tanpa aku dan keluargaku, sekarang kau pasti hanya seorang yang bernasib seperti tikus got! " lanjut Jason, masih dengan nada membentak.
" Maafkan saya, Tuan. " ucap Tommy memelas.
Jason menarik rambut Tommy ke arah belakang dan mendekatkan wajahnya.
" Kali ini aku ampuni kau, Tommy. Tapi lain kali, coba saja kau cari masalah lagi padaku. Akan kuhabisi betul Kau! " ancam Jason.
" Baik, Tuan. " sahut Tommy.
Jason kemudian melepas cengkeraman tangannya dari rambut Tommy.
" Lain kali, berpikir lagi jika kau mau bersikap! Seharusnya kau berpihak padaku! Bukan Narendra! " gertak Jason kemudian pergi meninggalkan Tommy yang wajah dan tubuhnya babak belur.
Tommy menundukkan kepalanya, merasakan perih pada luka di sekujur tubuh dan wajahnya. Memikirkan perkataan Jason tadi, dan tentang apa yang harus Ia lakukan ke depannya. Mendapat pelajaran semalam rupanya membuatnya lebih mengerti, menurut saja agar mendapat jaminan keselamatan.
Saat ini, Ia merasa seperti dalam kebimbangan. Antara rasa kemanusiaan dan juga kesetiaan yang berada dalam ancaman. Ia terpaksa memilih salah satu di antaranya.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Sementara itu, di The Orchida ~
Nia datang untuk memeriksa keadaan studuo miliknya setelah tidak bekerja lebih dari satu bulan. Kini Ia merasa lebih baik, Ia mengonsumsi obat anti mual dan muntah dari dokter Maria. Walau terkadang masih saja mengalami morning sickness, setidaknya tidak separah saat Ia tidak mengonsumsi obat - obatan itu.
Ia begitu sumringah ketika mendapat ucapan selamat dari seluruh staffnya. Sepertinya, rasa bahagia kehamilannya menular kepada seluruh staffnya, termasuk Raya dan Sarah.
Sarah bahkan dengan sukarela menawarkan untuk mengantar jemput Nia setiap hari. Yah, bekerja di perusahaan miliknya sendiri membuatnya bebas mau datang dan pulang kerja kapan pun Ia ingin.
Rendra pun merasa lebih tenang ketika Sarah mengajukan diri untuk selalu mendampingi Nia. Mereka memang sudah bersahabat, dan sekarang ada Raya yang juga membantu menjaga Nia selama Nia berada di studio.
" Selamat atas kehamilan pertama Anda, Nyonya. " sambut staffnya pagi ini.
Seorang staff wanita menyerahkan sebuah bouqet bunga lily berwarna putih dan merah muda.
" Terima kasih, terima kasih. " jawab Nia sumringah.
" Hari ini, tidak perlu pesan makan siang ya. Aku akan memesankan makan siang untuk kita makan siang bersama hari ini. " ucap Nia yang disambut riuh antusias seluruh staffnya.
" Lalu bagaimana dengan aku? " tanya Sarah.
" Aku kan sedang bekerja, kau tidak mengajakku makan siang juga? " tanyanya lagi.
" Kau, kemari saja. Kita makan siang bersama Ya kan, Raya? " timpal Nia.
" Ya, datang saja kemari. " sahut Raya bersemangat. " Kita makan siang bersama. "
" Aku tidak bisa, aku ada luch meeting dengan klien sampai jam 3. Baru kemudian aku akan ke sini menjemput Nia. " ucap Sarah dengan wajah memelas.
" Bagaimana kalau, kita snacking saja setelah jam pulang kerja? " usul Raya.
" Hm, boleh juga. Aku tiba - tiba ingin makan korean street food. " ucap Sarah.
" Baiklah, usul Anda diterima. " sahut Nia.
" Baiklah, sampai ketemu nanti sore. Aku ke kantor dulu yaaa.... " pamit Sarah.
" Hati - hati Sarah, " ucap Nia dan Raya seraya melambaikan tangan mereka kompak.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Selamat membaca, dan mohon dukungannya teman - teman readers ❤