Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 100. Sakit?



Selamat Membaca ~


Nia melahap habis bubur kacang hijau yang disiapkan oleh Bi Habsya. Rendra tersenyum melihat Nia menghabiskan bubur kacang hijau itu dengan cepat. Biasanya Nia makan dengan pelan dan tenang, tapi tidak kali ini. Bahkan tidak tersisa sedikitpun bubur kacang hijau di manhkok berukuran sedang itu.


" Apakah sangat enak? " tanya Rendra.


Nia mengangguk bersemangat. " Rasanya enak dan hangat, membuat perutku merasa lebih nyaman. " jawab Nia sambil menepuk pelN perutnya.


Rendra tersenyum mendengar jawaban Nia. Syukurlah jika Ia merasa enakan, batinnya.


Baru saja berkata perutnya merasa enakan, Nia merasa perutnya bergejolak lagi. Makanan rasanya kembali ke atas dan siap dimuntahkan lagi. Sekali lagi, Ia berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Ia memuntahkan semua makanan yang Ia makan, termasuk roti bawang dan kacang hijau yang baru Ia makan. Rendra menepuk pelan punggung Nia saat Nia memuntahkan semua isi perutnya.


Setelah selesai, Rendra membantu Nia kembali ke tempat tidur.


" Sayang, apa kau yakin aku tidak perlu memanggil Silva ke sini? " tanya Rendra.


Nia mengangguk. " Aku hanya masuk angin sayang, lagipula ini hari libur. Biarkan Dokter Silva istirahat. "


" Kau yakin? " tanya Rendra lagi memastikan.


Nia mengangguk. " Aku akan baikan setelah memakain ini dan beristirahat. " jawab Nia seraya membalurkan minyak kayu putih ke perutnya.


" Aku akan meminta Bi Habsya membawakanmu bubur kacang hijau lagi. " ucap Rendea kemudian beranjak dari sisi tempat tidur namun ditahan oleh Nia.


" Tidak usah, perutku terasa tidak nyaman. Aku akan tidur saja. " ucap Nia.


" Yasudah kalau maumu begitu. Sekarang beristirahaah. " ucap Rendra kemudian mengecup kening Nia.


Nia pun tertidur dengan cepat dalam pelukan Rendra.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


suara dering ponsel Rendra


Rendra terkesiap. Ia mengerjapkan matanya meraih ponsel yanh berada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Ia melihat Nia masih tertidur dengan lelap.


Perlahan, Ia beranjak dan berjalan menuju balkon. Ia tidak ingin Nia terbangun.


" Katakan, " ucap Rendra setelah menerima panggilan.


Ia mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh orang itu. Sesekali menganggukkan kepalanya.


" Besok temui aku di ruanganku. Di Hartawan Group. " ucapnya.


Kemudian Ia mengakhiri panggilan.


Ia memegang ponselnya, sedikit mencengkeramnya. Kepalanya terangkat ke atas.


Orang itu benar - benar tidak ada kapoknya. Apa lagi sebetulnya yang Ia rencanakan. Batinnya.


" Sayang... " panggil Nia dengan suara serak dari dalam.


Rendra segera menghampiri Nia.


" Kau sudah bangun? " tanya Rendra.


Nia menjawab dengan anggukan. Tubuhnya terasa sangat lemas dan tidak bertenaga.


" Aku akan minta Bi Habsya membawa makan siang ke kamar. Jika sampai nanti sore kau masih seperti lemas seperti ini, aku akan panggil Silva kemari. " ucap Rendra.


Nia membalas dengan anggukan lemah lagi. Tidak ada gunanya berdebat dengan Rendra mengenai hal ini. Ia memang butuh pertolongan dokter di saat seperti ini.


" Aku akan ke bawah sebentar. Ada hal yang harus aku periksa. " ucap Rendra yang sekali lagi, hanya dibalas dengan anggukan lemah.


Rendra pun berlalu meninggalkan Nia yang masih lemas di atas tempat tidur.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


" Di mana dua orang itu? " tanya Rendra pada penjaga.


" Mereka sudah menunggu Anda di belakang, Tuan. " jawab penjaga itu.


" Baiklah, " sahut Rendra.


Kemudian Ia pun berjalan ke arah belakang di mana 'mereka' yang dimaksud sedang menunggunya.


Rendra tidak menjawab, Ia langsung duduk di kursi yang berada di bawah payung.


" Kalian tau, kenapa kalian kupanggil? " tanya Rendra.


Kedua orang itu kompak menggelengkan kepalanya.


" Baiklah akan aku jelaskan. " ucap Rendra sembari memperbaiki posisi duduknya.


" Jason telah kembali ke Indonesia sejak bulan lalu, saat Tommy dan Derry bebas dari penjara. " jelas Rendra.


Kedua orang itu terkejut, benar - benar si Jason itu tidak punya rasa kapok. Batin salah satu dari mereka.


" Tommy menginformasikan, Jason sedang merencanakan suatu pembalasan dan aku yakin akulah yang menjadi sasaran utamanya. Dan bukan tidak mungkin juga Nia tidak akan terimbas. " lanjutnya.


" Saat ini, pihak Jason telah mengetahui dengan jelas dan detail siapa semua penjaga yang telah aku pasang dan yang merupakan orang terdekatku. " lanjutnya lagi.


" Tapi kalian, walau kalian sudah pernah terlibat dalam penangkapan Jason dan antek - anteknya. Aku yakin kalian tidaklah yang menonjol di antara yang lain. Karena kalian, selalu menggunakan penyamaran dan wajah kalian, terlihat masih seperti anak sekolah. Jadi, aku perlu bantuan kalian. " ucap Rendra bersungguh - sungguh.


" Pertolongan apa itu Tuan? Jika ini terkait dengan Nona Karunia, kami siap melakukan apapun. " tanya salah satu mereka, yaitu Jessie.


" Betul Tuan, " sahut Andra.


Rendra tersenyum mendengar jawaban Andra dan Jessie. Memang benar, mereka sungguh menyayangi Nia seperti keluarga sendiri.


" Aku ingin, kalian pergilah ke Finlandia. Temui petingginya melalui delegasi negara kita yang berada di sana, kabarkan jika Jason melanggar hukumannya. Andreas akan menyiapkan berkas - berkas yang harus kalian tunjukkan sebagai bukti, dan anak buah Anton yang lain akan mengawal kalian dari jauh. " perintah Rendra.


Andra dan Jessie terkejut, mereka belum pernah keluar negeri dengan jarak sejauh itu.


" Tenang saja, delegasi di sana adalah orang yang cukup dekat dengan mendiang ayahku. Ia telah menjamin keselamatan kalian untukku. " ucap Rendra seolah membaca kekhawatiran pada wajah Jessie dan Andra.


" Kapan kami harus berangkat? " tanya Andra.


" Lusa. " jawab Rendra.


" Tapi Tuan, saya tidak memiliki visa. " sahut Jessie.


" Semua sudah Andreas siapkan. Tenang saja. " jawab Rendra.


" Apakah Tuan Andreas akan ikut dengan kami? " tanya Andra.


" Tidak, dia hanya akan menyiapkan semua keperluan kalian. Aku yakin semuanya tidak akan ada kekurangannya. " sahut Rendra.


Andra dan Jessie tampak sedang berpikir.


" Baik Tuan, Saya bersedia berangkat! " ucap Jessie bersemangat.


" Saya juga, Tuan! " imbuh Andra bersemangat.


Rendra tersenyum simpul mendengar jawaban mereka.


" Bagus. Sekarang kalian pulanglah dan persiapkan diri kalian. Nanti malam Anton akan menemui kalian. " ucap Rendra.


" Baik Tuan, " jawab Andra dan Jessie bersamaan.


Setelah menjelaskan hal tadi, Rendra beranjak meninggalkan Andra dan Jessie. Ia berjalan kembali ke kamarnya, hendak menemui Nia yang tetap terlelap saat Ia tinggalkan tadi.


Sudah hampir malam, Ia dan Nia bahkan melewatkan jam makan siang. Apalagi tadi Nia hanya makan bubur kacang hijau, itu pun Ia muntahkan lagi.


Rendra membuka pintu kamarnya perlahan, dan menutupnya. Dilihatnya Nia sudah tidak berada di tempat tidur.


Ke mana Dia pergi? Gumamnya.


Ia berjalan menuju balkon, tidak ada orang di situ. Ia memeriksa ruang ganti, Ia juga tidak melihat Nia di dalam.


Akhirnya Ia memutuskan untuk memeriksa kamar mandi. Ia menempelkan telinga ke pintu, tidak ada suara. Ia mencoba membuka pintu namun terkunci. Perasaannya tidak tenang, Ia pun memutuskan membuka paksa pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam. Benar saja, Nia tergeletak di dekat bath up.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Halo, mohon maaf karena kemaren penukis tidak up. Kemarin penulis sedang tidak enak badan 馃様


InsyaAllah akan lebih rajin up, penulis juga sudah tidak sabar menuju puncak cerita dan endingnya gimana nih Rendra dan Nia. Sudah sangat tidak sabar.


Biar penulis makin semangat up, jangan lupa dukung penulis terus yaa