Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part. 116 Bertemu Pak Abdul



Selamat Membaca ~


Seperti yang telah dijanjikan, Rendra ditemani Andreas dan Anton bertemu dengan Pak Abdul di xx.


Rendra, Andreas, dan Anton sengaja tidak turun dari mobil dan mengawasi area sekitar xx. Mengantisipasi jika terjadi hal - hal yang tidak diinginkan. Bisa jadi, seseorang yang mengaku sebagai Abdul ini adalah orang yang ingin mengambil keuntungan saja bukan?


Setelah menunggu sekitar beberapa menit sebuah mobil taksi yang sudah cukup tua dan berwarna biru muda berhenti di sekitar xx. Seorang laki - laki paruh baya, mungkin berusia sekitar 50 tahun ke atas keluar dari mobil taksi itu.


Orang itu mengenakan pakaian seragam sopir taksi yang warnanya sudah mulai pudar. Rambutnya yang mulai memutih menunjukkan bahwa Ia sudah tidak muda lagi.


Setelah memastikan keadaan aman, Rendra dan Andreas turun dari mobil. Sementara, Anton tetap mengawasi dari keadaan di luar bangunan xx dari dalam mobil.


Laki - laki paruh baya itu tampak duduk dengan tenang sambil memegang ponselnya yang ternyata model lama.


Rendra dan Andreas menghampiri Pak Abdul dan segera menarik kursi di hadapan Pak Abdul. Saat ini, ketiganya duduk bersama saling berhadapan.


" Saya Narendra. " ucap Rendra.


" Ini saudara saya, Andreas. " ucap Rendra memperkenalkan Andreas. Andreas menganggukkan kepala ke arah Pak Abdul.


" Saya Abdul, Tuan. " ucap Pak Abdul.


" Bisa tolong segera sampaikan apa yang ingin Anda katakan? " tanya Rendra to the point. Ia sudah tidak sabar mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh laki - laki yang mengaku bernsma Abdul ini.


" Baiklah Tuan. " sahut Pak Abdul.


" Malam itu, sekitar pukul 11 malam lebih, hampir setengah 12 malam. Saya masih keliling mencari penumpang karena saya masih kurang jumlah setoran. Saat saya melewati dekat area mansion keluarga Pak Hartawan, seorang wanita menghentikan saya untuk menjadi penumpang saya. " cerita Pak Abdul.


" Apakah wanita yang Anda maksud adalah ini? " tanya Rendra seraya menunjukkan foto Nia dari ponselnya.


Pak Abdul mengamati dengan teliti. Kemudian Ia menganggukkan kepalanya. " Iya betul, wanita itu adalah yang ini. " jawab Pak Abdul.


" Saya tidak sempat bertanya siapa namanya. Tapi yang saya tahu, wanita itu adalah orang yang baik. Bahasanya santun dan sikapnya sangat baik. Tapi saya merasa ada yang aneh, Ia seperti sedang ketakutan. " kenangnya, mengingat ekspresi pada wajah Nia yang memang saat itu seperti sedang cemas dan takut.


" Lalu? " tanya Andreas.


" Ia meminta saya mengantar ke area pertokoan yang sudah terbengkalai. Saya hanya menurut saja, saya tidak bernai bertanya. Takut dikira mencampuri urusan orang. " lanjut Pak Abdul.


" Setelah sampai di tujuan, wanita itu memberi saya uang cukup banyak. Saya sudah menawarkan untuk menemani sampai temannya datang karena wanita itu mengatakan akan bertemu dan dijemput oleh temannya. "


" Wanita itu bersikeras menolak dengan halus. Akhirnya dengan enggan, saya biarkan wanita itu turun dari mobil taksi saya dan meninggalkan wanita itu. "


" Tapi, saya tidak benar - benar pergi Tuan. "


" Jadi Anda mengawasinya? " tanya Rendra.


" Iya, Tuan. Saya merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Jadi saya sengaja mematikan lampu dan mesin mobil. Menunggu di dekat bangunan yang sudah kosong dan mengawasi dari jauh. Saya tidak tega, Tuan. Teringat anak perempuan daya di desa. " ucap Pak Abdul panjang lebar.


" Lalu apa ada yang menjemput wanita itu? " tanya Andreas.


" Iya, Tuan. Ada. Tapi aneh, yang menjemput adalah seorang laki - laki bertubuh besar dan tegap. Wanita itu terlihat ketakutan saat orang itu datang. " jawab Pak Abdul.


" Kendaraan itu mengarah ke Kota I dan menuju ke pelabuhan. Di tengah jalan ada sebuah barang yang dilempar ke luar dari mobil tapi saya tidak sempat memeriksa apa yang jatuh karena saya takut tertinggal mobil itu. " lanjutnya.


" Dan betul dugaan saya, mobil itu masuk ke area pelabuhan. Saya tidak bisa lanjut untuk mengikuti. Jadi saya memarkirkan mobil saya dan berjalan masuk mengikuti. "


Rendra dan Andreas mendengarkan dengan penuh seksama. Nia memang orang baik, bahkan oranh asing pun juga ikut berusaha menjaganya.


" Mobil hitam itu masuk ke dalam sebuah bangunan seperti gudang dengan pengawalan yang ketat. Jadi saya tidak bisa ke sana. " lanjut Pak Abdul.


Nampak ekspresi kecewa pada wajah Rendra. Yah, tapi mau bagaimana lagi. Akan lebih membahayakan jika Pak Abdul nekat mengikuti mobil hitam itu. Berbahaya bagi Pak Abdul, juga berbahaya bagi Nia.


" Tapi saya tidak kehabisan ide, saya mencari orang yang bisa saya tanya. Apa yang ada di dalam situ. " Pak Abdul menyilangkan tangannya di atas meja.


" Saya mendapat informasi, bahwa gudang itu disewa atas nama PT. Angkasa sejak dua tahun yang lalu. Dan PT. Angkasa akan melakukan pengiriman besar - besaran malam itu ke Rusia. " lanjut Pak Abdul.


Rendra dan Andreas seketika bernapas lega. Setidaknya ada titik terang ke mana mereka membawa Nia dan Sarah.


" Karena kemudian saya tidak bisa melakukan apapun, dan saya juga tidak tahu harus bagaimana setelah mendapat informasi itu saya kembali ke rumah. " imbuh Pak Abdul.


" PT. Angkasa? " tanya Rendra.


" Jangan bilang jika ini adalah PT. Angkasa yang sudah aku ketahui. " ucap Rendra.


" Saya pun takut seperti itu. " sahut Andreas.


" Pastikan lagi, Andreas. Termasuk apakah benar mereka melakukan pengiriman ke Rusia. " perintah Rendra.


" Baik. " sahut Andreas lagi.


" Lalu, bagaimana Anda bisa menghubungi saya? " tanya Rendra.


" Keesokan harinya, saya berniat membelanjakan uang yang saya terima dari wanita itu. " jawab Pak Abdul namun kemudian dipotong oleh Rendra.


" Nia, namanya Karunia. " ucap Rendra.


" Karunia? Nama yang sangat bagus. " puji Pak Abdul.


" Saat itu saya sedang ada di minimarket untuk berbelanja. Saat berada di kasir, saat saya membayar, kasir melakukan pemeriksaan uang. Mereka memeriksanya di bawah lampu, saya tidak tahu namanya apa. " kemudian Pak Abdul membetulkan posisi duduknya lagi.


" Saya sempat melihat seperti ada tulisan pada lembaran uangnya. " lanjutnya.


" Awalnya saya ragu untuk meminta kasir memeriksanya ulang. Karena pada saat setelah diperiksa, ternyata lembaran uang itu bersih. Tidak ada coretan sama sekali. "


" Tapi saya memberanikan diri untuk meminta kasir melakukan pemeriksaan ulang ke uang itu. Karena penasaran, akhirnya saya meminta kasir untuk memeriksa semua uang yang diberi oleh Non Karunia. Dan benar saja, setiap lembar uang ada tulisannya. "


" Setelah semua diperiksa ulang, saya mencatat semua isi tulisan itu. Dan dari situlah saya mendapatkan nomor telepon Anda. "


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍